NUZULUL ZULKARNAIN HAQ

Nuzulul Zulkarnain Haq

Statistik

My Project

    Download My Project

    Hook FolderLocker 1.0 adalah software security yang berguna untuk mengunci folder penting, folder rahasia, dsb. Pengguna dapat menambahkan password ke dalam folder agar tidak dapat dibuka oleh sembarang orang.Dengan software ini data data anda akan terlindungi dengan aman. Gunakanlah dengan bijak sesuai kebutuhan anda.

    Download : Hook FolderLocker


    Hook Anticopy 2.0 . Pernahkah data di komputer saudara di copy oleh orang lain tanpa seizin dari saudara? pastinya sebel banget dengan orang itu, apalagi kalau data yang dicuri adalah data penting yang gak ingin jatuh ketangan orang lain. nah sekarang saudara ndak perlu kuatir. dengan software ini data saudara ndak akan bisa lagi di copy ke flashdisk, hardisk external, cd dvd , disket , memory, dll.

    Download : Hook AntiCopy


    Onfreeze SMS Gateway 1.3 . Freeware. Size = 455 KB. Program yang berguna untuk mengirim sms masal dengan mudah seperti untuk pengumuman, promosi , dsb lewat komputer. Program ini bersifat freeware. Alat yang dibutuhkan hp GSM atau modem GSM yang terkoneksi ke komputer bisa lewat kabel atau bluetooth.

    Download : OnefreezeSMSgateway


    Portable Webcam 1.0 . Software alternatif untuk memakai webcam, tersedia gratis untuk di pakai simple dan mudah digunakan (286 KB) . Bisa di pakai untuk winXP, Vista, Seven.

    Download : Portable Webcam


Askep Insufisiensi Katup Mitral

diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 10 October 2011
di Kep Kardiovaskuler - 2 komentar

Askep Insufisiensi Katup Mitral

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Insufisiensi mitralis merupakan akibat katup mitral tidak menutup secara sempurna. kelainan katup mitralis yang disebabkan karena tidak dapat menutupnya katup dengan sempurna pada saat systole. Jika hal ini terjadi maka curah jantung akan berkurang dan menyebabkan kurang efektifnya  pendistribusian oksigen ke seluruh tubuh.

Salah satu penyebab insufisiensi mitralis adalah demam reumatik. Data terakhir mengenai prevalansi demam rematik di Indonesia untuk tahun 1981-1990 didapati 0,3-0,8 diantara 1000 anak sekolah dan jauh lebih rendah dibanding negara berkembang lainnya.

Meskipun jumlah kasus demam rematik yang dapat berpotensi menyebabkan insufisiensi mitral di Indonesia tidak lebih tinggi disbanding Negara berkembang lainnya tetapi kita harus waspada dalam upaya pencegahan. Dengan memperhatikan gaya hidup, dan lingkungan yang sehat,diharapkan dapat menurunkan resiko penyakit katup jantung seperti insufisiensi mitral.

Sehingga kami sebagai mahasiswa keperawatan memberikan sebuah rangkuman makalah tentang insufisiensi mitral sebagai bahan belajar dan pendidikan bagi mahasiswa keperawatan.

Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud insufisensi mitral ?
  2. Apa yang menyebabkan terjadinya insufisiensi mitral ?
  3. Bagaimana pengobatan klien dengan insufisiensi mitral?

Tujuan Umum

Menjelaskan asuhan keperawatan pada klien dengan insufisiensi mitral

Tujuan Khusus

  1. Mengetahui definisi insufisiensi mitral
  2. Mengetahui etiologi insufisiensi mitral
  3. Mengetahui manifestasi klinis insufisiensi mitral
  4. Mengetahui pemeriksaan diagnostic pada klien dengan insufisiensi mitral
  5. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan insufisiensi mitral

Manfaat

  1. Mahasisiwa mampu dan mengerti tentang insufisiensi mitral
  2. Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan insufisiensi mitral

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Insufisiensi Mitral

  1. Definisi

Insufisiensi mitralis merupakan keadaan dimana terdapat refluks darah dari ventrikel kiri ke atrium kiri pada saat sistolik sebagai akibat dari tidak sempurnanya penutupan katup mitral.

            Fungsi katup mitral yang baik tergantung dari koordinasi yang normal dari aparatus mitral. Adapun aparatus mitral ialah dinding atrium kiri, annulus mitralis, daun katup, korda tendinae, m. Papilaris dan dinding ventrikel kiri. Apabila satu atau lebih dari ventrikel tersebut disfungsi karena penyakit, maka penutupan katup (koaptasi) tidak sempurna dan terjadilah insufisiensi mitral.

 

  1. Etiologi

            Berdasarkan etiologinya insufisiensi atau regurgitasi mitral dapat dibagi atas reumatik dan non reumatik (degenaratif, endokarditis, penyakit jantung koroner, penyakit jantung bawaan, trauma dan sebagainya).

1)               Penyakit jantung rematik (PJR/RHD). PJR merupakan salah satu penyebab yang sering dari insufisiensi mitral berat. Insufisiensi mitral berat akibat PJR biasanya pada laki-laki. Proses rematik menyebabkan katup mitral kaku, deformitas, retraksi, komisura melengket/fusi satu sama lain, korda tendinae memendek, melengket satu dengan yang lain.

2)               Penyakit jantung koroner (PJK). Penyakit jantung koroner dapat menyebabkan insufisiensi mitral melalui 3 cara:

  1. Infark miokard akut mengenai maksila  Papillaris dapat berakibat ruptura dan terjadi insufisiensi mitral akut dan berat. Terjadi udema paru akut dan dapat berakibat fatal.
  2. Iskemia maksila papillaris (tanpa infark) dapat menyebabkan regurgitasi sementara/transient insufisiensi mitral, terjadi pada saat episode iskemia pada maksila papillaris dan mungkin terjadi pada saat AP.
  3. PJK menyebabkan dilatasi ventrikel kiri (dan mungkin terjadi pada saat AP) dan terjadi insufisiensi mitral.

3)               Dilatasi ventrikel kiri/kardiomiopati tipe kongestif. Dilatasi LV apapun penyakit yang mendasari menyebabkan dilatasi annulus mitralis, posisi m. Papillaris berubah dengan akibat koaptasi katup mitral tidak sempurna dan terjadi MR, adapun penyakit yang mendasari antara lain : diabetes/kardiomiopati diabetik, iskemia peripartal, hipertiroidisme, toksik, AIDS.

4)               Kardiomiopati hipertrofik. Daun katup anterior berubah posisi selama sistol dan terjadi MR.

5)               Klasifikasi annulus mitralis. Mungkin akibat degenerasi pada lansia. Dapat diketahui melalui ekokardiogram' foto thoraks, penemuan biopsi.

6)               Prolaps katup mitral (MVP). Merupakan penyebab sering MR.

7)               Infective Endocarditis (IE). Dapat mengenai daun katup maupun chorda tendinae dan merupakan penyebab MR akut.

8)               Kongenital. Endocardial Cushion Defect (ECD), insufisiensi mitral pada anomali ini akibat celah pada katub. Sindrom Marffan yakni akibat kelainan jaringan ikat.

  1. Manifestasi Klinis
    1. Palpitasi
    2. Lemah
    3. Dyspnea
    4. Ortopnea : sesak nafas akibat perubahan posisi
    5. Paraxymal nocturnal dyspnea : sesak nafas pada saat tidur
    6. Thrill sistolik di apeks
    7. Hanya terdengar bising sistolik di apeks
    8. Bunyi jantung 1 melemah
    9. Bising panasistolik, menjalar ke lateral (punctum maksimum di apeks)
    10. Iktus kordis kuat
    11. Fibrilasi atrium
    12. Penatalaksaan
      1. Terapi medikantosa

a)      Digoxin

Digoxin amat berguna terhadap penanganan fibrilasi atrium. Obat ini adalah kelompok obat digitalis yang bersifat inotropik positif dan dapat meningkatkan kekuatan denyut jantung dan menjadikan denyutan jantung kuat dan sekata.

b)      Antikoagulan oral

Antikoagulan di berikan kepada pasien untuk mengelakkan terjadinya pembekuan darah yang bisa menyebabkan emboli sistemik. Emboli bisa terjadi akibat regurgitasi dan turbulensi aliran darah.

c)      Antibiotik profilaksis

Administrasi antibiotic dilakukan untuk mengelakkan infeksi bacteria yang bisa menyebabkan endokarditis.

  1. Terapi umum

a)      Istirahat

Kerja jantung dalam keadaan dekomensasi harus benar – benar dikurangi dengan tirah baring mengingat konsumsi O­2 yang relatif meningkat. Dengan istirahat benar, gejala – gejala gagal jantung dapat jauh berkurang

b)      Diet

Umumnya di berikan makan lunak dengan rendah garam. Jumlah kalori sesuai dengan kubutuhan. Klien dengan gizi kurang di berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein. Cairan di berikan 80 – 100 ml / kg BB / hari dengan maksimal 1500 ml / hari

  1. Terapi surgikal, untuk :

a)      Penderita Simptomatis fungsional kelas IV.

b)      Mitral Valve Replacement

c)      Annuloplasty

  1. Komplikasi
    1. Fibrilasi Atrium
      1. Emboli sistemik
      2. Hipertensi pulmonal
      3. Dekompensasi kordis kiri ( LVF)
      4. Endokarditis

 

  1. Prognosis
    1. Sesekali LVF timbul, keadaan umum penderita merosot cepat
    2. Lebih lama bebas keluhan dari pada MS

 

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN


  1. Pengkajian

Anamnesa

  1. Identitas / Data demografi

Berisi nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan, tempat tinggal sebagai gambaran kondisi lingkungan dan keluarga,  dan keterangan lain mengenai identitas pasien.

  1. Keluhan utama

Sesak napas, ada beberapa macam sesak napas yang biasanya dikeluhkan oleh klien, antara lain :

            Ortopnea terjadi karena darah terkumpul pada kedua paru pada posisi terlentang, menyebabkan pembuluh darah pulmonal mengalami kongesti secara kronis dan aliran balik vena yang meningkat tidak diejeksikan oleh ventrikel kiri.

            Dyspnea nocturnal paroximal merupakan dispnea yang berat. Klien sering terbangun dari tidurnyaatau bangun, duduk atau berjalan menuju jendela kamar smabil terengah-engah. Hal ini terjadi karena ventrikel kiri secara mendadak gagal mengeluarkan curah jantung, sehingga tekanan vena dan kapiler pulmonalis meningkat menyebabkan transudasi cairan kedalam jaringan interstisial yang meningkatkan kerja pernapasan.

  1. Riwayat penyakit dahulu

-          penyakit jantung rematik

-          penyakit jantung koroner

-          trauma

  1. Riwayat kesehatan keluarga

Apakah ada riwayat penyakit jantung atau penyakit kardiovaskular lainnya.

  1. Pemeriksaan fisik
  1. Keadaan umum

-          Inspeksi : bentuk tubuh, pola pernapasan, emosi/perasaan

-          Palpasi : suhu dan kelembaban kulit, edema, denyut dan tekanan arteri

-          Perkusi : batas-batas organ jantung dengan sekitarnya.

-          Auskultasi :

  1. Bising yang bersifat meniup (blowing) di apeks, menjalar ke aksila dan mengeras pada ekspirasi
  2. Bunyi jantung I lemah karena katup tidak menutup sempurna
  3. Bunyi jantung III yang jelas karena pengisian yang cepat dari atrium ke ventrikel pada saat distol.
  4. Tanda – tanda vital :

Pemeriksaan tanda vital secara umum terdiri atas nadi, frekuensi pernapasan, tekanan darah, dan suhu tubuh

  1. Pemeriksaan persistem
    1. B1 (Breath)       : Dyspnea, Orthopnea, Paraxymal nocturnal dyspnea
    2. B2 (Blood)       : Thrill sistolik di apeks, hanya terdengar bising sistolik di apeks, bunyi jantung 1 melemah,
    3. B3 (Brain)         : pucat, sianosis
    4. B4 (Bladder)    : output urin menurun
    5. B5 (Bowel)       : nafsu makan menurun, BB menurun
    6. B6 (Bone)         : lemah
  2. Elektrokardiogram      : Menilai derajat insufisiensi
  1. Pemeriksaan Diagnostik

: Menilai ada/tidaknya penyakit penyerta

: Gambaran P mitral dengan aksis dan kompleks QRS yang normal

: Axis yang bergeser ke kiri dan adanya hipertrofi ventrikel kiri

: Ekstra sistol atrium

  1. foto thorax                  : Pembesaran atrium kiri dan ventrikal kiri

: Bendungan paru, bila ada dekompensasi kordis

: Perkapuran pada anulus mitral

  1. Fonokardiogram          : Menilai gerakan katup, ketebalan dan perkapuran serta menilai derajat regurgitasi insufisiensi mitral
  2. Pemeriksaan Laboratorium     : Mengetahui ada/tidaknya reuma aktif/reaktivasi

 

 

 

Intervensi Keperawatan

No

Diagnosa Keperawatan

Kriteria Hasil

Intervensi

Rasional

1.

Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan ketidakmampuan ventrikel kiri untuk memompa darah.

 

Tujuan : dalam waktu 3x24 jam penurunan curah jantung dapat teratasi dan menunjukkan tanda vital dalam batas yang dapat diterima (disritmia terkontrol atau hilang dan bebas gejala gagal jantung misalnya parameter hemodinamika dalam batas normal, output urine adekuat)

 

Klien melaporkan penurunan episode dyspnea, berperan dalam aktivitas mengurangi beban kerja jantung, tekanan darah dalam batas normal, tidak terjadi aritmia, denyut jantung, dan irama jantung teratur.

-    Kaji dan lapor tanda penurunan curah jantung

-    Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal/masker sesuai indikasi

-    Kolaborasi pemberian cairan intervena, pembatasan jumlah total cairan sesuai dengan indikasi, hindari cairan dan natrium

-    Kolaborasi pemberian obat diuretik

-    Kolaborasi pemberian obat vasodilator seperti nitrat

 

-    Kejadian mortalitas dan morbiditas sehubungan dengan infark miokardium yang lebih dari 24 jam pertama

-    Meningkatkan sediaan oksigen untuk kebutuhan miokardium untuk melawan efek hipoksi/iskemia

-    Karena adanya peningkatan tekanan ventrikel kiri, klien tidak dapat menoleransi peningkatan volume cairan(preload) klien juga mengeluarkan sedikit natrium yang menebabkan retensi cairan dan meningkatkan kerja miokardium

-    Penurunan preload paling banyak digunakan dalam mengobati klien dengan curah jantung relative normal ditambah dengan gejala kongesti deuritik blok reabsorbsi diuretic sehingga mempengaruhi reabsorbsi natrium dan air

-    Vasodilator digunakan untuk meningkatkan curah jantung, menurunkan volume sirkulasi(vasodilator) dan tahanan vasikuler sistemis (arteridilator) juga kerja ventrikel

2.

Pola napas tidak efektif berhubungan dengan perembesan cairan, kongesti paru akibat sekunder dari perubahan member kapiler alveoli dan retensi cairan intertestial.

 

Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam pola napas kembali efektif

 

Klien tidak sesak napas, frekuensi pernapasan normal (16-20 x/menit), respon batuk berkurang, output urin 30ml/jam

- Auskultasi bunyi napas

- Kaji adanya edema

- Pertahankan pemasukan total cairan 2000ml/24jam dalam toleransi kardiovaskuler

- Kolaborasi pemberian diet tanpa garam

- Kolaborasi pemberian diuretik

-    Indikasi edema paru, akibat sekunder dekompensasi jantung

-    Waspadai adanya gagal kongestif/kelebihan volume cairan

-    Memenuhi kebutuhan cairan tubuh orang dewasa tetapi memerlukan pembatasan dengan adanya dekompensasi jantung

-    Natrium meningkatkan retensi cairan dan meningkatkan volume plasma yang berdampak terhadap peningkatan beban kerja jantung dan akan meningkatkan kerja miokardium

-    Diuretic bertujuan untuk menurunkan volume plasma dan menurunkan retensi cairan di jaringan sehingga menurunkan risiko terjadinya edema paru

3.

Gangguan aktivitas sehari – hari yang berhubungan dengan penurunan curah jantung ke jaringan.

 

Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam aktivitas sehari-hari klien terpenuhi dan meningkatnya kemampuan beraktivitas

 

Klien menunjukkan peningkatan kemampuan beraktivitas/mobilisasi ditempat tidur, frekuensi pernapasan normal

-    Catat frekuensi jantung, irama, dan perubahan TD selama dan sesudah aktivitas

-    Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas, dan berikan aktivitas senggang yang tidak berat

-    Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktivitas,contoh bangun dari kursi, bila tak ada nyri, ambulasi, dan istirahat selama 1 jamsetelah makan

-    Berikan waktu istirahat diantara waktu aktivitas

-     Respon klien terhadap aktivitas dapat mengindikasikan penurunan oksigen miokardium

-     Menurunkan kerja miokardium/konsumsi oksigen

-     Aktivitas yang maju memberikan control jantung, meningkatkan regangan dan mencegah aktivitas berlebihan

-     Untuk mendapatkan cukup waktu resolusi bagi tubuh dan tidak terlalu memaksa kerja jantung

 

 DOWNLOAD : WOC ASKEP INSUFISIENSI KATUP MITRAL

 

2 Komentar

jander

pada : 04 March 2012


"bang patofis dan daftar pustakanya dr mana"


Nuzulul

pada : 12 March 2012


"@jander: dari buku, internet"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   ">