NUZULUL ZULKARNAIN HAQ

Nuzulul Zulkarnain Haq

Statistik

My Project

    Download My Project

    Hook FolderLocker 1.0 adalah software security yang berguna untuk mengunci folder penting, folder rahasia, dsb. Pengguna dapat menambahkan password ke dalam folder agar tidak dapat dibuka oleh sembarang orang.Dengan software ini data data anda akan terlindungi dengan aman. Gunakanlah dengan bijak sesuai kebutuhan anda.

    Download : Hook FolderLocker


    Hook Anticopy 2.0 . Pernahkah data di komputer saudara di copy oleh orang lain tanpa seizin dari saudara? pastinya sebel banget dengan orang itu, apalagi kalau data yang dicuri adalah data penting yang gak ingin jatuh ketangan orang lain. nah sekarang saudara ndak perlu kuatir. dengan software ini data saudara ndak akan bisa lagi di copy ke flashdisk, hardisk external, cd dvd , disket , memory, dll.

    Download : Hook AntiCopy


    Onfreeze SMS Gateway 1.3 . Freeware. Size = 455 KB. Program yang berguna untuk mengirim sms masal dengan mudah seperti untuk pengumuman, promosi , dsb lewat komputer. Program ini bersifat freeware. Alat yang dibutuhkan hp GSM atau modem GSM yang terkoneksi ke komputer bisa lewat kabel atau bluetooth.

    Download : OnefreezeSMSgateway


    Portable Webcam 1.0 . Software alternatif untuk memakai webcam, tersedia gratis untuk di pakai simple dan mudah digunakan (286 KB) . Bisa di pakai untuk winXP, Vista, Seven.

    Download : Portable Webcam


Askep Sialadenitis

diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 14 October 2011
di Kep Pencernaan - 3 komentar

ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) SIALADENITIS

NUZULUL ZULKARNAIN HAQ

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Kelenjar ludah mengandung jaringan tabung kecil yang disebut saluran. Air liur mengalir melalui saluran tersebut ke dalam mulut. Jika aliran dikurangi atau dihentikan karena alasan tertentu, bakteri bisa tumbuh. Sialadenitis paling sering terjadi pada kelenjar parotis (di depan telinga) dan kelenjar submandibular (di bawah dagu). Sialadenitis terjadi paling sering pada orang dengan kombinasi sebagai berikut: usia yang lebih tua (terakhir 50), lemah dari penyakit atau mengalami dehidrasi, mulut kering (xerostomia). Aliran air liur dapat dikurangi pada orang yang sakit atau sembuh dari operasi, atau pada orang tua tertentu. Sebuah batu (sialolith) atau suatu ketegaran dalam saluran juga dapat mengurangi aliran air liur. Orang menjalani pengobatan untuk kanker juga rentan terhadap infeksi ini.

Kelenjar submandibula ikut terserang pada 13% keadaan dengan serangan bilateral pada 5% keadaan. Serangan pada kelenjar submandibula, tanpa disertai serangan pada kelenjar parotid merupakan perkecualian serta terjadi pada 1% keadaan. Serangan pada kelenjar submandibula sering berhubungan dengan edema serta dapat meluas menjadi edema presternal. Pembengkakan kelenjar ludahbelangsung selama satu minggu.

Sialadenitis terjadi karena penurunan fungsi duktus oleh karena infeksi, penyumbatan atau trauma menyebabkan aliran saliva akan berkurang atau bahkan terhenti. Batu ludah paling sering didapatkan di kelenjar submandibula. Pada glandula utama, gangguan sekresi akan menyebabkan stasis (penghentian atau penurunan aliran) dengan inspissations (pengentalan atau penumpukan) yang seringkali menimbulkan infeksi atau peradangan. Glandula saliva utama yang mengalami gengguan aliran saliva akan mudah mengalami serangan organism melalui duktus atau pengumpulan organism yang terbawa aliran darah.

Periode akut dapat dikontrol dengan kombinasi antibiotic. Pada keadaan yang lebih parah, gejala yang ada dapat dikontrol dengan pengikatan duktus atau parotidektomi permukaan. Setelah saldo cairan telah dipulihkan, dapat direkomendasikan permen asam tanpa gula atau permen. Mereka dapat merangsang tubuh memproduksi air liur lebih banyak. Jika infeksi tidak membaik, Anda mungkin memerlukan pembedahan untuk membuka dan tiriskan kelenjar. Jika sialadenitis disebabkan oleh batu di saluran, batu itu mungkin perlu dihilangkan dengan operasi. Untuk dapat menangani Sialadenitis dengan baik diperlukan pengetahuan yang baik pula. Sebagai seorang perawat hendaknya dapat merencanakan asuhan yang akan diberikan beserta Intervensi yang sesuai bagi penderita Sialadenitis.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian dari Sialadenitis?
  2. Apa penyebab dari Sialadenitis?
  3. Bagaimana klasifikasi dari Sialadenitis?
  4. Bagaimana gejala yang terjadi karena Sialadenitis?
  5. Bagaimana proses terjadinya Sialadenitis?
  6. Bagaimana penatalaksanaan Sialadenitis?
  7. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada klien dengan Sialadenitis?
  8. Bagaimana WOC (Web of Caustion) pada klien dengan Sialadenitis?
  9. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada klien dengan Sialadenitis (Pengkajian, Diagnosis dan Intervensi)?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Memahami asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan kelenjar saliva yaitu Sialadenitis.

1.3.2 Tujuan Khusus

  1. Memahami pengertian dari Sialadenitis.
  2. Mengetahui penyebab dari Sialadenitis.
  3. Menetahui klasifikasi dari Sialadenitis.
  4. Mengetahui gejala yang terjadi karena Sialadenitis.
  5. Mengetahui proses terjadinya Sialadenitis.
  6. Mengetaui penatalaksanaan Sialadenitis.
  7. Mengetahui pemeriksaan penunjang pada klien dengan Sialadenitis.
  8. Mengetahui WOC (Web of Caustion) pada klien dengan Sialadenitis.
  9. 9.      Mengetahui asuhan keperawatan yang akan diberikan pada anak dengan Sialadenitis.

1.4 Manfaat

Dengan adanya makalah ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami dan membuat asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan kelenjar saliva yaitu sialadenitis, serta mampu mengimplementasikannya dalam proses keperawatan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Definisi Sialadenitis

Sialadenitis adalah infeksi berulang-ulang di glandula submandibularis yang dapat diserati adanya batu (sialolith) atau penyumbatan. Biasanya sistem duktus menderita kerusakan, jadi serangan tunggal sialadentis submandibularis jarang terjadi. Kelenjar ini terasa panas, membengkak, nyeri tekan dan merupakan tempat serangan nyeri hebat sewaktu makan. Pembentukan abses dapat terjadi didalam kelenjar maupun duktus. Sering terdapat batu tunggal atau multiple (Gordon, 1996).

Sialadenitis merupakan keadaan klinis yang lebih sering daripada pembengkakan parotid rekuren dan berhubungan erat dengan penyumbatan batu duktus submandibularis. Penyumbatan tersebut biasanya hanya sebagian dan oleh karena itu gejala yang timbul berupa rasa sakit postpradial dan pembengkakan. Kadang-kadang infeksi sekunder menimbulkan sialadenitis kronis pada kelenjar yang tersumbat tersebut, tetapi keadaan ini jarang terjadi. Kadang-kadang pembengkakan rekuren disebabkan oleh neoplasma yang terletak dalam kelenjar sehingga penyumbatan duktus (Gordon,1996).

2.2 Etiologi Sialadenitis

Sialadenitis biasanya terjadi setelah obstruksi tetapi dapat berkembang tanpa penyebab yang jelas. Peradangan kronis dapat terjadi pada parenkim kelenjar atau duktus seperti batu (sialolithiasis) yang disebabkan karena infeksi (sialodochitis) dari Staphylococcus aureus, Streptococcus viridians atau pneumococcus. Selain itu terdapat komponen obstruksi skunder dari kalkulus air liur dan trauma pada kelenjar. Faktor risiko yang dapat mengakibatkan sialadenitis antara lain dehidrasi, terapi radiasi, stress, malnutrisi dan hiegine oral yang tidak tepat misalnya pada orang tua, orang sakit, dan operasi (Gordon, 1996).

2.3 Klasifikasi Sialadenitis

a. Sialadenitis akut

Sialadenitis akut akan terlihat secara klinik sebagai pembengkakan atau pembesaran glandula dan salurannya dengan disertai nyeri tekan dan rasa tidak nyaman serta sering juga diikuti dengan demam dan lesu. Diagnosis dari keadaan sumbatan biasanya lebih mudah ditentukan dengan berdasar pada keluhan subjektif dan gambaran klinis. Penderita yang terkena sialadenitis akut seringkali dalam kondisi menderita dengan pembengkakan yang besar dari glandula yang terkena. Regio yang terkena sangat nyeri bila dipalpasi dan sedikit terasa lebih hangat dibandingkan daerah dekatnya yang tidak terkena. Pemeriksaan muara duktus akan menunjukkan adanya peradangan, dan jika terliaht ada aliran saliva, biasanya keruh dan purulen.

Pasien biasanya demam dan hitung darah lengkap menunjukkan leukositosis yang merupakan tanda proses infeksi akut. Pemijatan glandula atau duktus (untuk mengeluarkan secret) tidak dibenarkan dan tidak akan bisa ditolerir oleh pasien. Probing (pelebaran duktus) juga merupakan kotraindikasi karena kemungkinan terjadinya inokulasi yang lebih dalam atau masuknya organism lain, yang merupakan tindakan yang harus dihindarkan. Sialografi yaitu pemeriksan glandula secara radiografis mensuplai medium kontras yang mengandung iodine, juga sebaiknya ditunda. Bila terdapat bahan purulen, dilakukan kultur aerob dan abaerob (Gordon, 1996).

b. Sialadenitis kronis

Infeksi atau sumbatan kronis membutuhkan pemeriksaan yang lebih menyeluruh, yang meliputi probing, pemijatan glandula dan pemeriksaan radiografi. Palpasi pada glandula saliva mayor yang mengalami keradangan kronis dan tidak nyeri merupakan  indikasi dan seringkali menunjukkan adanya perubahan atrofik dan kadang-kadang fibrosis noduler. Sialadenitis kronis seringkali timbul apabila infeksi akut telah menyebabkan kerusakan atau pembentukan  jaringan parut atau pembentukan jaringan parut atau perubahan fibrotic pada glandula.

Tampaknya glandula yang terkena tersebut rentan atau peka terhadap proses infeksi lanjutan. Seperti pada sialadenotis akut, perawatan yang dipilih adalah kultur saliva dari glandula yang terlibat dan pemberian antibiotic yang sesuai. Probing atau pelebaran duktus akan sangat membantu jika sialolit ini menyebabkan penyempitan duktus sehingga menghalangi aliran bebas dari saliva. Bila kasus infeksi kronis ini berulang-ulang terjadi, maka diperlukan sialografi dan pemerasan untuk mengevaluasi fungsi glandula. Jika terlihat adanya kerusakan glandula yang cukup besar, perlu dilakukan ekstirpasi glandula. Pengambilan submandibularis tidak membawa tingkat kesulitan bedah dan kemungkinan timbulnya rasa sakit sebagaimana  pengambilan glandula parotidea. Karena kedekatannya dengan n. facialis dan kemungkinan cedera selama pembedahan, maka glandula parotidea yang mengalami gangguan biasanya dipertahankan lebih lama daripaa jika kerusakan mengenai glandula submandibula (Gordon, 1996).

c. Sialadenetis supuratif

Sialadenitis supuratif akut lebih jarang terjadi pada glandula submandibularis, dan jika ada, seringkali disebabkan oleh sumbatan duktus dari batu saliva atau oleh benturan langsung pada duktus. Dilakukan pemeriksaan kultur dari sekresi purulen dan terapi antibiotic. Jika batu terletak pada bagian distal duktus (intraoral), batu harus dikeluarkan. Jika sialolit terletak pada duktus proksimal. Kadang-kadang glandula harus dipotong untuk mengontrol infeksi akut (Gordon, 1996).

2.4 Manifestasi Klinis Sialadenitis 

Gejala yang timbul biasanya unilateral dan terdiri dari pembengkakan dan rasa sakit, serta trismus ringan. Pada tahap ini belum dapat dilakukan penentuan diagnosa yang dapat ditentukan bila telah terjadi serangan berulang kali. Pembengkakan terjadi selama 2-10 hari dan serangan terulang kembalisetelah beberapa minggu atau bulan. Pembengkakan yang rekurens dan nyeri didaerah kelenjar submandibula (Haskel, 1990).

Demam terjadi jika timbul infeksi, menggigil, dan nyeri unilateral dan pembengkakan berkembang. Kelenjar ini tegas dan lembut difus, dengan eritema dan edema pada kulit di atasnya. Nanah sering dapat dinyatakan dari saluran dengan menekan kelenjar yang terkena dampak dan harus berbudaya. Focal pembesaran mungkin menunjukkan abses. Sekresi air liur yang sangat kental dapat dikeluarkan dari duktus dengan melakukan  penekanan pada kelenjar. Kelenjar ini dapat terasa panas dan membengkak (Haskel, 1990).

 

2.5 Patofisiologi Sialadenitis

 

Terjadi penurunan fungsi duktus oleh karena infeksi, penyumbatan atau trauma menyebabkan aliran saliva akan berkurang atau bahkan terhenti. Batu ludah paling sering didapatkan di kelenjar submandibula. Pada glandula utama, gangguan sekresi akan menyebabkan stasis (penghentian atau penurunan aliran) dengan inspissations (pengentalan atau penumpukan) yang seringkali menimbulkan infeksi atau peradangan. Glandula saliva utama yang mengalami gengguan aliran saliva akan mudah mengalami serangan organism melalui duktus atau pengumpulan organism yang terbawa aliran darah (Gordon, 1996).

2.6  Penatalaksanaan Sialadenitis

            Pada semua keadaan, lubang masuk duktus harus diperlebar dengan beberapa probe lakrimal. Batu pada duktus dapat dikeluarkan dengan membuat insisi ke duktus dari mukosa mulut. Batu yang terletak lebih di dalam, memerlukan insisi linear eksternal.

            Bila faktor penyebab tidak dapat dihilangkan, sebaiknya usahakan untuk memperbesar aliran dengan cara mengunyah permen karet. Periode akut dapat dikontrol dengan kombinasi antibiotic dan massage kelenjar. Pada keadaan yang lebih parah, gejala yang ada dapat dikontrol dengan pengikatan duktus atau parotidektomi permukaan.

            Pengikatan duktus hanya dilakukan bila ada hiposekresi yang hebat, mialnya bila sindrom sicca atau kerusakan kelenjar telah sangat besar. Bila kecepatan sekresi tinggi, parotidektomi merupakan indikasi.

            Kadang-kadang terjadi infeksi akut pada kelenjar yang tersumbat, dan perawatan dengan antibiotic (terutama penisilin) diperlukan sebelum perawatan yang lebih menyeluruh dilakukan.

Langkah pertama adalah untuk memastikan Anda memiliki cukup cairan dalam tubuh Anda. Anda mungkin harus menerima cairan intravena (melalui pembuluh darah). Berikutnya, Anda akan diberikan antibiotik untuk menghancurkan bakteri. Setelah saldo cairan telah dipulihkan, dokter gigi Anda dapat merekomendasikan permen asam tanpa gula atau permen. Mereka dapat merangsang tubuh memproduksi air liur lebih banyak. Jika infeksi tidak membaik, Anda mungkin memerlukan pembedahan untuk membuka dan tiriskan kelenjar. Jika sialadenitis disebabkan oleh batu di saluran, batu itu mungkin perlu dihilangkan dengan operasi (Haskel, 1990).

2.7  Pemeriksaan Penunjang Sialadenitis

Hasil pemeriksaan menunjukkan pembengkakan elastic yang nyeri serta pre-aurikular, dengan kulit di atasnya normal. Lubang masuk duktus meradang dan jumlah sekresi ludah berkurang, sedang massage kelenjar dapat menghasilkan kotorsn flokulen kental disertai aliran ludah yang deras.

Radiograf pada bidang postero-anterior bagian depan duktus, dengan film yang diletakkan pada pipi dapat menunjukkan batu, bila batu tersebut memang ada.

Sialograf  harus dilakukan pad setiap keadaan diantara serangan akut yang satu ke serangan berikut, dan dapat menunjukkan pembesaran duktus utama, penyempitan, cacat radiolusen (baturadiolusen), sialektasis (sindrom sicca), atau pada keadan yang sangat parah, ketidak teraturan yang menyeluruh. Keadaan abnormal terbatas pada cabang duktus dan daerah-daerah yang berhubungan dengannya.

Pemeriksaan jumlah ludah yang berkurang memang dianjurkan, untuk membandingkan aliran dari kelenjar ini dengan kelenjar lain, tetapi cara pemeriksaan ini masih dalam penelitian. Kanula Lashley dipasang pada tiap duktus atau ludah ditampung setelah paien mengunyah permen karet atau setelah dilakukan penyuntikan pilokarpin secara intravena. Kecepatan aliran ludah yang normal 1 ml per menit dan pada sebagian bear keadaan tersebut biasanya bersifat bilateral.

Bila terdapat sindrom sicca, dapat terjadi penurunan sekresi yang simetris. Prognosa keadaan ini berhubungan dengan kecepatan sekresi, prognosa lebih baik bila volume sekresi normal atau sedikit berkurang.

Pembengkakan rekuren (submandibula) disebabkan oleh neoplasma yang terletak dalam kelenjar yang menimbulkan penyumbatan duktus. Hasil pemeriksaan menunjukkan kelenjar submandibula yang membesar, keras, dan pembengkakan dapat dilihat dengan meminta pasien mengingat makanan yang disenanginya atau mengiap jeruk. Hasil pemeriksaan juga menunjukkan berkurangnya aliran ludah dari duktus yang terserang.

Hasil pemeriksaan radiograf yang oblique dan oklusal dari dasar mulut menunjukkan adanya batu. Perawatan dari keadaan ini meliputi pengeluaran batu bila batu terletak di atas otot milohoid atau memotong kelenjar bila batu terletak di bawah daerah yang masih dapat dicapai secara intra-oral. Pemotongan kelenjar juga perlu dilakukan bila gejala yang hebat timbul berulang kali. Keadaan ini, seperti terlihat pada hasil sialograf, berhubungna dengan kerusakan kelenjar yang sangat luas dan sialektasis yang mungkin berasal dari infeksi atau penyempitan duktus (Gordon, 1996).

 

2.8 WOC Sialadenitis

 DOWNLOAD : WOC ASKEP SIALADENITIS

 

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

 

3.1 Pengkajian

a. Identitas/ biodata klien

    Nama                        : Tn. RA

    Tempat tanggal lahir: Surabaya, 18 September 1954

    Umur                        : 56 tahun

    Jenis Kelamin           : Laki-laki

    Agama                      : Islam

    Warga Negara           : Indonesia

    Bahasa yang digunakan: Bahasa Indonesia

Penanggung Jawab

Nama                        : Ny. P

Alamat                     : Jln. Kalijudan 11 surabaya

Hubungan dengan klien: istri

b. Keluhan Utama

Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan rasa nyeri pada daerah leher  tepatnya di rahang bawah yang mengalami pembengkakan disertai kulit memerah dan demam.

c. Riwayat Kesehatan Sekarang

Seorang pasien bernama Tn. RA datang pada bulan Oktober 2010 ke rumah sakit dengan keluhan nyeri pada leher tanpa diketahui penyebabnya. Nyeri ini dirasakan sejak 4 hari yang lalu disertai bengkak dan kulit memerah pada daerah rahang bawah. Nyeri semakin hebat saat pasien menelan makanan. Nyeri menyebabkan nafsu makan berkurang dan BB menurun 0,5 kg sejak klien merasa nyeri. Setelah melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit, pasien didiagnosa sialadenitis.

d. Riwayat Kesehatan Masa Lalu

Pasien mengaku sering mengalami stomatitis (sariawan) serta gusi berdarah. 

e. Riwayat Kesehatan Keluarga

Keluarga tidak ada yang menderita Sialadenitis.

 

g. Keadaan Lingkungan

Pasien bertempat tinggal di lingkungan yang kurang bersih.

 

3.2 Observasi

3.2.1 Keadaan Umum

  1. Suhu                 : 38ºC
  2. Nadi                  : 84 /menit
  3. Tekanan Darah : 120/80 mmHg
  4. RR                    : 25 /menit
  5. BB sekarang     : 54,5 kg

BB awal            : 55 kg

  1. Tinggi badan     : 162 cm

3.2.2  Pemeriksaan Persistem

B1 (breathing) : Nafas normal.

B2 (blood)       : Takikardi karena rasa cemas akibat rasa nyeri.

B3 (brain)       : GCS normal (4 5 6), pasien composmentis.

B4 (bladder)    : Normal.

B5 (bowel)      : Nafsu makan menururn, porsi makan menurun  dan BB  turun.

B6 (bone)        : Kelemahan otot pada bagian rahang bawah (submandibula) akibat adanya kemerahan karena pembengkakan.

 

3.3  Analisis Data

 

No

Data

Etiologi

Masalah

1.

Data Subjektif :

  • Nyeri menelan pada rahang bawah (kelenjar submandibula)
  • Nyeri muncul saat mengunyah makanan

Data objektif :

  • Berkurangnya sekresi kelenjar saliva
  • Didapatkan nyeri pada skala 6

Gangguan sekresi saliva

Penghentian/Penurunan aliran saliva

Nyeri

2.

Data subjektif:

  • Ada pembengkakan

Data objektif :        

  • Inflamasi pada kelenjar submandibula

Infeksi oleh Staphylococcus aureus, Stertococcus viridians atau pneumococcus

Gangguan sekresi saliva

Penghentian/Penurunan aliran saliva

Pengentalan/Penumpukan saliva

Peradangan

Risiko Infeksi

3.

Data subjektif:

  • § Tidak nafsu makan
  • § Tidak mengkonsumsi makanan yang terlalu kasar
  • § Badan lemas karena kurang energi

Data objektif:

  • § BB menurun 0,5 kg dari berat awal menjadi 54,5 kg dalam 4 hari

BB awal = 55 kg

BB normal sesuai tinggi seharusnya = 55,8 kg

  • § TB: 162 cm
  • § Porsi makan berkurang

Gangguan sekresi saliva

Penurunan aliran saliva

Nyeri saat menelan

 

 

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

4

Data subjektif:

  • Badan menggigil

Data objektif:

  • Suhu tubuh meningkat dari keadaan normal: 38°C

Gangguan sekresi saliva

Penurunan aliran saliva

Pengentalan saliva

Inflamasi

Pembengkakan

Demam

 

Hipertermi

3.4 Diagnosa Keperawatan

  1. Nyeri berhubungan dengan penurunan sekresi saliva.
  2. Risiko infeksi berhubungan dengan adanya penumpukan bakteri.
  3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan menelan.
  4. Hipertermi berhubungan dengan peradangan akibat infeksi virus.

3.5 Intervensi

  1. Diagnosa: Nyeri berhubungan dengan penurunan sekresi saliva.

Tujuan: mengatasi rasa nyeri

Kriteria hasil: 

  1. Produksi saliva kembali normal
  2. Nyeri berkurang ditandai dengan:
  • Penurunan skala nyeri dari 6 menjadi 2
  • RR kembali normal = 20x/menit

No.

Intervensi

Rasional

1.

Kolaborasi

Berikan obat analgesic

 

Menghilangkan rasa nyeri

2.

Mandiri

Identifikasi dan batasi makanan yang menimbulkan ketidak-nyamanan, misalnya makan yang terlalu keras atau susah dikunyah.

 

Makanan dengan konsistensi makanan yang tinggi dapat mengrangi rasa nyeri saat menelan

3.

Mandiri

Berikan klien permen karet dan ajarkan untuk mengunyah

 

Meningkatkan produksi saliva

 

  1. Diagnosa: Infeksi berhubungan dengan adanya penumpukan bakteri.

Tujuan: mencegah dan menghambat penyebaran infeksi.

Kriteria hasil:

  1. Infeksi teratasi
    1. Tidak ada inflamasi ditandai dengan tidak ada warna merah pada bagian luar submandibula atau rahang bawah.
    2. Bakteri mati
    3. Leukosit kembali normal: 8.000 sel/mm3

No.

Intervensi

Rasional

1.

Kolaborasi

Berikan obat antibiotic sesuai indikasi

 

Menurunkan kolonisasi bakteri dan mencegah infeksi

2.

Kolaborasi

Periksa darah lengkap pasien

 

Menegetahui jumlah leukosit

3.

Mandiri

Ajarkan pada pasien tentang oral hygiene

 

Mencegah bakteri berkembang biak akibat kurangnya kebersihan rongga mulut/oral hygiene.

 

3. Diagnosa: nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan menelan.

Tujuan: Memenuhi kebutuhan  nutrisi tubuh.

Kriteria Hasil:

  1. Kebutuhan metabolismme tubuh terpenuhi
  2. Pasien tidak lagi terlihat lemah
  3. Nutrisi terpenuhi
  4. BB kembali seperti awal: 55 kg

No

Intervensi

Rasional

1

Kolaborasi

Berikan terapi nutrisi. Lakukan diet TKTP (tinggi kolesterol, tinggi protein). Diet lunak dan mengkonsumsi makanan yang tidak merangsang.

 

Kebutuhan nutrisi klien kembali terpenuhi.

2

Mandiri

Buat pilihan menu dan ijinkan klien untuk memilih sebanyak mungkin.

 

Memberikan variasi menu pada klien sehingga nafsu makan klien meningkat.

 

4. Diagnosa: Hipertermi berhubungan dengan peradangan akibat infeksi virus.

Tujuan: Mengatasi masalah peningkatan suhu tubuh untuk mencegah penyebaran infeksi akibat virus.

Kriteria Hasil:

  1. Badan tidak menggigil
  2. Suhu tubuh kembali normal 37°C

No

Intervensi

Rasional

1

Kolaborasi

Berikan obat penurun panas.

 

Demam dapat diatasi (suhu tubuh kembali normal).

2

Mandiri

Berikan kompres hangat.

 

Melancarkan aliran pembuluh darah dan menjadikan suhu tubuh kembali normal.

3

Mandiri

Anjurkan banyak minum bila tidak ada kontraindikasi.

 

Mencegah dehidrasi akibat kekurangan cairan yang dapat meningkatkan suhu tubuh akibat infeksi.

4

Mandiri

Anjurkan klien untuk bedrest total.

 

Memulihkan kondisi tubuh dengan mencegah adanya peningkatan suhu tubuh serta mengembalikan pada suhu tubuh normal.

 

3.6 Evaluasi

  1. Rasa nyeri berkurang ditandai dengan berkurangnya rasa nyeri.
  2. Infeksi bakteri berkurang ditandai dengan berkurangnya inflamasi.
  3. Kebutuhan nutrisi terpenuhi ditandai dengan berat badan yang meningkat.
  4. Tidak terjadi demam ditandai dengan suhu tubuh kembali normal.

 

BAB IV

PENUTUP

 

4.1 Simpulan

                        Sialadenitis adalah infeksi berulang-ulang di glandula submandibularis yang dapat diserati adanya batu atau penyumbatan. Biasanya sistem duktus menderita kerusakan, jadi serangan tunggal sialadentis submandibularis jarang terjadi. Kelenjar ini terasa panas, membengkak, nyeri tekan dan merupakan tempat serangan nyeri hebat sewaktu makan. Pembentukan asbes dapat terjadi didalam kelenjar maupun duktus. Sering terdapat batu tunggal atau multiple.

                        Peradangan kronis pada Sialadenitis  dapat terjadi pada parenkim kelenjar atau duktus seperti batu (sialolithiasis) yang disebabkan karena infeksi (sialodochitis) dari Staphylococcus aureus, Streptococcus viridians atau pneumococcus. Selain itu terdapat komponen obstruksi skunder dari kalkulus air liur dan trauma pada kelenjar. Faktor risiko yang dapat mengakibatkan sialadenitis antara lain dehidrasi, terapi radiasi, stress, malnutrisi dan hiegine oral yang tidak tepat.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. 2010. Sialadenitis. http://en.wikipedia.org/wiki/Sialadenitis, diakses tanggal 23 Oktober 2010

Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: Penerbit buku

Kedokteran EGC

Greenberg. 2005. Teks Atlas Kedokteran Kedaruratan. Jakarta: Erlangga

Ngastiyah. 2007. Perawatan Pada Anak. Jakarta: EGC

Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15. Jakarta: EGC

Pedersen, Gordon W. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta: EGC

Haskel, R. 1990. Penyakit Mulut. Jakarta: EGC

Lewis, Michel A.O. 1998. Tinjauan Klinis Penyakit Mulut. Jakarta: Widya Medika

Lynch, Malcolm A. 1997. Oral Medicine. United States of America: Lippincott Raven Publishe

 

 

3 Komentar

Aminullah

pada : 09 February 2012


"Hasil lab sy sektar setahun lalu adalah sialadenitis .sudah lbih 10thn mendrita peny ini. Awalnya kiri lalu yg knan juga. Tp tdk trsa sakit. Biasanya trsa efek gatal. Klau digaruk trsa enak smpai gtalnya hilang. Lalu membngkak. Tlg pak pnjelasan ttg ini "


Lukman

pada : 07 August 2012


"apakah bapak tidak ada keluhan ketika makan? kalau tidak sakit, berarti sudah kronis. namanya jadi sialadenitis submandibula kronis, apalagi sudah 10 tahun diderita. Biasanya kalau kronis suka terasa mengganjal ketika makan/menelan. Lebih baik ke dokter bedah mulut untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Thanks

"


Nuzulul

pada : 18 September 2012


"thanks semuanya..."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :