NUZULUL ZULKARNAIN HAQ

Nuzulul Zulkarnain Haq

Statistik

My Project

    Download My Project

    Hook FolderLocker 1.0 adalah software security yang berguna untuk mengunci folder penting, folder rahasia, dsb. Pengguna dapat menambahkan password ke dalam folder agar tidak dapat dibuka oleh sembarang orang.Dengan software ini data data anda akan terlindungi dengan aman. Gunakanlah dengan bijak sesuai kebutuhan anda.

    Download : Hook FolderLocker


    Hook Anticopy 2.0 . Pernahkah data di komputer saudara di copy oleh orang lain tanpa seizin dari saudara? pastinya sebel banget dengan orang itu, apalagi kalau data yang dicuri adalah data penting yang gak ingin jatuh ketangan orang lain. nah sekarang saudara ndak perlu kuatir. dengan software ini data saudara ndak akan bisa lagi di copy ke flashdisk, hardisk external, cd dvd , disket , memory, dll.

    Download : Hook AntiCopy


    Onfreeze SMS Gateway 1.3 . Freeware. Size = 455 KB. Program yang berguna untuk mengirim sms masal dengan mudah seperti untuk pengumuman, promosi , dsb lewat komputer. Program ini bersifat freeware. Alat yang dibutuhkan hp GSM atau modem GSM yang terkoneksi ke komputer bisa lewat kabel atau bluetooth.

    Download : OnefreezeSMSgateway


    Portable Webcam 1.0 . Software alternatif untuk memakai webcam, tersedia gratis untuk di pakai simple dan mudah digunakan (286 KB) . Bisa di pakai untuk winXP, Vista, Seven.

    Download : Portable Webcam


Askep Syok Hipovolemik dan Neurogenik Part2

diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 08 June 2017
di Kep Muskuloskeletal - 0 komentar

 Askep Syok Hipovolemik dan Neurogenik Part1


2.1.1   Patofisiologi 

Syok neurogenik termasuk syok distributif dimana penurunan perfusi jaringan dalam syok distributif merupakan hasil utama dari hipotensi arterial karena penurunan resistensi pembuluh darah sistemik (systemic vascular resistance). Sebagai tambahan, penurunan dalam efektifitas sirkulasi volume plasma sering terjadi dari penurunan venous tone, pengumpulan darah di pembuluh darah vena, kehilangan volume intravaskuler dan intersisial karena peningkatan permeabilitas kapiler. Akhirnya, terjadi disfungsi miokard primer yang bermanifestasi sebagai dilatasi ventrikel, penurunan fraksi ejeksi, dan penurunan kurva fungsi ventrikel. Pada keadaan ini akan terdapat peningkatan aliran vaskuler dengan akibat sekunder terjadi berkurangnya cairan dalam sirkulasi. Syok neurogenik mengacu pada hilangnya tonus simpatik (cedera spinal). Gambaran klasik pada syok neurogenik adalah hipotensi tanpa takikardi atau vasokonstriksi kulit. Syok neurogenik terjadi karena reaksi vasovagal berlebihan yang mengakibatkan vasodilatasi menyeluruh di regio splanknikus, sehingga perfusi ke otak berkurang. Reaksi vasovagal umumnya disebabkan oleh suhu lingkungan yang panas, terkejut, takut atau nyeri. Syok neurogenik bisa juga akibat rangsangan parasimpatis ke jantung yang memperlambat kecepatan denyut jantung dan menurunkan rangsangan simpatis ke pembuluh darah. Misalnya pingsan mendadak akibat gangguan emosional. Pada penggunaan anestesi spinal, obat anestesi melumpuhkan kendali neurogenik sfingter prekapiler dan menekan tonus venomotor. Pasien dengan nyeri hebat, stress, emosi dan ketakutan meningkatkan vasodilatasi karena mekanisme reflek yang tidak jelas yang menimbulkan volume sirkulasi yang tidak efektif dan terjadi sinkop, syok neurogenik disebabkan oleh gangguan persarafan simpatis descendens ke pembuluh darah yang mendilatasi pembuluh darah dan menyebabkan terjadinya hipotensi dan bradikardia. (Ristari, 2012)

Syok neurogenik disebabkan oleh hilangnya kontrol saraf simpatis terhadap tahanan vaskular, sehingga sebagai hasilnya, terjadilah vasodilatasi arteriol dan venula secara besar-besaran di seluruh tubuh (Cheatham dkk, 2003). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, beberapa etiologi yang mendasari terjadinya syok neurogenik antara lain adalah penggunaan zat anesthesia maupun cidera pada medula spinalis yang mekanismenya kurang lebih dapat dijelaskan melalui skema berikut ini.

 

 

Gambar 2.5. Patofisiologi Syok Neurogenik

(Duane, 2008)

Bagian terpenting sistem saraf otonom bagi pengaturan sirkulasi adalah sistem saraf simpatis. Secara anatomis, serabut-serabut saraf vasomotor simpatis meninggalkan medula spinalis melalui semua saraf spinal toraks dan melalui satu atau dua saraf spinal lumbal pertama. Serabut-serabut ini segera masuk ke dalam rantai simpatis yang berada di tiap sisi korpus vertebra, kemudian menuju sistem sirkulasi melalui dua jalan utama :

-          Melalui saraf simpatis spesifik yang terutama mempersarafi pembuluh darah organ visera interna dan jantung

-          Hampir segera memasuki nervus spinalis perifer yang mempersarafi pembuluh darah perifer

Di sebagian besar jaringan, semua pembuluh darah kecuali kapiler, sfingter prekapiler, dan sebagian besar metarteriol diinervasi oleh saraf simpatis. Tentunya inervasi ini memiliki tujuan tersendiri. Sebagai contoh, Inervasi arteri kecil dan arteriol menyebabkan rangsangan simpatis untuk meningkatkan tahanan aliran darah dan dengan demikian menurunkan laju aliran darah yang melalui jaringan. Inervasi pembuluh darah besar, terutama vena, memungkinkan rangsangan simpatis untuk menurunkan volume pembuluh darah ini. Keadaan tersebut dapat mendorong darah masuk ke jantung dan dengan demikian berperan penting dalam pengaturan pompa jantung.

Selain serabut saraf simpatis yang menyuplai pembuluh darah, serabut simpatis juga pergi secara langsung menuju jantung. Perlu diingat kembali bahwa rangsangan simpatis jelas meningkatkan aktivitas jantung, meningkatkan frekuensi jantung, dan menambah kekuatan serta volume pompa jantung.

Hubungan antara saraf simpatis dan sistem sirkulasi yang baru saja dijabarkan secara singkat, sebenarnya membawa serabut saraf vasokonstriktor dalam jumlah yang banyak sekali dan hanya sedikit serabut vasodilator. Serabut tersebut pada dasarnya didistribusikan ke seluruh segmen sirkulasi dan efek vasokonstriktornya terutama sangat kuat di ginjal, usus, limpa dan kulit tetapi kurang kuat di otot rangka dan otak.

Dalam keadaan normal, daerah vasokonstriktor di pusat vasomotor terus menerus mengantarkan sinyal ke serabut saraf vasokonstriktor seluruh tubuh, menyebabkan serabut ini mengalami cetusan yang lambat dan kontinu dengan frekuensi sekitar satu setengah sampai dua impuls per detik. Impuls ini, mempertahankan keadaan kontraksi parsial dalam pembuluh darah yang disebut tonus vasomotor. Tonus inilah yang mempertahankan tekanan darah dalam batas normal, sehingga fungsi sirkulasi tetap terjaga untuk kebutuhan jaringan.

Melemahnya tonus vasomotor, secara langsung menimbulkan manifestasi klinis dari syok neurogenik. Sebagai contoh, trauma pada medula spinalis segmen toraks bagian atas akan memutuskan perjalanan impuls vasokonstriktor dari pusat vasomotor ke sistem sirkulasi. Akibatnya, tonus vasomotor di seluruh tubuh pun menghilang.

Efeknya (vasodilatasi), paling jelas terlihat pada vena-vena juga arteri kecil. Dalam vena kecil yang berdilatasi, darah akan tertahan dan tidak kembali bermuara ke dalam vena besar. Karena faktor ini, aliran balik vena maupun curah jantung akan menurun, dan dengan demikian tekanan darah secara otomatis jatuh hingga nilai yang sangat rendah. Di momen yang bersamaan, dilatasi arteriol menyebabkan lemahnya tahanan vaskular sistemik yang seharusnya membantu memudahkan kerja jantung sebagai pompa yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Pada saat ini, didapatkanlah tanda-tanda syok neurogenik yang jalur akhirnya tidak jauh berbeda dengan syok tipe lain.

Konsekuensi akhir dari gangguan perfusi dalam berbagai bentuk syok distributif dapat berbeda pada tiap pasien, tergantung dari derajat dan durasi hipoperfusi, jumlah sistem organ yang terkena, serta ada tidaknya disfungsi organ utama. Harap ditekankan bahwa apapun tipenya, sekali syok terjadi, cenderung memburuk secara progresif. Sekali syok sirkulasi mencapai suatu keadaan berat yang kritis, tidak peduli apa penyebabnya, syok itu sendiri akan menyebabkan syok menjadi lebih berat. Artinya, aliran darah yang tidak adekuat menyebabkan jaringan tubuh mulai mengalami kerusakan, termasuk jantung dan sistem sirkulasi itu sendiri, seperti dinding pembuluh darah, sistem vasomotor, dan bagian-bagian sirkulasi lainnya (Guyton & Hall, 2008).

 

 

2.1.2   WOC

 

 

2.1.3   Pemeriksaan Diagnostik

Diagnosis Banding

Tanda dan gejala serupa dengan syok hipovolemik tapi kelainan neurologik seperti quadriplegia atau paraplegia harus ada.

Diagnosis bandingnya syok neurogenik adalah vasovagal. Keduanya sama-sama menyebabkan hipotensi karena kegagalan pusat pengaturan vasomotor tetapi pada sinkop vasovagal hal ini tidak sampai menyebabkan iskemia jaringan menyeluruh dan menimbulkan gejala syok. 

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium tidak membantu diagnosis. Rontgen cervik, thorax, dan lumbosakral spinal merupakan sangat penting untuk menentukan adanya patah tulang atau tidak. CT scan dan MRI akan berguna untuk menentukan bagian medulla spinalis yang menyebabkan kompresi medulla spinalis. (Duane, 2008) 

 

2.1.4   Penatalaksanaan

  1. Penatalaksanaan Medis

Pengobatan syok neurogenik termasuk memulihkan tonus simpatis baik melalui penstabilan cedera medulla spinalis atau dalam kasus anastesi spinal, dengan memposisikan pasien secara tepat. Pengobatan syok neurogenik tergantung pada penyebabnya. (Smeltzer, 2001)

  1. Penatalaksanaa Keperawatan

Syok neurogenik dapat dicegah pada pasien yang mendapatkan anastesi spinal atau epidural dengan meninggikan bagian kepalatempat tidur 15 sampai 20 derajat untuk mencegah penyebaran anastetikke medulla spinalis.Pada kecurigaan cedera medulla spinalis, syok neurogenik dapat dicegah melalui imobilisasi pasien dengan hati-hati untuk mencegah kerusakan medulla spinalis lebih lanjut. (Smeltzer, 2001)

Pada pasien dengan syok neurogenik, intervensi keperawatan diarahkan pada mendukung fungsi kardiovaskuler dan neurologis sampai episode transien syok neurologic menghilang. Stoking elastic dan meninggikan bagian kaki tempat tidur dapat meminimalkan pengumpulan darah pada tungkai. (Smeltzer, 2001)

Pasien yang mengalami cedera medulla spinalis mungkin tidak melaporkan nyeri yang disebabkan oleh cedera internal. Karenanya, pada periode langsung pasca cedera, perawat harus memantau pasien dengan ketat terhadap resiko tanda perdarahan internal yang dapat menyebabkan syok hipovolemik. Selain itu posisi syok juga akan membantu mengalirkan darah ke organ jantung (Smeltzer, 2001)

Pemberian heparin, pemasangan stoking kompresi, dan kompresi pneumatic pada tungkai dapat mencegah pembentukan thrombus. Rentang gerak pasif ekstremitas yang imobil juga meningkatkan sirkulasi. (Smeltzer, 2001)

 

Konsep dasar untuk syok distributif adalah dengan pemberian vasoaktif seperti fenilefrin dan efedrin, untuk mengurangi daerah vaskuler dengan penyempitan sfingter prekapiler dan vena kapasitan untuk mendorong keluar darah yang berkumpul ditempat tersebut.

  1. Baringkan pasien dengan posisi kepala lebih rendah dari kaki (posisi syok).
  2. Pertahankan jalan nafas dengan memberikan oksigen, sebaiknya dengan menggunakan masker. Pada pasien dengan distress respirasi dan hipotensi yang berat, penggunaan endotracheal tube dan ventilator mekanik sangat dianjurkan. Langkah ini untuk menghindari pemasangan endotracheal yang darurat jika terjadi distres respirasi yang berulang. Ventilator mekanik juga dapat menolong menstabilkan hemodinamik dengan menurunkan penggunaan oksigen dari otot-otot respirasi.
  3. Untuk keseimbangan hemodinamik, sebaiknya ditunjang dengan resusitasi cairan. Cairan kristaloid seperti NaCl 0,9% atau Ringer Laktat sebaiknya diberikan per infus secara cepat 250-500 cc bolus dengan pengawasan yang cermat terhadap perubahan tekanan darah, akral, turgor kulit, dan urin output untuk menilai respon terhadap terapi.
  4. Bila tekanan darah dan perfusi perifer tidak segera pulih, berikan obat-obat vasoaktif (adrenergik; agonis alfa yang indikasi kontra bila ada perdarahan seperti ruptur lien) :
  • Dopamin

Merupakan obat pilihan pertama. Pada dosis > 10 mcg/kg/menit, berefek serupa dengan norepinefrin. Jarang terjadi takikardi.

  • Norepinefrin

Efektif jika dopamin tidak adekuat dalam menaikkan tekanan darah. Monitor terjadinya hipovolemi atau cardiac output yang rendah jika norepinefrin gagal dalam menaikkan tekanan darah secara adekuat. Pada pemberian subkutan, diserap tidak sempurna jadi sebaiknya diberikan per infus. Obat ini merupakan obat yang terbaik karena pengaruh vasokonstriksi perifernya lebih besar dari pengaruh terhadap jantung (palpitasi). Pemberian obat ini dihentikan bila tekanan darah sudah normal kembali. Awasi pemberian obat ini pada wanita hamil, karena dapat menimbulkan kontraksi otot-otot uterus.

  • Epinefrin

Pada pemberian subkutan atau im, diserap dengan sempurna dan dimetabolisme cepat dalam badan. Efek vasokonstriksi perifer sama kuat dengan pengaruhnya terhadap jantung Sebelum pemberian obat ini harus diperhatikan dulu bahwa pasien tidak mengalami syok hipovolemik. Perlu diingat obat yang dapat menyebabkan vasodilatasi perifer tidak boleh diberikan pada pasien syok neurogenik

  • Dobutamin

Berguna jika tekanan darah rendah yang diakibatkan oleh menurunnya cardiac output. Dobutamin dapat menurunkan tekanan darah melalui vasodilatasi perifer.

Pasien-pasien yang diketahui/diduga mengalami syok neurogenik harus diterapi sebagai hipovolemia. Pemasangan kateter untuk mengukur tekanan vena sentral akan sangat membantu pada kasus-kasus syok yang meragukan

 

2.1.5   Komplikasi

  1. Kegagalan multi organ akibat penurunan aliran darah dan hipoksia jaringan yang berkepanjangan
  2. Sindrome disstres pernafasan dewasa akibat destruksi pertemuan alveolus kapiler karena hipoksia.
  3. DIC (Koagulasi Intravaskuler Diseminasi) akibat hipoksia dan kematian jaringan yang luas sehingga terjadi pengaktivan berlebihan jenjang koagulasi

 

2.1.6   Prognosis

Prognosis syok neurogenik tergantung penyebab syok tersebut. Berhasil tidaknya penanggulangan syok terghantung kemampuan mengenal gejala-gejala syok, mengetahui, dan mengantisipasi penyebab syok serta efektivitas dan efisiensi kerja kita pada saat-saat pertama pasien mengalami syok.


 

BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN

 

3.1    SYOK HIPOVOLEMIK

Tn. N (48th) mengalami kecelakaan lalu lintas dan langsung di bawa ke RS UA. Tn. N dalam keadaan pingsan. Tn N yang mengendarai motor tertabrak mobil lalu terserempet pickup dan terpental ke pinggir jalan lalu pasien tidak sadarkan diri. Tn. N mengalami fraktur terbuka femur kondiler disertai perdarahan hebat. Dan Fraktur terbuka Cruris 1/3 proksimal. Dari pemeriksaan TTV didapatkan nadi 126x/menit, RR 26x/menit, TD 90/70 mmHg, CRT > 2detik dan kulit terlihat pucat. Jumlah perdarahan kurang lebih 1800 cc

 

3.1.1   Pengkajian

  1. Data Demografi/ identitas
  1. Nama   : Tn. N
  2. Umur   : 48 Tahun
  3. Alamat: Sutorejo Surabaya
  4. Keluhan Utama

Tanda-tanda syok perdarahan.

  1. Riwayat Penyakit Sekarang

Tn. N (48th) mengalami kecelakaan lalu lintas dan langsung di bawa ke RS UA. Tn. N dalam keadaan pingsan. Tn N yang mengendarai motor tertabrak mobil  lalu terserempet pickup lalu terpental ke pinggir jalan lalu pasien tidak sadarkan diri. Tn. N mengalami fraktur terbuka femur kondiler disertai perdarahan hebat. Dan Fraktur terbuka Cruris 1/3 proksimal.

  1. Riwayat Penyakit Keluarga

-

  1. Keadaan Umum
    1. Nadi                : 126x/menit
    2. Tekanan Darah: 90/70 mmHg
    3. RR                   : 26x/menit

 

  1. Pemeriksaan Fisik

 

Rumah Sakit Pendidikan

Universitas Airlangga

 

REKAMAN DATA PENGKAJIAN Unit Gawat Darurat

 

IDENTITAS

 

 

Nama lengkap : Tn N

Umur               : 48 hn/bln/hari

No Reg  : 28.64.53.36

Triase    :

Tgl     : 8/11/2012

Jam   : 20.15

PENGKAJIAN

 

 

Keluhan utama

Tn. N (48th) mengalami kecelakaan lalu lintas dan langsung di bawa ke RS UA. Tn. N dalam keadaan pingsan. Tn N yang mengendarai motor tertabrak mobil lalu terpental ke pinggir jalan lalu pasien tidak sadarkan diri. Tn. N mengalami fraktur terbuka femur kondiler disertai perdarahan hebat. Dan Fraktur terbuka Cruris 1/3 proksimal.

Data Biologis

Data

Masalah Keperawatan

  1. AIR WAY

ÿ    Bersih

ÿ    Sumbatan : darah/sputum/caiean asing (pada mulut & hidung)

ÿ    Mulut terkatub trismus/bismus

ÿ    Batuk produktif/tidak produktif

ÿ     …………………………………………………………………………………………..

 

  1. BREATHING

ÿ    Pergerakan dada: simetris/asimetris

ÿ    Pola nafas : dyspnoe/tachipnoe/hiperpnoe/orthopnoe

ÿ    Suara nafas wheezing/ronchi/stridor/cracles : (Vesikuler)

ÿ    Sesak : saat istirahat/beraktivitas (tak terkaji) 

ÿ    Penggunaan otot nafas tambahan : PCH/Retraksi/suprasternal

ÿ    Suara perkusi paru : (redup/sonor) 

ÿ    ………………………………………………………………………………………………………………………………

  1. CIRCULATION

ÿ    Akral : hangant/dingin

ÿ    Nadi : regular/irregular/kuat/lemah/tidak teraba

ÿ    CRT : > 3 detik/< 3 detik

ÿ    Warna kulit : cyanosis/kemerahan

ÿ     Turgor : cepat/lambat kembali

ÿ    Kulit/membrane mukosa : kering/lembab

ÿ    Peningkatan JVP

ÿ    Edema : wajah/anasarka/ekstemitas atas/bawah

ÿ    Perdarahan : 1800 cc

ÿ    ……………………………………………………………………………………………………………………….

  1. DISABILITY

ÿ    Kesadaran: CM/somnolent/stupoor/

ÿ    Reflek cahaya : ………../…………

ÿ    GCS : ……….. (E: ……M: ……V: …...)

ÿ    Kejang

ÿ    AFGAR Score : 1’ :.... 5 ‘......

ÿ    Hemiparese/plegia: (ekstremitas kiri/ka), tetraplegi

ÿ    Nyeri skala 1.2.3.4.5.6.7.8.9.10 (tidak terkaji)

ÿ     Luka :………………………………………………………………………………………………………….…..

  1. ELIMINASI & OBSTETRI GINEKOLOGI

ALVI :

ÿ    Perubahan pola BAB  Distensi abdomen Perkusi abd dullness Nyeri saat defekasi Frekuensi BAB menurun Tidak mampu mengeluarkan feses Suara usus hipo/hiperaktif

ÿ    BAB > 3 kali ⃝ konsistensi cair                (tidak terkaji)

URI   :

ÿ    Tidak dapat BAK Nyeri saat akan BAK Bladder penuh

ÿ    Keluar urine tanpa disadari  Nokturia  Tidak mampu menahan BAK Frekuensi BAK sebih sering (tiap 2 jam)          (tidak terkaji)

Status Obstetri Ginekologi

⃝ G:....P:....A:.... ⃝ usia kehamilan:.....mgg ⃝ presentasi: ......................⃝ HPHT:......

⃝ TFU:.........cm ⃝ LP:.....cm ⃝ BJA :......x/mnt ⃝ ANC (dokter/bidan)

 

  1.  FAHRENHEIT

Suhu:.0C Tensi : 90/70 mmHg Nadi : 126 x/mnt Respirasi: 26 x/mnt

ÿ    kulit kemerahan

ÿ     badan panas

ÿ    badan & akral dingin

 

  1. GATROINTESTINAL

Membrane mucoa & konjunctiva pucat luka/imflamasi daerah mulut mudah merasa kenyang ⃝ ketidakmampuan mengunyah makanan ⃝ keengganan makan ⃝ Rambut rontok  ⃝  BU hiperaktif ⃝ BB 20 % dibawah ideal ⃝ Turgor menurun

ÿ  Bersihan jalan nafas tidak efektif

ÿ  Pola nafas tidak efektif

ÿ  Gangguan pertukaran gas

ÿ  Kegagalan ventilasi spontan

ÿ  …………………………………………..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ÿ  Kekurangan volume cairan

ÿ  Volume cairan berlebih

ÿ  Penurunan cardiac output

ÿ  …………………………………………..

 

 

 

 

 

 

ÿ  Nyeri akut/kronis

ÿ  Perfusi jaringan tidak efektif (otak)

ÿ  Kerusakan integritas kulit/jaringan

ÿ  …………………………………………..

 

 

 

 

 

 

ÿ  Konstipasi

 

ÿ  Diare

 

 

ÿ  Retensio urine

ÿ  Inkontinensia urin/risiko

ÿ  …………………………………………..

 

 

 

 

 

 

 

 

ÿ  Hipertermia

ÿ  Hipotermia

 

 

 

 

 

ÿ  Nausea

ÿ  Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh

ÿ  …………………………………………..

 

 

Data Penunjang

ÿ    EKG

ÿ    Rontgen:

ÿ    CtScan:

ÿ    USG:

ÿ    Laboratorium :

Darah :

Urine :

Feses :

         

 

3.1.2        Analisa Data

Data

Etiologi

Masalah Keperawatan

DS : -

DO :

-       RR 26 x/menit

-       Ada penarikan otot bantu pernafasan

-       CRT >2 detik

Perdarahan massif

Tubuh kekurangan suplai oksigen dan darah

Hipoperfusi alveoli

Tachipnea

Pola nafas tidak efektif

Pola nafas tidak efektif

DS : -

DO :

-       Pasien tidak sadarkan diri (stupor)

Perdarahan massif

Hipovolemia

CO

TD

Vasokonstriksi pembuluh darah

Hipoksia

Gangguan perfusi serebral

Gangguan perfusi serebral

DS : -

DO :

-       Nadi 126x/menit

-       TD 90/70 mmHg

-       CRT >2 detik

-       Akral dingin

Perdarahan massif

Hipovolemia

CO

TD

tonus simpatik meningkat

rapid HR

Gangguan perfusi jaringan

DS : -

DO :

-       Perdarahan massive ± 1.800 mL

-       Akral dingin

-       Turgor kulit jelek

Perdarahan massif

Tubuh kekurangan darah dan cairan

Hipovolemia

Kekurangan volume cairan

Defisit volume cairan

DS : -

DO :

-       Perdarahan massif ± 1.800 mL

-       Adanya luka terbuka akibat fraktur cruris

Trauma langsung

fraktur terbuka cruris

adanya luka

resiko tinggi infeksi

Resiko tinggi infeksi

 

3.1.3        Diagnosa Keperawatan

  1. Gangguan pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru,  suplai oksigen.
  2. Gangguan perfusi serebral berhubungan dengan kekurangan suplai oksigen ke otak.
  3. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplay darah ke jaringan, penurunan curah jantung
  4. Defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan massive.
  5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka port de entrée.

 

3.1.3 Rencana Keperawatan

DIAGNOSA

NOC

NIC

Gangguan pola nafas tidak efektif

NOC:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, pasien menunjukkan keefektifan pola nafas

NIC:

  1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (posisi syok dan head up)
  2. Oksigenasi menggunakan maksimal 10 lpm.
  3. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
  4. Atur intake cairan untuk mengoptimalkan keseimbangan
  5. Monitor respirasi dan status O2

Gangguan Perfusi serebral

NOC:

Setelah dilakukan asuhan keperawatan, ketidakefektifan perfusi jaringan serebral teratasi.

 

NIC:

  1. Tinggikan kepala 0-45° tergantung pada kondisi pasien dan order medis
  2. Monitor TTV
  3. Monitor AGD, ukuran pupil, ketajaman, kesimetrisan dan reaksi
  4. Monitor tekanan intrakranial dan respon neurologis
  5. Catat perubahan pasien dalam merespon stimulus
  6. Monitor status cairan
  7. Pertahankan parameter hemodinamik

Perubahan perfusi jaringan

Memperbaiki perfusi jaringan dengan mempertahankan curah jantung

  1. kaji dan pantau status kardiovaskuler setiap 15 menit atau sesuai indikasi ; warna kulit, denyut nadi, TD, parameter hemodinamik, denyut nadi perifer dan irama jantung
  2. Berikan cairan IV sesuai instruksi
  3. Berikan dopamine, dobutamin atau ephinephrin sesuai instruksi untuk mempertahankan TD yang memadai ( > 90 mmHg sistolik)
  4. Berikan Nipride sesuai instruksi
  5.  Pantau Hb dan Ht
  6. Pantau Asidosis dengan AGd setiap hari

Defisit volume cairan

Pasien akan normovolemik

  1. Kaji status volume cairan ( TD, FJ, FP, suhu, bunyi jantung) setiap 1 jam
  2. Berikan cairan IV sesuai instruksi
  3. Kaji semua data laboratorium
  4. Monitor irama jantng
  5. Berikan obat dan elektrolit sesuai instruksi
  6. Berikan pengobatan β-adrenerjik sesuai instruksi

Resiko tinggi terhadap infeksi

Cegah infeksi nosokomial dan tangani mikroorganisme yang teridentifikas

  1. Dapatkan biakan darah sesuai instruksi
  2. Dapatkan urin, sputum dan drainase luka untuk biakan sesuai indikasi
  3. Temani pasien pada pemeriksaan radiologi diagnostic
  4. Pantau S, VS dan SDP
  5. Berikan antibiotic sesuai instruksi
  6. Pantau kadar obat antibiotic sesuai instruksi
  7. Berikan obat-obat lain : Antihistamin, NSAIDs, antibody monoclonal, steroid
  8. Gunakan teknik aseptic yang ketat saat menangani aliran infasive, kateter, selang-selang  dsb

 

3.1.4 Evaluasi

Hasil yang diharapkan setelah pasien Syok Hipovolemik mendapatkan intervensi adalah sebagai berikut.

  1. Pola nafas tidak efektif
  2. Tidak terjadi gangguan perfusi serebral
  3. perfusi jaringan adekuat
  4. Volume cairan adekuat.
  5. Tidak terjadi infeksi

 

3.2    SYOK NEUROGENIK 

3.2.1 Pengkajian

  1. 1.    Identitas

Nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, suku bangsa, agama, status perkawinan, alamat.

  1. 2.    Keluhan utama

Menurut Nursalam (2008), keluhan utama adalah keluhan saat petama kali mengkaji (data baru). Biasanya pada pasien Syok Neurogenik  mengalami defisit neurologis dalam bentuk quadriplegia atau paraplegia. Sedangkan pada keadaan lanjut, sesudah pasien menjadi tidak sadar, barulah nadi bertambah cepat. Karena terjadinya pengumpulan darah di dalam arteriol, kapiler dan vena, maka kulit terasa agak hangat dan cepat berwarna kemerahan.

  1. 3.    Riwayat kesehatan saat ini

Menurut Nursalam (2008), riwayat penyakit saat ini adalah hal yang menjadi penyebab utama klien atau alasan klien datang ke Rumah Sakit. Biasanya penyebeb utama klien mengalami Syok Neurogenik adalah karena SCI, nyeri hebat pada fraktur tulang, atau trauma kepala (terdapat gangguan pada pusat otonom).

  1. 4.    Riwayat penyakit dahulu

Beberapa hal penting yang perlu diketahui pada pasien baik dari keluarga maupun teman dekatnya dalam pengkajian riwayat kesehatannya, antara lain: Riwayat trauma, riwayat penyakit jantung, riwayat infeksi, riwayat pemakaian anafilaktik.

 

 

  1. 5.    Psikokultural

Mengkaji respon klien terhadap penyakit dan perannya dalam keluarga dan masyarakat. Adanya kelemahan fisik, dan prognosis penyakit yang berat akan memberikan dampak rasa cemas dan koping yang maladaptif pada klien.

 

Pemeriksaan Fisik

B1 (breathing) : Takipnea, pernapasan cepat dan dangkal 

B2 (blood) : Tekanan darah menurun atau hipotensi, nadi lemah, bradikardi, vena perifer kolaps, CVP rendah 

B3 (brain) : Gangguan status mental, deficit neurologis berupa quadraplegi atau paraplegi, kesadaran menurun, sinkop 

B4 (baldder) : Terjadi oliguri-anuria, haluaran urin berkurang. 

B5 (bowel) : Mual dan muntah, serta anoreksia, membrane mukosa kering 

B6 (bone) : Letargi, Kulit kering, kulit terasa hangat dan berwarna kemerahan, turgor buruk. 

 

Pengkajian Penunjang  

  • Pemeriksaan darah: Hb, Hmt, Leukosit, dan golongan darah 
  • Kadar elektrolit, kadar ureum, kreatinin, dan glukosa darah 
  • Analisa gas darah 
  • EKG 
  • Rontgen toraks 
  • Kultur darah 

 

3.2.2 Diagnosis keperawatan

  1. Gangguan perfusi jaringan (serebral, kardiopulmonal, perifer) berhubungan dengan menurunnya aliran darah karena vasokontriksi, trauma jaringan/tulang. 
  2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan faktor mekanis (preload, afterload dan kontraktilitas miokard) 
  3. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh ditandai dengan suhu tubuh meningkat, kulit teraba hangat, kulit kemerahan 

 

3.2.3  Rencana keperawatan

  1. Gangguan perfusi jaringan (serebral, kardiopulmonal, perifer) berhubungan dengan menurunnya aliran darah karena vasokontriksi, trauma jaringan/tulang.

Tujuan: gangguan perfusi jaringan dapat diatasi

Kriteria hasil:

  1. Akral hangat
  2. Tanda-tanda vital dalam batas normal
  3. Capilary fill time < 2
  4. Urin output 1 ml/kgBB/jam
  5. Analisa gas darah normal

Intervensi

Rasional

Pantau tanda-tanda vital pasien ( frekuensi jantung, tekanan darah, dan tekanan vena sentral ( Central Venous Pressure / CVP ) setiap jam hingga stabil, kemudian setiap 2 jam.

Penurunan frekuensi jantung, CVP, dan tekanan darah dapat mengindikasikan perubahan arteriovenousa yang mengarah pada penurunan perfusi jaringan.

Pantau warna dan suhu kulit pasien setiap 2 jam dan kaji tanda-tanda kerusakan kulit.

Kulit yang dingin, pucat, berbercak dan sianosis dapat mengindikasikan penurunan perfusi jaringan.

Pantau laju pernapasan dan suara napas pasien. Catat setiap temuan.

 

peningkatan laju pernapasan dapat mengindikasikan bahwa pasien sedang bekompensasi terhadap hipoksia jaringan.

Pantau perubahan frekuensi dan irama jantung pada EKG.

untuk mengetahui perubahan perfusi jaringan yang mungkin mengancam jiwa.

Pertahankan terapi oksigen untuk pasien, sesuai program

untuk memaksimalkan pertukaran oksigen dalam alveoli dan pada tingkat sel.

Dorong pasien untuk sering beristirahat

untuk menghemat energy dan memaksimalkan perfusi jaringan

Pantau kadar kreatinin kinase, laktat dehidrogenase dan kadar gas darah arteri.

 

temuan abnormal mungkin mengindikasikan kerusakan jaringan atau penurunan pertukaran oksigen dalam paru pasien.

Kolaborasi:

  1. Pemeriksaan laboratirum lengkap
  2. Pemberian cairan infus sesuai indikasi
  3. Pemberian obat-obatan sesuai indikasi

 

 

  1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan faktor mekanis (preload, afterload dan kontraktilitas miokard) 

Tujuan: penurunan curah jantung dapat diatasi

Kriteria hasil: 

  1. Pasien mencapai stabilitas hemodinamik. Frekuensi nadi tidak kurang dari  80 kali/menit, dan tidak lebih dari 100x/menit. Tekanan darah tidak kurang dari 120/70 mmHg, dan tidak lebih dari 120/80 mmHg. 
  2. Pasien tidak menunjukan aritmia. 
  3. Kulit tetap hangat dan kering. 
  4. Pasien tidak menunjukan adanya edema pada kaki. 
  5. Pasien mencapai aktivitas dengan denyut jantung dalam batas normal. 
  6. Penurunan beban kerja jantung 

Intervensi

Rasional

Pantau dan catat tingkat kesadaran ,denyut dan irama jantung, dan tekanan darah sekurang-kurangnya setiap 4 jam atau lebih sering bila diperlukan.

untuk mendeteksi hipoksia serebral akibat penurunan curah jantung

Lakukan auskultasi bunyi jantung dan suara napas minimal setiap 4 jam. Laporkan suara napas yang tidak normal sesegera mungkin.

bunyi jantung tambahan dapat mengindikasikan dekompensasi jantung awal ; sura napas tambahan dapat mengindikasikan kongesti pulmonal dan penurunan curah jantung.

Atasi aritmia secara tepat sesuai instruksi

untuk mencegah krisis yang mengancam hidup

Secara bertahap tingakatkan aktivitas dengan denyut jantung dalam batas normal

agar jantung dapat melakukan penyesuaian terhadap peningkatan kebutuhan oksigen.

Pantau kecepatan denyut nadi sebelum dan setelah beraktivitas, sesuai instruksi.

untuk membandingkan kecepatan dan mengukur toleransi.

Rencanakan aktivitas pasien.

untuk menghindari keletihan dan peningkatan beban kerja miokardium.

Kolaborasi

  1. Pemberian O­2
  2. Pemberian infus sesuai indikasi
  3. Pemberian obat-obatan sesuai indikasi
  4. Rekam EKG pemeriksaan laboratorium darah

 

 

 

  1. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh ditandai dengan suhu tubuh meningkat, kulit teraba hangat, kulit kemerahan 

Tujuan: suhu tubuh pasien dalam batas normal

Kriteria hasil: 

  1. Kulit pasien tidak kemerahan
  2. Suhu tubuh dalam batas normal (36-37oC)
  3. Kulit  pasien tidak teraba hangat

Intervensi

Rasional

Pantau suhu pasien (derajat dan pola); perhatikan menggigil /diaphoresis

suhu 38,9o – 41,1oC menunjukkan proses penyakit infeksius akut. Pola demam dapat membantu dalam diagnosis; mis, kurva demam lanjut berakhir lebih dari 24 jam menunjukkan demam remitten ( bervariasi hanya beberapa derajat pada arah tertentu. Menggigil sering mendahului puncak suhu.

 

Pantau suhu lingkungan, batasi/tambahan linen tempat tidur, sesuai indikasi

-   suhu ruangan/ jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal.

Berikan kompres mandi hangat pada lipatan paha dan aksila, hindari penggunaan alcohol

dapat  membantu mengurangi demam. Catatan : penggunaan air es/alcohol mungkin menyebabkan kedinginan, Peningkatan suhu secara actual. Selain itu alcohol dapat mengeringkan kulit.

Tingkatkan intake cairan dan nutrisi

Adanya peningkatan metabolisme menyebabkan kehilangan banyak energi. Untuk itu diperlukan peningkatan intake cairan dan nutrisi

Kolaborasi dengan pemberian antipiretik, misalnya ASA (aspirin), asetaminofen(Tylenol)

digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentral nya pada hipotalamus, meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi pertumbuhan organisme dan meningkatkan autodestruksi dari sel-sel yang terinfeksi.

 

3.2.4 Evaluasi

Hasil yang diharapkan setelah pasien Syok Neurogenik mendapatkan intervensi adalah sebagai berikut.

  1. Perfusi jaringan adekuat
  2. Curah jantung normal
  3. Hiperthermi teratasi


BAB 4

PENUTUP 

 

4.1    Kesimpulan

Berhasil tidaknya penanggulangan syok tergantung dari kemampuan mengenal gejala-gejala syok, mengetahui, dan mengantisipasi penyebab syok serta efektivitas dan efisiensi kerja kita pada saat-saat/menit-menit pertama pasien mengalami syok.

Syok adalah gangguan sistem sirkulasi dimana sistem kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) tidak mampu mengalirkan darah ke seluruh tubuh dalam jumlah yang memadai yang menyebabkan tidak adekuatnya perfusi dan oksigenasi jaringan. Syok terjadi akibat berbagai keadaan yang menyebabkan berkurangnya aliran darah, termasuk kelainan jantung (misalnya serangan jantung atau gagal jantung), volume darah yang rendah (akibat perdarahan hebat atau dehidrasi) atau perubahan pada pembuluh darah (misalnya karena reaksi alergi atau infeksi)

 

4.2    Saran

Dengan mempelajari materi ini mahasiswa keperawatan yang nantinya menjadi seorang perawat professional agar dapat lebih peka terhadap tanda dan gejala ketika menemukan pasien yang mengalami syock sehingga dapat melakukan pertolongan segera. Mahasiswa dapat melakukan tindakan-tindakan emergency  untuk melakukan pertolongan segera kepada pasien yang mengalami syock.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hudak & Gallo, 1994, Keperwatan Kritis: Pendekatan Holistik, edk. 6, vol. 2, trans. Sumarwati, M. dkk., EGC, Jakarta.

Cole, Elaine. 2009. Trauma Care. UK : Wiley-Blackwell

Huether. McCance & Brashers. Rote. Understanding Patophysiology. 2008. Missouri: Mosby

Urden, linda D.dkk. 2008. Priorities in critical care nursing. Canada: Mosby Elseveir

Zimmerman J L, Taylor R W, Dellinger R P, Farmer J C, Diagnosis and Management of Shock, dalam buku: Fundamental Critical Support. Society of Critical Care Medicine, 1997

Duane lynn, 2008. Types of Shock. Diakses dari www.mnhealthandmedical.com

Advance Trauma Life Support. 2001. Edisi keenam. American Collage of Surgeons.

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart. Jakarta : EGC.

Bewes, Petter. 2001. Bedah Primer : Trauma. Jakarta : EGC

 

Download

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :