NUZULUL ZULKARNAIN HAQ

Nuzulul Zulkarnain Haq

Statistik

My Project

    Download My Project

    Hook FolderLocker 1.0 adalah software security yang berguna untuk mengunci folder penting, folder rahasia, dsb. Pengguna dapat menambahkan password ke dalam folder agar tidak dapat dibuka oleh sembarang orang.Dengan software ini data data anda akan terlindungi dengan aman. Gunakanlah dengan bijak sesuai kebutuhan anda.

    Download : Hook FolderLocker


    Hook Anticopy 2.0 . Pernahkah data di komputer saudara di copy oleh orang lain tanpa seizin dari saudara? pastinya sebel banget dengan orang itu, apalagi kalau data yang dicuri adalah data penting yang gak ingin jatuh ketangan orang lain. nah sekarang saudara ndak perlu kuatir. dengan software ini data saudara ndak akan bisa lagi di copy ke flashdisk, hardisk external, cd dvd , disket , memory, dll.

    Download : Hook AntiCopy


    Onfreeze SMS Gateway 1.3 . Freeware. Size = 455 KB. Program yang berguna untuk mengirim sms masal dengan mudah seperti untuk pengumuman, promosi , dsb lewat komputer. Program ini bersifat freeware. Alat yang dibutuhkan hp GSM atau modem GSM yang terkoneksi ke komputer bisa lewat kabel atau bluetooth.

    Download : OnefreezeSMSgateway


    Portable Webcam 1.0 . Software alternatif untuk memakai webcam, tersedia gratis untuk di pakai simple dan mudah digunakan (286 KB) . Bisa di pakai untuk winXP, Vista, Seven.

    Download : Portable Webcam


Askep Pre Operatif Part2

diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 08 June 2017
di Kep Muskuloskeletal - 0 komentar

Askep Pre Operatif Part1

Askep Pre Operatif Part3


3.3.1     Transportasi pasien ke ruang rawat

Transportasi pasien bertujuan untuk mentransfer pasien menuju ruang rawat dengan mempertahankan kondisi tetap stabil. Jika anda dapat tugas mentransfer pasien, pastikan score post anastesi 7 atau 8 yang menunjukkan kondisi pasien sudah cukup stabil. Waspadai hal-hal berikut : henti nafas, vomitus, aspirasi selama transportasi.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan pada saat transportasi klien :

  1. Perencanaan

Pemindahan klien merupakan prosedur yang dipersiapkan semuanya dari sumber daya manusia sampai dengan peralatannya.

  1. Sumber daya manusia (ketenagaan)

Bukan sembarang orang yang bisa melakukan prosedur ini. Orang yang boleh melakukan proses transfer pasien adalah orang yang bisa menangani keadaan kegawatdaruratan yang mungkin terjadi sselama transportasi. Perhatikan juga perbandingan ukuran tubuh pasien dan perawat, harus seimbang.

  1. Equipment (peralatan)

Peralatan yang dipersiapkan untuk keadaan darurat, misal : tabung oksigen, sampai selimut tambahan untuk mencegah hipotermi harus dipersiapkan dengan lengkap dan dalam kondisi siap pakai.

  1. Prosedur

Untuk beberapa pasien setelah operasi harus ke bagian radiologi dulu dan sebagainya. Sehingga hendaknya sekali jalan saja. Prosedur-prosedur pemindahan pasien dan posisioning pasien harus benar-benar diperhatikan demi keamanan dan kenyamanan pasien.

  1. Passage (jalur lintasan)

Hendaknya memilih jalan yang aman, nyaman dan yang paling singkat. Ekstra waspada terhadap kejadian lift yang macet dan sebagainya.

3.2.4 Perawatan di ruang rawat.

Ketika pasien sudah mencapai bangsal, maka hal yang harus kita lakukan, yaitu :

1)      Monitor tanda-tanda vital dan keadaan umum pasien, drainage, tube/selang, dan komplikasi. Begitu pasien tiba di bangsal langsung monitor kondisinya. Pemerikasaan ini merupakan pemeriksaan pertama yang dilakukan di bangsal setelah post operasi.

2)      Manajemen Luka

Amati kondisi luka operasi dan jahitannya, pastikan luka tidak mengalami perdarahan abnormal. Observasi discharge untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Manajemen luka meliputi perawatan luka sampai dengan pengangkatan jahitan.

3)      Mobilisasi dini

Mobilisasi dini yang dapat dilakukan meliputi ROM, nafas dalam dan juga batuk efektif yang penting untuk mengaktifkan kembali fungsi neuromuskuler dan mengeluarkan sekret dan lendir.

4)      Rehabilitasi
Rehabilitasi diperlukan oleh pasien untuk memulihkan kondisi pasien kembali. Rehabilitasi dapat berupa berbagai macam latihan spesifik yang diperlukan untuk memaksimalkan kondisi pasien seperti sedia kala.

5)      Discharge Planning

Merencanakan kepulangan pasien dan memberikan informasi kepada klien dan keluarganya tentang hal-hal yang perlu dihindari dan dilakukan sehubungan dengan kondis/penyakitnya post operasi.

Ada 2 macam discharge planning :

  1. Untuk perawat : berisi point-point discahrge planing yang diberikan kepada klien (sebagai dokumentasi). Contoh nota discharge planning pada pasien post tracheostomy untuk perawat adalah pecegahan infeksi pada area stoma
  2. Untuk pasien : dengan bahasa yang bisa dimengerti pasien dan lebih detail.
    Contoh nota discharge planning pada pasien post tracheostomy Untuk klien adalah menutup lubang operasi di leher dengan kassa steril (yang sudah di dapat sudah disiapkan dari rumah sakit)

Dalam merencanakan kepulangan pasien, kita harus mempertimbangkan 4 hal berikut:

1)      Home care preparation

Memodifikasi lingkungan rumah sehingga tidak mengganggu kondisi klien.Contoh : klien harus diatas kursi roda/pakai alat bantu jalan, buat agar lantai rumah tidak licin. Kita harus juga memastikan ada yang merawat klien di rumah.

2)      Client/family education

Berikan edukasi tentang kondisi klien.Cara merawat luka dan hal-hal yang harus dilakukan atau dihindari kepada keluarga klien, terutama orang yang merawat klien.

3)      Psychososial preparation

Tujuan dari persiapan ini adalah untuk memastikan hubungan interpersonal sosial dan aspek psikososial klien tetap terjaga.

4)      Health care resources

Pastikan bahwa klien atau keluarga mengetahui adanya pusat layanan kesehatan yang terdekat dari rumah klien, seperti rumah sakit, puskesmas dan lain-lain.Jadi jika dalam keadaan darurat bisa segera ada pertolongan.

 

Nyeri

 

Fraktur, pembengkakan

 

Gangguan citra diri

 

Nyeri

 

Terpasang traksi, bidai dll

 

Hambatan mobilitas fisik

 

Kurang pengetahuan tentang tindakan operasi

 

Intra operatif

 

Resiko infeksi

 

Luka pembedahan

 

Anxietas

 

Post operatif

 

Tindakkan operasi

 

Pre operatif

 

Fraktur femur

 

 

Trauma femur tertutup

 

Trauma femur terbuka

 

Kegagalan tulang menahan tekanan terutama tekanan membengkok, memutar, dan menarik

 

WOC

BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN

 

  1. 1.   PRE OPERATIF

a)   Pengkajian :

  1. Pengkajian Riwayat Kesehatan

Perawat memfokuskan pada riwayat penyakit terdahulu yang mungkin dapat mempengaruhi resiko pembedahan seperti adanya penyakit diabetes mellitus, penyakit jantung, penyakit ginjal dan penyakit paru. Perawat juga mengkaji riwayat penggunaan rokok dan obat-obatan.

  1. Pengkajian Fisik

Pengkajian fisik dilaksanakan untuk meninjau secara umum kondisi tubuh klien secara utuh untuk kesiapan dilaksanakannya tindakan operasi manakala tindakan amputasi merupakan tindakan terencana/selektif, dan untuk mempersiapkan kondisi tubuh sebaik mungkin manakala merupakan trauma/ tindakan darurat.

Kondisi fisik yang harus dikaji meliputi :

SISTEM TUBUH

KEGIATAN

Integumen :

Kulit secara umum.

Lokasi amputasi

Mengkaji kondisi umum kulit untuk meninjau tingkat hidrasi.

Lokasi amputasi mungkin mengalami keradangan akut atau kondisi semakin buruk, perdarahan atau kerusakan progesif. Kaji kondisi jaringan diatas lokasi amputasi terhadap terjadinya stasis vena atau gangguan venus return.

Sistem Cardiovaskuler :

Cardiac reserve

Pembuluh darah

Mengkaji tingkat aktivitas harian yang dapat dilakukan pada klien sebelum operasi sebagai salah satu indikator fungsi jantung.

Mengkaji kemungkinan atherosklerosis melalui penilaian terhadap elastisitas pembuluh darah.

Sistem Respirasi

Mengkaji kemampuan suplai oksigen dengan menilai adanya sianosis, riwayat gangguan nafas.

Sistem Urinari

Mengkaji jumlah urine 24 jam.

Menkaji adanya perubahan warna, BJ urine.

Cairan dan elektrolit

Mengkaji tingkat hidrasi.

Memonitor intake dan output cairan.

Sistem Neurologis

Mengkaji tingkat kesadaran klien.

Mengkaji sistem persyarafan, khususnya sistem motorik dan sensorik daerah yang akan diamputasi.

Sistem Mukuloskeletal

Mengkaji kemampuan otot kontralateral.

 

  1. Pengkajian Psikologis, Sosial, Spiritual

Disamping pengkajian secara fisik perawat melakukan pengkajian pada kondisi psikologis ( respon emosi ) klien yaitu adanya kemungkinan terjadi kecemasan pada klien melalui penilaian klien terhadap amputasi yang akan dilakukan, penerimaan klien pada amputasi dan dampak amputasi terhadap gaya hidup. Kaji juga tingkat kecemasan akibat operasi itu sendiri. Disamping itu juga dilakukan pengkajian yang mengarah pada antisipasi terhadap nyeri yang mungkin timbul.

Perawat melakukan pengkajian pada gambaran diri klien dengan memperhatikan tingkatr persepsi klien terhadap dirinya, menilai gambaran ideal diri klien dengan meninjau persepsi klien terhadap perilaku yang telah dilaksanakan dan dibandingkan dengan standar yang dibuat oleh klien sendiri, pandangan klien terhadap rendah diri antisipasif, gangguan penampilan peran dan gangguan identitas.

Adanya gangguan konsep diri antisipasif harus diperhatikan secara seksama dan bersama-sama dengan klien melakukan pemilihan tujuan tindakan dan pemilihan koping konstruktif.

Adanya masalah kesehatan yang timbul secara umum seperti terjadinya gangguan fungsi jantung dan sebagainya perlu didiskusikan dengan klien setelah klien benar-benar siap untuk menjalani operasi amputasi itu sendiri. Kesadaran yang penuh pada diri klien untuk berusaha berbuat yang terbaik bagi kesehatan dirinya, sehingga memungkinkan bagi perawat untuk melakukan tindakan intervensi dalam mengatasi masalah umum pada saat pre operatif. Asuhan keperawatan pada klien preoperatif secara umum tidak dibahas pada makalah ini.

 

b)      Pemeriksaan Diagnostik

Data laboratorium memberikan petunjuk yang bermanfaat untuk mengkaji status klinik pasien dan potensial risiko infeksi. Meskipuntidak dapat digunakan tanpa referansi dari data klinik yang lain, hasil pemeriksaan laboratorium dapat memberikan petunjuk penting untuk menentukan tindakan keperawatan perioperatif. Adapun pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan sebelum tindakan pembedahan adalah :

Hematokrit                                                                       BJ urin

Hemoglobin                                                                      AGD

Trombosit                                                                         Leukosit atau sel darah putih

Albumin                                                                            Gamma globulin

Elektrolit darahantibodi serum terhadap HIV                   HbSAg

Gula darah                                                                        Golongan darah

Selain itu hasil pemeriksaan radiologis seperti rontgen foto, USG abdomen, USG ginjal, MRI, BNO-IVP, dll yang terkait dengan prosedur pembedahan atau kasus, harus pula disertakan. Tujuan Pemeriksaan Pra Bedah :

  1. Pengumpulan data pasien 
  2. Menentukan masalah yang ada
  3. Meramalkan penyulit yang akan terjadi 
  4. Melakukan persiapan untuk mencegah penyulit yang mungkin terjadi 
  5. Menentukan status fisik pasien 
  6. Menentukan obat dan teknik anestesi 
  7. Menentukan premedikasi 

Diagnosa Keperawatan dan Perencanaan

Dari pengkajian yang telah dilakukan, maka diagnosa keperawatan yang dapat timbul antara lain :

  1. Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kegiatan perioperatif.

Karakteristik penentu :

  • Mengungkapkan rasa tajut akan pembedahan.
  • Menyatakan kurang pemahaman.
  • Meminta informasi.

Tujuan : Kecemasan pada klien berkurang.

Kriteria evaluasi :

  • Sedikit melaporkan tentang gugup atau cemas.
  • Mengungkapkan pemahaman tentang operasi.

INTERVENSI

RASIONAL

Memberikan bantuan secara fisik dan psikologis, memberikan dukungan moral.

 

Menerangkan prosedur operasi dengan sebaik-baiknya.

 

Mengatur waktu khusus dengan klien untuk berdiskusi tentang kecemasan klien.

Secara psikologis meningkatkan rasa aman dan meningkatkan rasa saling percaya.

 

Meningkatkan/memperbaiki pengetahuan/ persepsi klien.

 

Meningkatkan rasa aman dan memungkinkan klien melakukan komunikasi secara lebih terbuka dan lebih akurat.

 

  1. Berduka yang antisipasi (anticipated griefing) berhubungan dengan kehilangan akibat amputasi.

Karakteristik penentu :

  • Mengungkapkan rasa takut kehilangan kemandirian.
  • Takut kecacatan.
  • Rendah diri, menarik diri.

Tujuan : Klien mampu mendemontrasikan kesadaran akan dampak pembedahan pada citra diri.

Kriteria evaluasi :

  • mengungkapkan perasaan bebas, tidak takut.
  • Menyatakan perlunya membuat penilaian akan gaya hidup yangbaru.

INTERVENSI

RASIONAL

Anjurkan klien untuk mengekspresikan perasaan tentang dampak pembedahan pada gaya hidup.

 

Berikan informasi yang adekuat dan rasional tentang alasan pemilihan tindakan pemilihan amputasi.

 

Berikan informasi bahwa amputasi merupakan tindakan untuk memperbaiki kondisi klien dan merupakan langkah awal untuk menghindari ketidakmampuan atau kondisi yang lebih parah.

 

Fasilitasi untuk bertemu dengan orang dengan amputasi yang telah berhasil dalam penerimaan terhadap situasi amputasi.

Mengurangi rasa tertekan dalam diri klien, menghindarkan depresi, meningkatkan dukungan mental.

 

Membantu klien mengapai penerimaan terhadap kondisinya melalui teknik rasionalisasi.

 

Meningkatkan dukungan mental.

 

 

 

 

 

 

Strategi untuk meningkatkan adaptasi terhadap perubahan citra diri.

 

Selain masalah diatas, maka terdapat beberapa Diagnosa dan tindakan keperawatan preoperatif antara lain :

  1. Nyeri yang berhubungan dengan fraktur, masalah ortopedi, pembengkakan, atau inflamasi
  2. Perubahan perfusi jaringan perifer yang berhubungan pembengkakan, alat yang mengikat, atau gangguan aliran balik vena
  3. Kerusakan pemeliharaan kesehatan yang berhubungan dengan hilangnya kemandirian
  4. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri, pembengkakan dan mungkin alat imobilisasi
  5. Gangguan citra tubuh, harga diri, atau kinerja peran yang berhubungan dengan dampak masalah muskuloskeletal.

Perencanaan dan Implementasi

Meredakan nyeri. Teknik penanganan fisik, psikologis dan farmakologi untuk mengontrol nyeri sangat penting pada periode preoperatif. Metode khusus yang terpilih disesuaikan masing-masing individu pasien. Imobilisasi fraktur atau cedera, inflamasi sendi dapat mengurangi kenyamanan. Peninggian ekstremitas yang bengkak dapat memperbaiki aliran balik vena dan mengurangi rasa tidak nyaman yang diakibatkannya. Bila perlu dapat diberikan es untuk mengurangi pembengkakan dan secara langsung mengurangi rasa tidak nyaman dengan mengurangi rangsangan saraf. Analgetik kadang diberikan untuk mengontrol nyeri akut cedera muskuloskeletal dan spasme otot yang terjadi. Selama periode tepat sebelum operasi, perawat harus mendiskusikan dan mengkoordinasikan pemberian analgetik bersama ahli anestesi dan dokter bedah. Metode alternatif untuk mengontrol nyeri (mis. distraksi, pemfokusan, imajinasi terpimpin, lingkungan yang tenang, masase punggung) dapat dilakukan untuk mengurangi persepsi nyeri.

Mempertahankan Perfusi Jaringan Adekuat. Trauma, pembengkakan, atau alat imobilisasi dapat mengganggu perfusi jaringan. Status neurovaskuler (mis.warna, suhu, pengisian kapiler, denyut nadi, nyeri, edema, parestesia, gerakan) ekstremitas harus dikaji sesering mungkin. Jika peredaran darah mengalami gangguan harus dilakukan upaya untuk mengembalikan sirkulasi yang adekuat. Dokter harus diberi tahu segera, ekstremitas ditinggikan, dan balutan atau gips yang terlalu ketat dilonggarkan sesuai kebutuhan.

Memelihara Kesehatan. Perawat membantu pasien dalam setiap aktivitas yang dapat meningkatkan kesehatan selama periode perioperatif dan rehabilitatif. Kebutuhan nutrisi dan hidrasi dikaji. Secara umum, nutrisi untuk pasien ortopedi merupakan cerminan pola makan normal mereka. Program puasa preoperatif biasanya dapat ditoleransi dengan baik. Bila pasien menderita diabetes, lansia dan lemah, atau korban trauma multipel, perlu mendapat perhatian khusus.

Temuan urinalisis abnormal dan keluhan rasa terbakar saat berkemih perlu diselidiki lebih lanjut sebelum dilakukan pembedahan. Kadang-kadang pasien membatasi asupan cairannya sendiri agar tidak sering berkemih di pispot. Untuk itu perlu diberikan pispot khusus agar pasien lebih nyaman saat berkemih. Perawat harus memantau asupan cairan dan haluaran kemih. Penggunaan kateter indweling sebaiknya dihindari untuk mengurangi risiko infeksi saluran kemih.

Merokok harus dihentikan selama periode preoperatif uniuk memfasilitasi fungsi rcspirasi yang optimal. Batuk, menarik napas dalam. dan pcnggunaan spirometer insentif dilakukan preoperatif untuk mcmperbaiki fungsi respirasi selama periode pascaoperasi, Pcndidikan preoperatif dan sangat membantu penerimaan pascaoperasi.

Latihan diajarkan selama periode preoperatif. Latihan isometrik pengesetan gluteal dan pcngcsetan kuadrisep diajarkan untuk mcmclihara otot yang diperlukan untuk berjalan.  Kecuali bila ada kontraindikasi. latihan kon- traksi isometik otot betis dan pergelangan kaki harus dilakukan untuk meminimalkan stasis vena dan mencegah trombosis vena dalam. Latihan rentang gerak akut sendi- sendi yang sehat harus diupayakan. Pasien yang direncanakan  akan  mengenakan  alat  bantu  harus  melakukan latihan untuk mempcrkuat ekstremitas atas dan pundak. Bila mungkin, alat bantu (mis.  trapeze) dapat digunakan dan teknik berpindah, dilatih sebclum dilakukan pembedahan

Perawatan kulit diberikan. dengan pcrhatian khusus pada titik-titik bcrtekanan. Pcnggunaan bantalan untuk mcngurangi tekanan (rnis. busa convoluted atau bantal udara) perlu dipasang scbelum pcmbcdahan bagi mereka yang bcresiko mcngalami kcrusakan kulit Untuk mcminimalkan resiko infcksi. kulit harus dibcrsihkan dengan cermat dan Icmbut dengan sabun dan air, schari scbclum dilakukan pcmbedahan. Bila operasinya tercncana, ahli bedah ortopcdi pcrlu menasehati pasicn untuk memulai pcmbcrsihan kulit dengan sabun pembunuh kuman bebcrapa hari sebclum pcrawatan di rumah sakit.

Peningkatan Mobilitas. Sebelum operasi, mobilitas pasien dapat terganggu karena nyeri. pembcngkakan, dan alat imobilisasi (mis. bidai, gips, traksi) Perawat harus membantu pasien dengan lembut menggerakkan bagian yang cedera dengan tetap membcrikan sokongan yang adekuat. Ekstremitas yang bengkak ditinggikan dan disokong secukupnya dengan tangan dan bantal.  Nyeri dikontrol sebelum bagian yang cedera dlgerakkan dengan memasang bidai dan dengan mtmberikan obat dengan waktu efektif yang tepat sebelum bagian yang cedera dlgerakkan. Gerakan dalam batas-batas imobilitas terapeutik selalu dianjurkan. Bila alat bantu (mis.tongkat, walker, kursi roda) harus digunakan pada pascaoperasi. pasien dianjurkan untuk berlatih nienggunakannya sebelum operasi. agar mereka bisa mennggunakannya dengan aman dan memungkinkan mobilitas mandiri lebih awal.

Peningkatan Konsep Diri. Pasien ortopedi preoperatif biasanya membutuhkan bantuan dalam menerima perubahan citra tubuh. Pcnurunan rasa diri atau ketidakmampuan melakukan kewajiban peran dalam hidupnya. Derajat bantuan yang diperlukan dalam hal ini sangat bervariasi, bergantung pada kejadian sebelum pemondokan, pembedahan dan rehabilitasi yang direncanakan, perubahan citra tubuh yang sementara atau menetap, dan perubahan kinerja peran. Pcrawat harus mcngembangkan hubungan saling percaya dengan pasien agar dapat mengekspresikan keprihatinan dan ansietas dan membantu mereka memeriksa perasaan mereka mengenai perubahan konsep dirinya.Perawat dapat menejermahkan segenap kesalahpahaman yang mungkin dialami pasien dan membantu mereka menyelesaikannya dengan penyesuaian yang perlu dilakukan berkaitan dengan perubahan kapasitas fisik dan konsep diri.

  1. 2.   INTRA OPERATIF

Tujuan utama pada tahap intraoperatif adalah untuk memenuhi rasa nyaman dan memenuhi keseimbangan homoestatis. Contoh tindakan perawat agar tujuan tersebut tercapai, yaitu:

  • Pengkajian di perlengkapan dan pemenuhan lingkungan bersih
  • Membuka dan memakai yang steril selama pembedahan
  • Menyediakan obat dan cairan yang bersih
  • Memantau dan memenuhi rasa nyaman
  • Memasang kateter, NGT, drain
  • Menyediakan spons, pisau, dan alat-alat lainnya .

Perawatan klien selama pembedahan berlangsung membutuhkan persiapan yang baik dan pengetahuan tentang proses yang terjadi selama prosedur pembedahan dilaksanakan :

  1. Ruang Sementara ( Holding Area )

Pada sebagian besar rumah sakit, klien lebih dahulu masukke ruang tahanan sementara yang berada di luar ruang operasi.Disana perawat menjelaskan tahap-tahap yang akan dilaksanakanuntuk menyiapakan klien menjalani permbedahan. Perawat diruang tahanan sementara biasanya adalah bagian ddari petugasruang operasi dan mengenakan pakaian, topi, dan alas kaki khususruang operasi sesuai dengan kebijakn pengontrolan infeksi rumahsakit.

Di dalam ruang tahanan sementara, perawat, perawatanastesi atau ahli anstesi memasang keteter infus ke tangan klienuntuk memberikan prosedur rutin penggantian cairan dan obat-obatan melalui intravena. Perawat juga memasang manset tekanandarah. Akibat pengaruh obat-obatan preoperatif, klien mulai merasapusing. Karena suhu ruang tahanan sementara dan ruang operasibiasanya dingin maka klien harus diberikan selimut tambahan

  1.  Kedatangan Klien ke Ruang Operasi

 Perawat memindahkan klien ke ruang operasi denganmenggunakan brankar. Klien biasanya masih sadar. Setelah klienberada si atas meja operasi, perawat mengencangkan talipengaman di sekitar klien.Perawat ruang operasi memeriksa identifikasi kardeks klien,melihat kembali lembar persetujuan tindakan, riwayat kesehatan,hasil pemeriksaan fisik, dan berbagai hasil pemeriksaan, pastikanbahwa alat protese dan barang berharga telah dilepas, danmemeriksa kembali rencana perawatan preoperatif yangberhubungan dengan rencan perawatan intraoperatif. Perawatmungkin akan memasang peralatan monitor sebelum pembedahan dilaksanakan.

  1.  Pemberian Anastesi

Klien yang menjalani pembedahan akan menerima anastesi dengan salah satu dari tiga cara sebagai berikut : umum, regional,atau lokal.

  1. Anestesi Umum 

Klien yang mendapat anestesi umum akan kehilangan seluruhsensasi dan kesadarannya. Klien juga mengalami amnesiatentang seluruh proses yang terjadi selama pembedahan.Pembedahan yang menggunakan anestesi umum melibatkanprosedur mayor, yang membutuhkan manipulasi jaringan yan gluas

 

  1. Anestesi Regional 

Induksi anestesi regional menyebabkan hilangnya sensasi padadaerah tubuh tertentu. Selama pembedahan berlangsung klienakan tetap sadar kecuali jika dokter memprogramkan pemberiantranquilizer yang dapat menyebabkan klien tidur

  1. Anestesi Lokal

        Anestesi lokal menyebabkan hilangnya sensasi pada tempatyang diinginkan. Biasanya dugunakan dalam prosedur minorpada tempat bedah sehari.

  1. Pengaturan Posisi Klien Selama Pembedahan

Selama anastesi umum, tenaga keperawatan dan dokter bedah seringkali tidak mengatur posisi klien sampai klien mencapaitahap relaksasi yang lengkap. Idealnya, posisi klien diatur agardokter bedah mudah mencapai tempat pembedahan dan fungsisirkulasi serta pernafasan adekuat. Posisi tidak boleh mengganggustruktur neuromuskular. Tim harus mencatat usia, berat badan,tinggi badan status nutrisi, keterbatasan fisik, dan kondisi yang adasebelum pembedahan serta mendokumentasikannya untukmengingatkan petugas yang akan merawat klien setelah operasi(Walsh, 1993).

  1. Peran Perawat Selama Pembedahan

Perawat melakukan satu dari dua peran selama pembedahan berlangsung, yaitu sebagai perawat instrumen atauperawat sirkulator.

  • Perawat instrumentator (scrub nurse) 

memberikan instrumen dan bahan-bahan yang dibutuhkan oleh dokter bedah selama pembedahan berlangsung dengan menggunakan teknik aseptik pembedahan yang ketat dan terbiasa dengan instrumen pembedahan.

Peran ini membutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengantisipasi instrumen apa yang dibutuhkan oleh dokter bedah dan memberikannya secara cepat dan lancar.

  • Perawat sirkulator

Adalah asisten perawat instrumentator dan dokter bedah.Saat klien pertama kali masuk ke dalam ruang aoperasi, perawtsirkulator membantu mengatur posisi klien dan menyediakanalat dan duk bedah yang dibutuhkan dalam pembedahan.Selama pembedahan berlangsung, perawat sirkulatormenyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan perawatinstrumentator, membuang alat dan spon kasa yag telah kotorserta tetap menghitung instrumen, jarum dan spons kasa yangtelah digunakan.Pada setiap akhir prosedur pembedahan, perawatinstrumentator dan sirkulator menghitung jumlah instrumen, jarum, dan spon kasa yang telah digunakan. Prosedur inimencegah tertinggalnya bahan-bahan tersebut di dalam lukabedah klien. Memantau bahan-bahan tersebut secara hati-hatipenting bagi keselamatan klien.

  1. Dokumentasi Perawatan Intraoperatif

Selama fase intraoperatif, petugas keperawatan melanjutkanrencana asuhan keperawatan preoperatif. Misalnya asaeptik yangketat harus dilakukan untuk meminimalkan resiko infeksi lukabedah. Selama prosedur pembedahan berlangsung, perawatmenjaga agar pencatatan aktivitas perawatan klien dan proseduryang dilakukan oleh petugas ruang operasi tetap akurat.Dokumentasi perawatan intraoperatif memberi data yangbermanfaat bagi perawat yang akan merawat klien setelahpembedahan 

  1. 3.   POST OPERATIF
  2. Pengkajian
    1. Lanjutkan perawatan praoperatif
    2. Kaji ulang kebutuhan pasien berkaitan dengan rasa nyeri, perfusi jaringan, promosi kesehatan, mobilitas dan konsep diri.
    3. Kaji dan pantau potensial masalah yang berkaitan dengan pembedahan: tanda vital, derajad kesadaran, cairan yang keluar dari luka, suara nafas, bising usus, keseimbangan cairan dan nyeri.
    4. Observasi resiko syok hipovolemi akibat perdarahan pada pembedahan mayor (frekwensi nadi meningkat, tekanan darah turun, konfusi, dan gelisah)
    5. Kaji kemungkinan komplikasi paru dan jantung: observasi perubahan frekwensi nadi, pernafasan, warna kulit, suhu tubuh, riwayat penyakit paru, dan jantung sebelumnya.
    6. System perkemihan: pantau pengeluaran urin, apakah terjadi retensi. Retensi dapat diakibatkan karena posis berkemih yang tidak alamiah, pembesaran prostat, dan adanya tanda infeksi saluran kemih.
    7. Observasi tanda infeksi (infeksi luka terjadi 5-9 hari, flebitis biasanya timbul pada minggu kedua) dan tanda-tanda vital.
    8. Kaji komplikasi tromboembolik: kaji tungkai untuk tandai nyeri tekan, panas, kemerahan dan edema pada betis.
    9. Kaji komplikasi emboli lemak: perubahan pola nafas, tingkah laku dan tingkat kesadaran.

 

4.4.2 Diagnose Keperawatan

1)      Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan, pembengkakan, dan imobilisasi

2)      Hambatan mobilitas fisisk b.d nyeri, pembengkakan,  prosedur pembedahan, serta adanya imobilisasi, bidai, traksi, gips.

3)      Perubahan harga diri dan citra diri b.d dampak masalah musculoskeletal

4)      Resiko tinggi syok hipovolemik

5)      Resiko tinggi infeksi

 

4.4.3 Intervensi

1)      Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan, pembengkakan, dan imobilisasi

 

Intervensi

Rasional

  • memantau tanda-tanda dan gejala yang berhubungan dengan nyeri, seperti TD, denyut jantung, suhu, warna dan kelembaban kulit, gelisah, dan kemampuan untuk focus
  • Memberikan waktu istirahat untuk memfasilitasi kenyamanan, tidur, dan relaksasi
  • Kolaborasi untuk menghilangkan nyeri seperti obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang dapat diberikan secara oral atau parenteral
  • Mandiri: berikan teknik distraksi dan relaksasi seperti: memijat sekitar daerah yang terkena, melakukan guided imagering, mendengarkan music dan lain-lain
  • · Mengidentifikasi nyeri lebih awal

 

 

 

 

 

  • · Untuk memberikan kesempatan pada pasien untuk relaksasi

 

  • · Untuk mengurangi rasa nyeri

 

 

 

 

  • · Untuk mengalihkan rasa nyeri.

 

 

2)      Hambatan mobilitas fisisk b.d nyeri, pembengkakan,  prosedur pembedahan, serta adanya imobilisasi, bidai, traksi, gips

Intervensi

Rasional

  • Evaluasi / lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi / nyeri pada tulang
  • Menjaga sisa - sisa tidur / duduk, jika jadwal kegiatan yang diperlukan untuk menyediakan waktu terus menerus istirahat dan tidur di malam hari terganggu
  • Membantu dengan rentang gerak aktif / pasif, dan latihan resistif serta isometris jika memungkinkan
  • Ubah posisi sering dengan jumlah personil yang cukup. Demonstrasikan / teknik penghapusan bantuan dan penggunaan bantuan mobilitas, misalnya, trapeze
  • Posisi dengan bantal, kantong pasir, gulungan trokanter, belat, brace

 

 

  • Gunakan bantal kecil / tipis di bawah leher
  • Mendorong pasien untuk mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan berjalan
  • Menyediakan lingkungan yang aman, misalnya, meningkatkan kursi, menggunakan pegangan tangan di toilet, menggunakan kursi roda
  • Kolaborasi: Konsul dengan fisioterapi, Menyediakan busa tikar / converter tekanan

 

  • Tingkat aktivitas / latihan tergantung pada perkembangan / resolusi dari peoses inflamasi
  • Istirahat sistemik, dianjurkan selama fase eksaserbasi akut dari penyakit dan semua yang penting untuk mempertahankan kekuatan untuk mencegah kelelahan
  • Mempertahankan / meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum

 

  • Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi

 

 

 

  • Meningkatkan stabilitas (mengurangi risiko cedera) dan posisi sendi memerptahankan diperlukan dan kesejajaran tubuh, mengurangi kontraktor
  • Mencegah fleksi leher

 

  • Untuk memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas

 

  • Menghindari cedera akibat kecelakaan / jatuh

 

 

 

  • Berguna dalam merumuskan program pelatihan / kegiatan berdasarkan kebutuhan individu dan dalam mengidentifikasi alat

 

3)      Perubahan harga diri dan citra diri b.d dampak masalah musculoskeletal

Intervensi

Rasional

  • · Membantu klien untuk mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan yang meningkatkan risiko rendah diri
  • · Membantu klien untuk mengidentifikasi perilaku saat ini yang dihasilkan dari harga diri yang rendah
  • · Mendorong pemecahan masalah secara kreatif misalkan melalui latihan menulis. Menggunakan menulis kreatif, yang memungkinkan klien untuk "menceritakan kisah mereka."
  • · Mendorong klien untuk mempertahankan tingkat tertinggi fungsi, termasuk jadwal kerja

 

 

  • · Mendorong klien untuk verbalisasi pikiran dan perasaan tentang situasi saat ini

 

  • · Membantu klien untuk mengidentifikasi apa yang telah membantu menjaga harga diri positif sejauh ini
  • · Membantu klien untuk mengidentifikasi sumber daya dan jaringan dukungan sosial yang tersedia bagi mereka saat ini
  • · Mendorong klien untuk menemukan self-help atau kelompok terapi yang berfokus pada peningkatan harga diri
  • · Mendorong klien untuk menciptakan rasa kompetensi melalui jangka pendek penetapan tujuan dan pencapaian tujuan
  • · Mendidik klien perempuan tentang harga diri perbedaan antara jenis kelamin, dan mendorong eksplorasi

 

  • · Menilai klien untuk gejala depresi dan kecemasan

 

 

 

  • · Ajarkan klien proses pemecahan masalah yang sistematis
  • · Identifikasi adalah tahap awal dari proses pemecahan masalah

 

 

  • · Rendah diri meningkatkan risiko perilaku tidak sehat (Mcgee, Williams, 2000)

 

  • · Memberikan umpan balik positif dapat meningkatkan harga diri (Chandler, 1999)

 

 

 

  • · Positif diri dipertahankan pada tingkat yang lebih tinggi pada individu yang bekerja dari pada orang nonworking (VanDongen, 1998)
  • · Membiarkan klien untuk memperjelas pikiran dan perasaan mempromosikan penerimaan diri (LeMone, 1991)
  • · Mengidentifikasi apa yang berhasil memberdayakan klien dan mendorong hasil positif

 

  • · Akal dan dukungan sosial merupakan prediktor signifikan dari harga diri (Dirksen, 2000)

 

  • · Peningkatan harga diri anggota kelompok tersebut dilaporkan (Hakim-Larson, Mruk, 1997)

 

  • · Rasa kompetensi berhubungan dengan dunia harga diri (Willoughby et al, 2000)

 

  • · Wanita cenderung memiliki harga diri yang lebih rendah dibandingkan laki-laki tidak peduli apa domain diukur (Bolognini et al, 1996)
  • · Merujuk ke spesialis yang diperlukan. Pengobatan yang tepat dan efektif dapat mencegah eksaserbasi gejala atau risiko keselamatan
  • · Krisis memberikan kesempatan untuk perubahan yang efektif dalam mengatasi keterampilan

 

 

4)      Resiko tinggi syok hipovolemik

Intervensi

Rasional

  • · Memantau masukan, pastikan setidaknya 1500 ml oral setiap 24 jam , dan memantau output, pastikan setidaknya 1000-1500 ml per 24 jam
  • · Ukur berat badan setiap hari, untuk melihat adanya dehidrasi.

 

 

  • · Memonitor kadar elektrolit darah, nitrogen urea darah, urine dan osmolalitas serum, kreatinin, hematokrit, dan hemoglobin
  • · Hindarkan makanan yang menyebabkan diuresis, missal: kopi, teh, jus anggur, dll.
  • · Pertimbangkan kehilangan cairan tambahan yang terkait dengan adanya muntah dan diare.
  • · Untuk drainase luka:
    -  Memelihara catatan yang akurat tentang jumlah dan jenis drainase.
    - Dressing luka untuk meminimalkan kehilangan cairan
    • Untuk mempertahankan cairan dalam tubuh

 

 

 

  • penurunan berat badan dari 2% - 4% menunjukkan dehidrasi ringan, 5% - 9% dehidrasi moderat, >9% dehidrasi berat.
  • Untuk melihat adanya shok hipovolemi

 

 

  • dapat meningkatkan kehilangan cairan

 

  • untuk mencegah dehidrasi

 

 

  • menghindari penguapan cairan yang terlalu banyak.

 

 

 

 

5)      Resiko tinggi infeksi

Intervensi

Rasional

  • · Identifikasi pasien apakah berisiko untuk infeksi nosokomial
  • · Lakukan rawat luka dengan teknik Antiseptik
  • · Mendorong dan menjaga asupan kalori dan protein dalam diet
  • · Batasi tindakan invasif (IV, spesimen laboratorium)
  • · Batasi pengunjung bila memungkinkan
    • Untuk menemukan masalah sejak awal
    • Untuk menghindari masuknya kuman lewat luka
    • Membantu memberikan pertahanan kekebalan tubuh
    • Untuk menghindari masuknya kuman lewat tindakan invasif
    • Setiap orang bisa menjadi media penularan infeksi
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 4

CONTOH KASUS

 

  1. 4.   PRE OPERATIF

Tn. A usia 50 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas dan langsung di bawa ke RS UA.Tn. A merasa nyeri yang hebat di bagian ekstremitas bawah sebelah kiri di karenakan tertimpa sepeda motor sehingga tidak dapat berdiri. Paha kanan klien terlihat bengkak kemerahan. Setelah di lakukan pemeriksaan foto rontgen ternyata terjadi fraktur femur tertutup derah kondiler. TTV tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 96x/menit, RR 20x/menit, suhu 38oC. Pasien akan melakukan operasi untuk repopsisi tulang femur. Sebelum dilakukan operasi pasien mengatakan takut kalau akan diadakan operasi karena pemeriksaan-pemeriksaan sebelum operasi dan prosedur operasi. Selain itu pasien merasakan nyeri hebat di daerah femur kiri.

  1. Pengkajian
    1. Biodata Pasien
      1. Nama                     : Tn. A
      2. Umur                      : 50 tahun
      3. Jenis Kelamin         : laki- laki
      4. Alamat                    : Puring
      5. Pekerjaan                : Petani
      6. No Register            :155595
      7. Dx Medis                : fraktur femur kondiler
      8. Tindakan Operasi   :
      9. Kamar Op/Tanggal : 21 November 2011, Kamar 1.
      10. Riwayat Kesehatan
        1. Keluhan Utama

Benjolan di selangkangan kanan

  1. Riwayat Penyakit Sekarang   
    Tn A Datang ke dari poli bedah pukul 12.15 WIB dengan keluhan ada nyeri hebat pada daerah femur kanan, pasien terlihat gelisah dan cemas, , TD: 120/80mmHg, N: 96x/m, S: 38oC, R: 18x/m.
  2. Riwayat Penyakit Dahulu
    Tn A sudah pernah melakukan operasi laparotomi sebelumnya.
  3. Riwayat Penyakit Keluarga
    Tidak ada keluarga yang mengalami penyakit yang dimaksud.
  4. Pola Fungsional
    1. Kebutuhan bernafas
      Sebelum sakit : pasien mampu bernafas dengan normal dan adekuat
      Saat dikaji       : RR 20x/menit, tidak ada retraksi dinding dada, tidak ada cuping hidung
    2.  Kebutuhan nutrisi
      Sebelum sakit : pasien makan 3x sehari dengan nasi dan lauk pauk.
      Saat dikaji       : terpasang RL 20tpm
    3. Kebutuhan eliminasi
      Sebelum sakit : pasien BAB 3-4x per minggu dan BAK 4-5x sehari
      Saat dikaji       : pasien belum BAB saat dikaji, dan BAK 3-4x perhari
    4. Kebutuhan gerak dan keseimbangan
      Sebelum sakit : pasien tidak memiliki kecacatan sehingga mampu bergerak dengan seimbang
      Saat dikaji       : selama sakit ada gangguan pergerakan pada femur kanan.
    5. Kebutuhan istirahat dan tidur
      Sebelum sakit : pasien biasa tidur dari jam 21. 00 samapi 05. 30 WIB atau tidur siang 1- 2 jam
      Saat dikaji       : pasien tidak dapat tidur nyenyak.
    6. Kebutuhan berpakaian
      Sebelum sakit : pasien mampu berpakain sendiri
      Saat dikaji       : pasien mampu berpakai sendiri, tapi tidak bisa memakai celana
    7. Kebutuhan personal hygiene
      Sebelum sakit : pasien biasa mandi 2x sehari, gosok gigi 2x sehari, dan keramas 2x seminggu
      Saat dikaji       : mandi terkakhir tadi pagi sebelum berangkat ke rumah sakit
    8. Kebutuhan rasa nyaman dan aman
      Sebelum sakit : pasien merasa nyaman saat badannya sehat
      Saat dikaji       : pasien merasa tidak nyaman karena adanya benjolan.
      Kebutuhan komunikasi dengan orang lain
      Sebelum sakit : pasien dapat berbicara dengan jelas dan baik.
      Saat dikaji       : pasien masih dapat diajak bicara, menjawab jika ditanya, dan suara jelas
    9. Kebutuhan spiritual
      Sebelum sakit : pasien mampu beribadah dengan baik
      Saat dikaji       : pasien tidak mampu menjalankan ibadah tapi dengan berbaring.
    10. Kebutuhan bekerja
      Sebelum sakit : pasien biasa kesawah tiap hari
      Saat dikaji       : pasien tidak dapat mengerjakan pekerjaan
    11. Kebutuhan rekreasi
      Sebelum sakit : pasien terkadang berjalan- jalan dengan cucu dan keluarganya
      Saat dikaji       : pasien hanya bisa tiduran di Rumah Sakit

 

 

  1. Pemeriksaan
    1. Keadaan umum
      Kesadaran       : Compos Metis
      Vital Sign        : TD 120/80 mmHg
      RR                   :20x/menit
      N                     : 96x/menit
      S                      :38 oC
    2. Pemeriksaan Fisik

1)      Kepala
rambut hitam, bersih, tidak ada lesi, tidak ada benjolan

2)      Mata
sklera anikterik, konjungtiva ananemis, pupil isokor

3)      Hidung
tak ada benjolan, tidak ada sumbatan jalan nafas

4)      Mulut
mukosa bibir lembab, lidah bersih, tidak ada stomatitis

5)      Leher
tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada lesi, tak ada pembearan vena jugularis

6)      Thorax
I: tidak ada jejas, tidak ada retraksi dada, tidak ada penggunaan otot bantu nafas
P: tidak ada nyeri tekan
P: paru sonor
A: paru vesikuler

7)      Abdomen
I: tak ada jejas, ada benjolan di area inguinal, tidak ada bekas jahitan di umbilikus
A: peristaltik : 8x/m
P: ada benjolan di area inguinal tak adapat dimasukan kembali
P: -

8)      Genetalia
bersih

9)      Ekstremitas
- atas: akral hangat, CRT 2detik, tidak ada jejas
- bawah: ada fraktur femur kanan, CRT 2detik, akral hangat,

  1. Persiapan Penunjang
    Laboratorium darah lengkap
    a. CT               : 5 menit
    b. BT               : 3 menit
    c. Golongan darah : A
    d. HB              : 15,7
    e. AL               : 9, 61
    f. AT               : 5,22
    g. HBSAG      : NEGATIF
    h. Gula Sewaktu         : 124 gr%
  2. Persiapan Pasien

a. Cairan parenteral                              : Infus RL 500 CC

b. Kebersihan colon lambung : Puasa (6 jam)
c. Kompres daerah operasi dengan kassa alcohol : Tidak
d. Personal hygiene (mandi)               : sudah mandi sebelum berangkat ke rumah sakit.     
e. Pengosongan kandung kemih         : pasien sudah BAK, produksi urin normal    
f. Latihan                                            : Pasien belum diajari nafas dalam     
g. Baju operasi                                    :Sudah
h. Inform Consent                               : Sudah

 2. Analisa Data dan Dx Keperawatan

 

Tanggal/ jam

Data

Etiologi

Problem

21-11-11

13.00wib

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DS:

Pasien mengatakan nyeri sekali

DO:

P: jatuh tertimpa motor

Q: nyeri hebat

R: femur dextra

S: 7

T : nyeri terus- menerus

Ø  Pengkajian fisik

pembengkakan pada daerah femur sebelah kanan.

Ø  Vital sign

N: 96x/m, S: 38,0 C, RR: 18 x/m

Fraktur

 

Pembengkakan pada femur

 

nyeri

 

 

 

 

 

 

 

nyeri

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

21-11-11

13.00 wib

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ds: Pasien mengatakan tidak dapat bergerak bebas

 

Do:

-          pemasangan gips/ traksi

pemeriksaan fisik :

Ada pembengkakan, pemasangan gips/ traksi

Ø  Vital sign

N: 96x/m, S: 380 C, RR: 20 x/m

CRT 2 detik, akral hangat.

 

 

 

Fraktur

 

Pembengkakan pada femur

 

Pemasangan gips/traksi

 

Hambatan mobilitas fisik

 

 

 

 

 

 

 

 

Hambatan mobilitas fisik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

21-11-12

13.00

 

 

DS : pasien mengatakan badannya lemas

 

DO:

-          pendarahan 100 cc

 

Ø  Pengkajian fisik :

 -      - fraktur, luka,

;

Ø  Vital sign

N: 96x/m, S: 380 C, RR: 20 x/m

Fraktur

 

 

Pendarahan

 

 

Resiko Syok Hipovolemik

 

 

 

 

 

 

Resiko Syok hipovolemik

 

 

 

 

 

 

 

 

21-11-11

13.00

 

Ds : -

Do :

-luka terbuka

 

Pengkajian Fisik :

Fraktur, luka,

 

Ø  Vital sign

N: 96x/m, S: 380 C, RR: 20 x/m

 

 

 

Fraktur

 

Luka Terbuka

 


Resiko Infeksi

Resiko Infeksi

 

 

4.4.2 Diagnose Keperawatan

1)      Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan, pembengkakan, dan imobilisasi

2)      Hambatan mobilitas fisisk b.d nyeri, pembengkakan,  prosedur pembedahan, serta adanya imobilisasi, bidai, traksi, gips.

3)      Resiko tinggi syok hipovolemik

4)      Resiko tinggi infeksi

 

4.4.3 Intervensi

1)      Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan, pembengkakan, dan imobilisasi

 

Intervensi

Rasional

  • memantau tanda-tanda dan gejala yang berhubungan dengan nyeri, seperti TD, denyut jantung, suhu, warna dan kelembaban kulit, gelisah, dan kemampuan untuk focus
  • Memberikan waktu istirahat untuk memfasilitasi kenyamanan, tidur, dan relaksasi
  • Kolaborasi untuk menghilangkan nyeri seperti obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang dapat diberikan secara oral atau parenteral
  • Mandiri: berikan teknik distraksi dan relaksasi seperti: memijat sekitar daerah yang terkena, melakukan guided imagering, mendengarkan music dan lain-lain
  • · Mengidentifikasi nyeri lebih awal

 

 

 

 

 

  • · Untuk memberikan kesempatan pada pasien untuk relaksasi

 

  • · Untuk mengurangi rasa nyeri

 

 

 

 

  • · Untuk mengalihkan rasa nyeri.

 

 

2)      Hambatan mobilitas fisisk b.d nyeri, pembengkakan,  prosedur pembedahan, serta adanya imobilisasi, bidai, traksi, gips

Intervensi

Rasional

  • Evaluasi / lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi / nyeri pada tulang
  • Menjaga sisa - sisa tidur / duduk, jika jadwal kegiatan yang diperlukan untuk menyediakan waktu terus menerus istirahat dan tidur di malam hari terganggu
  • Membantu dengan rentang gerak aktif / pasif, dan latihan resistif serta isometris jika memungkinkan
  • Ubah posisi sering dengan jumlah personil yang cukup. Demonstrasikan / teknik penghapusan bantuan dan penggunaan bantuan mobilitas, misalnya, trapeze
  • Posisi dengan bantal, kantong pasir, gulungan trokanter, belat, brace

 

 

  • Gunakan bantal kecil / tipis di bawah leher
  • Mendorong pasien untuk mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan berjalan
  • Menyediakan lingkungan yang aman, misalnya, meningkatkan kursi, menggunakan pegangan tangan di toilet, menggunakan kursi roda
  • Kolaborasi: Konsul dengan fisioterapi, Menyediakan busa tikar / converter tekanan

 

  • Tingkat aktivitas / latihan tergantung pada perkembangan / resolusi dari peoses inflamasi
  • Istirahat sistemik, dianjurkan selama fase eksaserbasi akut dari penyakit dan semua yang penting untuk mempertahankan kekuatan untuk mencegah kelelahan
  • Mempertahankan / meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum

 

  • Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi

 

 

 

  • Meningkatkan stabilitas (mengurangi risiko cedera) dan posisi sendi memerptahankan diperlukan dan kesejajaran tubuh, mengurangi kontraktor
  • Mencegah fleksi leher

 

  • Untuk memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas

 

  • Menghindari cedera akibat kecelakaan / jatuh

 

 

 

  • Berguna dalam merumuskan program pelatihan / kegiatan berdasarkan kebutuhan individu dan dalam mengidentifikasi alat

 

Askep Pre Operatif Part1

Askep Pre Operatif Part3

Download

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :