NUZULUL ZULKARNAIN HAQ

Nuzulul Zulkarnain Haq

Statistik

My Project

    Download My Project

    Hook FolderLocker 1.0 adalah software security yang berguna untuk mengunci folder penting, folder rahasia, dsb. Pengguna dapat menambahkan password ke dalam folder agar tidak dapat dibuka oleh sembarang orang.Dengan software ini data data anda akan terlindungi dengan aman. Gunakanlah dengan bijak sesuai kebutuhan anda.

    Download : Hook FolderLocker


    Hook Anticopy 2.0 . Pernahkah data di komputer saudara di copy oleh orang lain tanpa seizin dari saudara? pastinya sebel banget dengan orang itu, apalagi kalau data yang dicuri adalah data penting yang gak ingin jatuh ketangan orang lain. nah sekarang saudara ndak perlu kuatir. dengan software ini data saudara ndak akan bisa lagi di copy ke flashdisk, hardisk external, cd dvd , disket , memory, dll.

    Download : Hook AntiCopy


    Onfreeze SMS Gateway 1.3 . Freeware. Size = 455 KB. Program yang berguna untuk mengirim sms masal dengan mudah seperti untuk pengumuman, promosi , dsb lewat komputer. Program ini bersifat freeware. Alat yang dibutuhkan hp GSM atau modem GSM yang terkoneksi ke komputer bisa lewat kabel atau bluetooth.

    Download : OnefreezeSMSgateway


    Portable Webcam 1.0 . Software alternatif untuk memakai webcam, tersedia gratis untuk di pakai simple dan mudah digunakan (286 KB) . Bisa di pakai untuk winXP, Vista, Seven.

    Download : Portable Webcam


Askep Fraktur Pelvis dan Fraktur Artikulasi Cubitii Part2

diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 08 June 2017
di Kep Muskuloskeletal - 0 komentar

Askep Fraktur Pelvis dan Fraktur Artikulasi Cubitii Part1

 

d.  Komplikasi

Komplikasi yang sering muncul adalah syok, yaitu keadaan berkurangnya perfusi  organ dan oksigenasi jaringan serta gangguan mekanisme homeostatis.

 Fase-fase syok 

 Menurut patofisiologinya, syok terbagi atas 3 fase yaitu (Komite Medik, 2000):

  1. Fase Kompensasi

Penurunan curah jantung (cardiac output) terjadi sedemikian rupa sehingga timbul gangguan perfusi jaringan tapi belum cukup untuk menimbulkan gangguan seluler. Mekanisme kompensasi dilakukan melalui vasokonstriksi untuk menaikkan aliran darah ke jantung, otak dan otot skelet dan penurunan aliran darah ke tempat yang kurang vital. Faktor humoral dilepaskan untuk menimbulkan vasokonstriksi dan menaikkan volume darah dengan konservasi air. Ventilasi meningkat untuk mengatasi adanya penurunan kadar oksigen di daerah arteri. Jadi pada fase kompensasi ini terjadi peningkatan detak dan kontraktilitas otot jantung untuk menaikkan curah jantung dan peningkatan respirasi untuk memperbaiki ventilasi alveolar. Walau aliran darah ke ginjal menurun, tetapi karena ginjal mempunyai cara regulasi sendiri untuk mempertahankan filtrasi glomeruler. Akan tetapi jika tekanan darah menurun, maka filtrasi glomeruler juga menurun.

  1. Fase Progresif/dekompensasi

Terjadi jika tekanan darah arteri tidak lagi mampu mengkompensasi kebutuhan tubuh. Faktor utama yang berperan adalah jantung. Curah jantung tidak lagi mencukupi sehingga terjadi gangguan seluler di seluruh tubuh. Pada saat tekanan darah arteri menurun, aliran darah menurun, hipoksia jaringan bertambah nyata, gangguan seluler, metabolisme terganggu, produk metabolisme menumpuk, dan akhirnya terjadi kematian sel.

Dinding pembuluh darah menjadi lemah, tak mampu berkonstriksi sehingga terjadi bendungan vena, vena balik (venous return) menurun. Relaksasi sfinkter prekapiler diikuti dengan aliran darah ke jaringan tetapi tidak dapat kembali ke jantung. Peristiwa ini dapat menyebabkan trombosis kecil-kecil sehingga dapat terjadi koagulopati intravasa yang luas (DIC = Disseminated Intravascular Coagulation). Menurunnya aliran darah ke otak menyebabkan kerusakan pusat vasomotor dan respirasi di otak. Keadaan ini menambah hipoksia jaringan. Hipoksia dan anoksia menyebabkan terlepasnya toksin dan bahan lainnya dari jaringan (histamin dan bradikinin) yang ikut memperjelek syok (vasodilatasi dan memperlemah fungsi jantung). Iskemia dan anoksia usus menimbulkan penurunan integritas mukosa usus, pelepasan toksin dan invasi bakteri usus ke sirkulasi. Invasi bakteri dan penurunan fungsi detoksikasi hepar memperjelek keadaan. Dapat timbul sepsis, DIC bertambah nyata, integritas sistim retikuloendotelial rusak, integritas mikro sirkulasi juga rusak. Hipoksia jaringan juga menyebabkan perubahan metabolisme dari aerobik menjadi anaerobik. Akibatnya terjadi asidosis metabolik, terjadi peningkatan asam laktat ekstraseluler dan timbunan asam karbonat di jaringan.

  1. Fase Irevesibel

Karena kerusakan seluler dan sirkulasi sedemikian luas sehingga tidak dapat diperbaiki. Kekurangan oksigen mempercepat timbulnya ireversibilitas syok. Gagal sistem kardiorespirasi, jantung tidak mampu lagi memompa darah yang cukup, paru menjadi kaku, timbul edema interstisial, daya respirasi menurun, dan akhirnya anoksia dan hiperkapnea.

-                   Dari fase-fase tersebut maka tanda-tanda syok yang harus di observasi adalah :

  1. Tekanan darah rendah
  2. Suhu tubuh rendah
  3. Denyut nadi cepat
  4. Lemah, akral dingin, dan kulit pucat

 


2.2.5 WOC TRAUMA ARTERI BRAKIALIS

 

BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN

 

3.1 Asuhan Keperawatan Fraktur Pelvis

Kasus:

Ny. S (wanita berusia 64 tahun)  mengalami fraktur pada panggul kirinya dan dirujuk ke instalasi gawat darurat RSUA dengan keluhan nyeri hebat, ada luka aberasi di sekitar tonjolan tulang panggul dan mengalami perdarahan subkutan di sekitar  panggul.

Ny S tidak dapat menggerakkan daerah pinggul sampai pangkal paha tetapi dapat menggerakkan jari kaki sebelah kirinya dan dapat menggerakkan kaki kanan dengan baik. Sebelumnya ,Ny S terjatuh terlempar dari becak yang ditumpanginya karena tertabrak oleh kendaraan bermontor yang melaju kencang.

Pemeriksaan Diagnosa meliputi tes CBC, pemeriksaan darah, dan pemeriksaan X-ray pada panggul kiri dan tulang pelvis. Hasil CBC menunjukkan kadar hemoglobin 8,0g/dL dan jumlah sel darah putih normal. Dari hasil pemeriksaan x-ray dan Ct-scan diketahui adanya fraktur pelvis dengan cedera kompresi anteroposterior tipe II

3.1.1 Pengkajian  

3.1.1.1 Anamnesa 

  1. Data Demografi klien :

1)        Nama                      : Ny. S                         6) Agama        : Islam

2)        Usia                         : 64 tahun                    7) Tanggal MRS          :  2 Desember 2012

3)        Jenis Kelamin          : Perempuan                8) Jam MRS    : 16.00 WIB

4)        Suku / bangsa          : Jawa/ Indonesia        9) Diagnosa     : Fr. pelvis AP Tipe 2

5)        Alamat                    : Kradian Kadipuro, Banjarsari

  1. Identitas Penanggung Jawab :

1)      Nama                       : Tn. D

2)      Umur                                    : 40 tahun

3)      Jenis kelamin                        : Laki-laki

4)      Pendidikan/ pekerjaan : Karyawan Swasta

5)      Hubungan dg klien : Anak klien

  1. Keluhan Utama:

Klien mengeluh nyeri hebat pada daerah panggul kiri

  1. Riwayat Penyakit Sekarang:

nyeri hebat pada panggul kirinya, klien tampak anemia, ada luka aberasi di sekitar tonjolan tulang panggul dan mengalami perdarahan subkutan di sekitar  panggul.

  1. Riwayat Penyakit sebelumnya :  klien mengalami riwayat osteoporosis.

-        Kultur dan kepercayaan : -

-        Perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan :  -

-        Persepsi keluarga tentang penyakit anak : cobaan Tuhan

  1. Keadaan psikologis Perilaku : menunjukan sikap yang positif koperatif selama dirawat.

-      Pola emosional : klien menanyakan tentang keadaan penyakitnya

-      Konsep diri : tidak ada gangguan

-      Daya ingat : masih baik

  1. Keadaan Sosial ekonomi

-      Status ekonomi : klien bergantung pada pendapatan dari dana pensiun

-      Kegiatan rekreasi : jarang dilakukan

-      bahasa komunikasi : bahasa Jawa

-      Hubungan dengan keluarga : baik

 

  1. 1.         
  2. 2.         
  3. 3.         

3.1         

3.1.2        Pemeriksaan Fisik 

-      Keadaan Umum : lemah

-      Kesadaran       : composmentis 

-      Tanda-tanda vital :

       TD : 120/58 mmHg                      HR :  80 x/menit

       T : 36,6⁰ C                                   RR : 20 X/menit 

-      Pemeriksaan Umum :

-      B1 (Pernafasan)    :    Suara nafas vesikuler, pergerakkan dada simetris, tidak

    teraba massa, pergerakkan dinding thorax simetris, tidak      ada retraksi dada, tidak memakai alat bantu pernafasan,  Irama teratur, tidak terlihat gerakan cuping hidung, tidak terlihat sianosis..

-       B2 (Kardiovaskuler) :   Konjungtiva anemi, nyeri dada (-), irama reguler,  murmur (-), JVP normal, CRT kuang dari 2 detik, perfusi hangat. Cor S1 S2 tunggal reguler, ekstra sistole/murmur tidak ada.

-      B3 (Neurovaskuler)           :  Tingkat kesadaran (GCS)  : 456, Compos Mentis: Pasien sadar

-      B4 (Perkemihan)   : tidak ada ruptur uretra,  Jumlah urine 1200 cc/24 jam,

   warna urine kuning pekat, Genital Hygiene cukup bersih.

- B5 (Pencernaan)  : Peristaltik normal, tidak kembung, tidak terdapat konstipasi maupun diare, klien buang air besar 1 X/hari

-    B6 (Bone)              : Keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian panggul kiri,     bengkak local, nyeri (P: ada luka aberasi di sekitar tonjolan tulang  panggul Q: nyeri hebat seperti terpotong, tidak merasa kesemutan dan panas/terbakar R: nyeri pada daerah persendian dan tulang panggul kiri, S: skala 7 T: nyeri bertambah saat bergerak Klien nampak meringis kesakitan.)

 

3.1.3.       Pemeriksaan Penunjang

  1. Laboratorium

Darah Lengkap :

-        Eritrosit : 5.0 juta/ul                 N:. (L : 4,33 – 5,95  P : 3,9 – 4,5). (juta/ul)

-        Haemoglobin (Hb) : 8 g/dl            N: (L : 13,4 – 17,7 P : 11,4 – 15,1) (g/dl)

-        Hematokrit (Ht) : 41.0 %        N : (40 – 54) (%)

-        Trombosit : 160.000 u/l                       N:  (150.000 – 400.000) (/ul)

-        Leukosit : 9700            u/l                    N:  (L : 4.700 – 10.300    P : 4.500 – 11.300). (/ul)

-        PCV                             : 37,1 %           (L 40 – 47       P 38 – 42).

-        MCV                           : 82 Fl              (80 – 93).

-        MCH                           : 30,1 Pg          (27 – 31).

-        MCHC                         :36,0 g/dl         (32 – 36).

Fungsi Ginjal

-        BUN                            : 11 mg/dl        (9 – 18).

-        Serum Creatinin                       : 1,1 mg/dl       (L < 1,52 P < 1,19).

Fungsi Hati

-        SGOT                          : 76 U/L           (L < 37P < 31).

-        SGPT                           : 23 U/L           (L < 40P < 31).

     Bilirubin

-        Direk                            : 0,25 mg/dl     (< 0,25 mg/dl).

-        Indirek                         : 0,61 mg/dl     (< 0,75 mg/dl).

-        Total                            : 0,86               (< 1,00 mg/dl).

-        Kalium                         : 4 mmol/l        (3,5 – 5,2 mmol/l).

-        Natrium                                   : 140 mmol/l    (135 – 146 mmol/l).

-        Albumin                                   : 3,4 gr/dl         (3,2 – 3,5 gr/dl).

  1. Pemeriksaan Diagnostik

-        Hasil Pemeriksaan X- ray

  Tampak pelebaran simfisis pubis 2,6 cm, Pecahnya ligs sacrospinous dan sacrotuberous

 

 

 

 

-      Hasil Pemeriksaan CT Scan: 

  

3.2 Analisis Data

No

Data

Etiologi

Masalah Keperawatan

1.

DS:  pasien mengeluh nyeri hebat pada panggul bagian kiri

DO:

P: ada luka aberasi di sekitar tonjolan tulang panggul

Q: nyeri hebat seperti terpotong, tidak merasa kesemutan dan panas/terbakar

R: nyeri pada daerah persendian dan tulang panggul kiri,

S: skala 7

T: nyeri bertambah saat bergerak

Klien nampak meringis kesakitan.

N : 80X/ menit

TD : 120/58 mmHg

Fraktur pelvis

Terputusnya kontinuitas tulang

Pergeseran fragmen tulang

Menekan saraf

nyeri

Nyeri

2

DS :-

DO :

Klien tampak anemi

Hb : 8 g/dl       

TD : 120/58 mmHg 

Fraktur pelvis

Terputusnya kontinuitas tulang panggul

Pergeseran fragmen tulang

pendarahan

Output yang berlebih

Gangguan keseimbangan volume cairan dan elektrolit

3

DS:

Ny S mengatakan  tidak dapat menggerakkan daerah pinggul sampai pangkal paha tetapi dapat menggerakkan jari kaki sebelah kirinya dan dapat menggerakkan kaki kanan dengan baik.

DO:

Pasien kelihatan hanya berada di tempat tidur sepanjang hari dan hanya menggerakkan sendi yang sehat saja.

Fraktur pelvis

Terputusnya kontinuitas tulang

Pergeseran fragmen tulang

deformitas

Gangguan mobilitas fisik

Gangguan Mobilitas Fisik

4.

DS: -

DO: kaki tampak kemerahan,  pada kaki yang bengkak terasa hangat/panas, timbul edema,  ROM terbatas.

 

Pembedahan

 
   

 


Adanya Luka Insisi pada sendi

 
   

 


Diskontinuitas Jaringan

 
   

 


Adanya Luka Terbuka

 
   

 


Port De Entry Kuman

 
   

 


Resiko Tinggi Infeksi

Resiko Tinggi Infeksi 

5.

DS: pasien mengatakan cemas terhadap penyakitnya

 

DO: Ekspresi wajah tegang, pasien terlihat gelisah dan sering menanyakan tenteng penyakitnya

Kurang sumber informasi

 

ansietas

Ansietas 

 

 

3.3  Diagnosa Keperawatan

  1. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas tulang atau penekanan reseptor saraf nyeri.
  2. Gangguan keseimbangan volume cairan dan elektrolit b.d output yang berlebih
  3. Gangguan mobilitas fisik b.d pergeseran frekmen tulang
  4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tatalaksana pembedahan dan diskontinuitas jaringan.
  5. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tenteng proses penyakit dan proses penyembuhan.

3.4 Intervensi Keperawatan

  1. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas tulang atau penekanan reseptor saraf nyeri

Tujuan :  setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam, nyeri berkurang

Kriteria hasil :

-        Mengungkapkan berkurangnya rasa nyeri skala nyeri 3 dengan kriteria ekspresi wajah tidak meringis

-        Tampak rileks, mampu tidur/ istirahat dengan tepat.

-        mendemostrasikan penggunaan keterampilan, relaksasi sesuai indikasi untuk situasi individu.

-        Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital normal (TD : 110/70 mmHg N : 80 x/menit)

Intervensi

Rasional

Mandiri:

  1. Kaji tingkat dan lokasi nyeri yang dirasakan klien

 

  1. Observasi tanda-tanda vital minimal setiap 2 jam sekali, sesuai kebutuhan

 

 

  1. Anjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaan mengenai nyeri yang dirasakan

 

  1. Berikan latihan rentang gerak secara pasif

Kolaborasi:

  1. Kolaborasi obat analgetik sesuai dengan kebutuhan.

 

  1. Persiapkan operasi bila diperlukan

 

  1. Deskripsi yang akurat tentang keluhan nyeri diperlukan untuk diagnosis dan pengobatan..
  2. Tanda-tanda vital dapat berubah dan merupakan indikator untuk menilai perkembangan penyakit.Membantu mengurangi panas di tubuh
  3. Menurunkan perasaan terisolasi, marah dan cemas yang dapat meningkatkan nyeri tersebut

 

  1. Menurunkan kekakuan pada sendi

 

 

  1. Berguna untuk meninggalkan rasa nyeri ketika merode lain yang telah dicoba tidak memerikan hasil yang memuaskan
  2. Operasi diperlukan untuk memperbaiki kondisi pasien

 

  1. Gangguan keseimbangan volume cairan dan elektrolit b.d output yang berlebih.

Tujuan :  setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam, menunjukkan  perbaikan keseimbangan cairan 

Kriteria Hasil :

-                     Hb normal, tidak tampak anemi

-                     tanda vital stabil,

-                     Turgor kulit membaik, membran mukosa lembab.

-                     Pengisian kapiler nadi perifer kuat.

Intervensi

Rasional

Mandiri:

  1. Awasi tanda vital, pengisian kapiler dan kekuatan nadi perifer
  2. Awasi haluaran urine dan berat jenis

 

 

  1. Observasi warna urine

 

  1. Berikan cairan IV ( biasanya glukosa ) elektrolit

Kolaborasi

  1. Pemberian Transfusi PRC

 

  1. Sebagai indikator volume sirkulasi/ perfusi.
  2. memberikan informasi tentang kebutuhan penggantian cairan / efek terapi.
  3. Mengidentifikasi derajat gangguan dan kemungkinan bantuan yang diperlukan
  4. memberikan terapi cairan dan penggantian elektrolit

 

  1. untuk memenuhi kebutuhan dasar dan mencegah anemia

 

  1. Gangguan mobilitas fisik b.d pergeseran frekmen tulang

Tujuan     : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam, pasien dapat melakukan aktivitas secara minimum

Kriteria hasil:

-        mempertahankan posisi yang optimal,

-        meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang terkena,

-        mendemonstrasikan perilaku yang memungkinkan aktivitas.

 

 

 

 

 

Intervensi

Rasional

Mandiri:

  1. Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas

 

  1. Anjurkan pasien untuk membantu pergerakan dan latihan dengan menggunakan ekstremitas yang tidak sakit.
  2. Libat keluarga dalam perawatan diri pasien (Dorong aktivitas terapeutik / rekreasi)

 

  1. Berikan diit tinggi protein, karbohidrat, vitamin dan mineral

Kolaborasi :

  1. Konsultasikan dengan ahli fisioterapi secara aktif, latihan resistif, dan ambulasi pasien.

 

 

  1. mengidentifikasi kelemahan/ kekuatan dan dapat memberikan informasi bagi pemulihan
  2. baik jika daerah yang sakit tidak menjadi lebih terganggu.

 

  1. menimbulkan dan meningkatkan potensi yang ada dalam diri untuk mengatasi masalah secara positif
  2. Berguna dalam memenuhi kebutuhan nutrisi individu dengan diet yang tepat.
  3. program khusus dapat dikembangkan untuk menemukan kebutuhan yang berarti/ menjaga kekurangan tersebut dalam keseimbangan, koordinasi, dan kekuatan.

 

  1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tatalaksana pembedahan dan diskontinuitas jaringan.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 1 x 24 jam, tidak terjadi infeksi.

Kriteria hasil :

  1. Tanda-tanda infeksi tidak ada (kemerahan, bengkak, nyeri tekan, hipertermi, perubahan fungsi)
  2. Suhu normal : 36-37,5oC
  3. Leukosit normal (4,5-10,5 x 103/uL)
  4. Kadar glukosa normal (GDA > 200 mg/dl, gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl)

 

Intervensi

Rasional

Mandiri:

  1. Pantau tanda-tanda infeksi seperti demam, kemerahan, bengkak, nyeri tekan, dan perubahan fungsi jaringan
  2. Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan dengan klien termasuk klien sendiri
  3. Pertahankan teknik aseptik pada tindakan invasif

Kolaborasi

  1. Kolaborasi pemeriksaan darah (leukosit)

 

  1. Kolaborasi pemberian antibiotik

 

  1. Menilai secara dini terjadinya infeksi sehingga dapat menentukan intervensi selanjutnya
  2. Mencegah timbulnya infeksi silang (infeksi nosokomial)

 

 

  1. Menurunkan kemungkinan tejadinya infeksi.

 

  1. Mengidentifikasi tanda infeksi melalui jumlah leukosit dalam darah
  2. Penanganan awal dapat membantu mencegah timbulnya sepsis

 

  1. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tenteng proses penyakit dan proses penyembuhan.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam, ansietas dapat teratasi

Kriteria hasil :

-    metode koping adekuat

-    keadekuatan relaksasi

Intervensi

Rasional

  1. Dekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian. Ambil keuntungan dari kegiatan yang dapat diajarkan.
  2. Berikan informasi mengenai penyebab penyakit, perjalanan penyakit serta pengobatan.

 

  1. meningkatkan harga diri dan meningkatkan kesempatan untuk belajar mengatasi keadaan
  2. Pemahaman terhadap informasi ini dapat membantu pasien dalam menentukan pilihan, mengatasi masalah.


3.2 Asuhan Keperawatan pada Fraktur Artikulasi Cubitii dengan Trauma pada Arteri Brachialis

 

3.2.1   Pengkajian

  1. 1.      Anamnesa
  2. Data demografi klien :

1)   Nama : Tn T                                             6) Agama        : Islam

2)   Usia : 30 tahun                                        7) Tgl MRS     : 2 Desember 2012

3)   Jenis kelamin : Laki-laki                          8) Jam MRS    : 16.00 wib

4)   Suku Bangsa : Jawa/ Indonesia               9) Diagnosa     : Fr. Suprakondiler

5)   Alamat     : Surabaya

  1. Keluhan utama         :

Klien mengeluh nyeri pada lengan kiri atas

  1. Riwayat penyakit sekarang :

Tn. T (30 thn) mengalami kecelakaan sepeda montor dan mengalami luka robekan di lengan kiri atas, pada siku kiri klien tampak bengkak, dan terjadi perdarahan yang hebat, perdarahan terus mengucur pada daerah luka, Klien mengeluh nyeri pada siku tangan kiri, dan tidak bisa mengangkat tangan kiri namun mampu menggerakkan jari-jarinya, kemudian pasien dibawa ke rumah sakit RSUA.

  1. Riwayat Penyakit sebelumnnya: -

 

  1. 2.      Pemeriksaan Fisik
    1. Kesadaran Umum : Lemah
    2. Kesadaran                      : Composmentis
    3. Tanda-tanda vital           :

TD : 100/58 mmHg        N : 100 x/menit

T : 36,60 C                                  RR : 20 X/menit

  1. Pemeriksaan Umum :

-        B1 (Pernafasan)       : Suara nafas vesikuler, pergerakkan dada simetris, tidak  teraba massa, pergerakkan dinding thorax simetris, tidak  ada retraksi dada, alat bantu pernafasan (-)

-        B2 (Kardiovaskuler) :   Konjungtiva anemi, nyeri dada (-), irama reguler,  murmur (-), JVP normal, CRT > 2 detik.

-     B3 (Neurovaskuler)     : pusing

-        B4 (Perkemihan)       : Tanda-tanda radang pada region CVA (-), tanda radang pada

      genital (-), nyeri tekan pada CVA (-), teraba massa pada CVA

     dan genitalia (-)

-      B5 (Bowel)                  : Distensi (-), darm contur (-), darm steifung (-), massa pada

suprapubik (-), massa pada inguinal (-), Supel (+), nyeri tekan (-), massa (-), hepar-lien tidak teraba, ginjal kiri dan kanan tidak teraba. Pada pelvic tidak teraba massa, nyeri tekan suprapubik (-), buli-buli tidak teraba. Pada inguinal tidak teraba massa, nyeri tekan (-), pembesaran KGB inguinal (-),Timpani di seluruh kuadran abdomen

-        B6 (Bone)                 : letargi atau kelemahan, nyeri pada lengan kiri atas, otot tegang, mengalami perdarahan hebat di area luka, lengan kiri tampak odem. Pada lengan kiri mengalami nyeri tekan (+), movement lengan kiri tidak dapat fleksi dan ekstensi tetapi jari-jari tangan dapat digerakkan semua, lengan kanan dan jari-jari tangan kanan dalam batas normal. Nyeri : (P : edema pada sekitar area luka, Q : Nyeri tajam dan dalam, R : nyeri hebat pada daerah siku tangan kiri, S : skala 7, T : nyeri bertambah saat bergerak. Klien tampak meringis kesakitan

 

  1. 3.      Pemeriksaan penunjang
    1. Laboratorium
  • Eritrosit                : 5,0 juta /ul    
  • Hemoglobin (Hb)   : 7 g/dl                                
  • Trombosit                        : 140.000 u/l               
  • Leukosit               : 12.000 u/l                 

 

3.2.2        Analisa Data

No

Data

Etiologi

Masalah Keperawatan

1.

Ds : pasien mengatakan banyak darah yang keluar dari luka di daerah siku kiri setelah terjadi kecelakaan.

Do : perdarahan terus mengucur pada daerah luka,

Hb 7 gr/ dl 

Fraktur siku

Mencederai arteri brakhialis

PK Pendarahan

 

PK Pendarahan 

2.

Ds : pasien mengeluh nyeri pada daerah siku kiri

Do :

-  P : edema pada sekitar area luka

-  Q : Nyeri tumpul dan dalam

-  R : nyeri hebat pada daerah siku tangan kiri

-  S : skala 7

-  T : nyeri bertambah saat bergerak.

Klien tampak meringis kesakitan

N : 100 x/menit

TD : 100/58 mmHg

Fraktur siku

Terputusnya kontinuitas tulang

Pergeseran fragmen tulang

kerusakan jaringan saraf

nyeri

Nyeri

3.

Ds : pasien mengatakan tidak bisa menggerakkan tangan kirinya.

Do :

Pada lengan kiri mengalami nyeri tekan (+), movement lengan kiri tidak dapat fleksi dan ekstensi tetapi jari-jari tangan dapat digerakkan semua.

Fraktur siku

Terputusnya kontinuitas tulang

Pergeseran fragmen tulang

Deformitas

Gangguan Mobilitas Fisik

Gangguan Mobilitas Fisik

4.

Ds : -

Do :

-               WBC : 11.000/ mm3

-    Kaki tampak kemerahan

-    Pada siku kiri tampak bengkak dan terasa hangat/panas

-    ROM terbatas

Kecelakaan

Fraktur siku

Trauma arteri brakhialis

Adanya luka terbuka

Port de Entry kuman

Resiko Tinggi Infeksi

Resiko Tinggi Infeksi


3.2.3   Diagnosa Keperawatan

  1. PK Perdarahan berhubungan dengan trauma cedera pada arteri brakhialis
  2. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan saraf
  3. Gangguan Mobilitas fisik berhubungan dengan pergeseran fragmen tulang.
  4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan port de entri kuman

 

 

3.2.4   Intervensi Keperawatan

  1. PK Perdarahan

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam, diharapakan perdarahan dapat dihentikan/ dirasakan.

Kriteria Hasil :

-      Hb normal, tidak tampak anemi

-      Haluaran urine individu adekuat

-      Tanda-tanda vital normal (N : 60-100x/menit, TD = 110-140/70-90 mmHg, suhu=36,5o-37,5oC, RR=16-24x/mnt) Akral Hangat

-      CRT< 2 dtk

Intervensi

Rasional

Mandiri :

  1. Pantau TTV
  2. Pantau tanda-tanda perdarahan

 

 

  1. Pantau tanda-tanda perubahan sirkulasi ke jaringan perifer (CRT dan sianosis)

Kolaborasi

  1. Pemberian Tranfusi Darah

 

  1. Lakukan pembedahan jika diperlukan sesuai indikasi

 

  1. Untuk mengetahui kondisi klinis pasien
  2. Mengidentifikasi adanya perdarahan, membantu dalam pemberian intervensi yang tepat.
  3. Mengetahui keadekuatan aliran darah

 

 

 

  1. Untuk memenuhi kebutuhan darah dalam tubuh.
  2. Membantu untuk menghentikan perdarahan dengan menutup area luka perdarahan.

 

  1. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan saraf

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam, nyeri berkurang

Kriteria Hasil :

-     Mengungkapkan berkurangnya rasa nyeri skala nyeri 3 dengan kriteria ekspresi wajah tidak meringis.

-     Tampak rileks, mampu tidur/ istirahat dengan tepat.

-     Mendemonstrasikan penggunaan ketrampilan, relaksasi sesuai indikasi untuk situasi individu.

-     Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital normal (TD : 110/70 mmHg, N : 80 x/menit)

Intervensi

Rasional

Mandiri :

  1. Kaji tingkat dan lokasi nyeri yang dirasakan klien

 

 

 

  1. Observasi tanda-tanda vital minimal setiap 2 jam sekali, sesuai kebutuhan.

 

 

  1. Anjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaaan mengenai nyeri yang dirasakan.
  2. Lakukan immobilisasi pada lengan dan siku dengan pemasangan mitela.

 

 

  1.  Ajarkan klien relaksasi / disrtraksi

 

 

Kolaborasi :

  1. Kolaborasi obat analgetik sesuai dengan kebutuhan.

 

  1. Deskripsi yang akurat tentang keluhan nyeri diperlukan untuk diagnosis dan pengobatan, mendeteksi dini untuk mengetahui adanya tanda kompartemen sindrom.
  2. Tanda-tanda vital dapat berubah dan merupakan indicator untuk menilai perkembangan penyakit. Membantu mengurangi panas di tubuh.
  3. Menurunkan perasaan terisolasi, marah, dan cemas yang dapat meningkatkan nyeri tersebut.
  4. Immobilisasi yang adekuat dapat mengurangi pergerakkan fragmen tulang yang menjadi unsur utama penyebab nyeri pada siku.
  5. Meningkatkan asupan O2 sehingga akan menurunkan nyeri akibat iskemia

 

  1. Berguna untuk meninggalkan rasa nyeri ketika metode lain yang telah dicoba tidak memberikan hasil yang memuaskan.

 

 

  1. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan pergeseran fragmen tulang

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan, dalam waktu 4 minggu dapat melakukan aktivitas secara minimum.

Kriteria hasil :

-      Mempertahankan posisi yang optimal

-      Meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang terkena.

-      Mendemonstrasikan perilaku yang memungkinkan aktivitas.

Intervensi

Rasional

Mandiri :

  1. Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.

 

  1. Anjurkan pasien untuk membantu pergerakan dan latihan dengan menggunakan ekstremitas yang tidak sakit.
  2. Pantau ketepatan pemasangan traksi

 

  1. Berikan diet tinggi protein, karbohiodrat, vitamin, dan mineral.

Kolaborasi

  1. Konsultasikan dengan ahli fiioterapi secara aktif, latihan resistif, dan ambulasi pasien. 

 

  1. Mengidentifikasi kelemahan/ kekuatan dan dapat memberikan informasi bagi pemulihan.
  2. Baik jika daerah yang sakit tidak menjadi lebih terganggu.

 

 

  1. Untuk mengimobilisasi ekstremitas dan menurunkan nyeri.
  2. Berguna dalam memenuhi kebutuhan nutrisi individu dengan diet yang tepat.

 

  1. Program khusus dapat dikembangkan untuk menemukan kebutuhan yang berarti/ menjaga kekurangan tersebut dalam keseimbangan, koordinasi, dan kekuatan.

 

  1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan port de entry

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 10x24 jam, tidak terjadi infeksi.

Kriteria Hasil :

-      Tanda-tanda infeksi tidak ada (kemerahan, bengkak, nyeri tekan, hipertermi, perubahan fungsi)

-      Suhu normal : 36 -37,5o C

-      Pengangkatan jahitan pasca bedah ORIF dapat dilakukan  pada hari ke-10

Intervensi

Rasional

Mandiri :

  1. Pantau tanda-tanda infeksi seperti demam, kemerahan, bengkak, nyeri tekan, dan perubahan fungsi jaringan.
  2. Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan dengan klien termasuk klien sendiri.
  3. Pertahankan teknik aseptic pada tindakan infasif
  4. Lakukan perawatan luka secara steril pada luka pasca bedah ORIF dengan iodine providium dan bersihkan dengan alcohol 70% dengan tekhnik swabbing dari arah dalam keluar.
  5. Tutup luka dengan kassa steril dan tutup luka dengan kassa gulung.

 

Kolaborasi

  1. Kolaborasi pemberian antibiotik.

 

  1. Menilai secara dini terjadinya infeksi sehingga dapat menentukan intervensi selanjutnya.
  2. Mencegah timbulnya infeksi silang (infeksi nosokomial)

 

 

  1. Menurunkan kemungkinan terjadinya infeksi.

 

  1. Teknik swabbing secara steril dapat membersihkan sisa nekrotik, debris, dan dapat mengurangi kontaminasi kuman.

 

  1. Mengurangi kontak langsung dengan udara luar dan memfiksasi kassa agar tidak lepas.

 

  1. Penanganan awal dapat membantu mencegah timbulnya sepsis.

 

 


BAB 4

PENUTUP

 

4.1 Kesimpulan

Pelvis adalah salah satu bagian dari tubuh manusia yang berfungsi penting, yaitu menahan berat badan tubuh melalui sendi sakro iliaka ke ilium , asetabulum dan dilanjutkan ke femur . Selain itu panggul berfungsi melindungi struktur-struktur yang berada didalam rongga panggul.

Fraktur pelvis dapat terjadi pada semua usia, baik dengan trauma berat atau trauma ringan atau trauma yang berulang, trauma langsung maupun tak langsung. Tetapi pada orang muda yang paling sering adalah fraktur dengan trauma berat, sedangkan pada orang tua, fraktur biasanya disebabkan dengan trauma ringan.

 Manajemen yang sukses pada perdarahan fraktur pelvis paling baik dikerjakan oleh sebuah pendekatan tim yang melibatkan profesional dari berbagai macam spesialisasi. Ahli bedah ortopedi yang berpengalaman dapat menyediakan pengenalan yang tepat terhadap pola fraktur, mencapai stabilisasi pelvis dengan segera, dan membantu dengan pembuatan keputusan yang tepat untuk memaksimalkan ketahanan hidup pasien.

4.2 Saran

Fraktur pelvis menyebabkan angka mortalitas dan morbiditas yang tinggi, sehingga dibutuhkan penanganan tim yang baik untuk mencegah komplikasi yang diakibatkannya. Untuk memperbaiki kualitas hidup pasien, harus dilakukan intervensi sedini mungkin.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Widjaja, Ignatius Harjadi.2006. “ Buku ajar anatomi pelvis”. Jakarta: FK UNTAR.

Rasjad, Chairuddin.2007.” Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi”.Jakarta: Yarsif Watampone.

Apley, Graham,” .1995. “Buku Ajar Ortopedi Dsn Fraktur Sistem Apley, Edisi Ketujuh”. Jakarta:  Widya Medika.

http://id.scribd.com/doc/62263653/4/II-INSIDENSI yang diakses pada tanggal 1 Desember 2012 pukul 09.30.

http://id.scribd.com/doc/78505541/Fraktur-Pelvis yang diakses pada tanggal 1 Desember 2012 pukul 10.00

http://id.scribd.com/doc/46143829/REFERAT-alfan yang diakses pada tanggal 1 Desember 2012 pukul 11.00

http://www.orthobullets.com/trauma/1030/pelvic-ring-fractures yang diakses pada tanggal 1 Desember pukul 12.00

Herdman, T. Heather.2009.”Nursing Diagnoses : Definitions and Classification 2009-2011”.USA : Wiley-Blackwell.

Johnson, M., Mass, M., Moorhead, S., 2000.  “Nursing Outcomes Classification (NOC) second edition”. Missouri : Mosby

Dochterman, Joanne M., Bulecheck, Gloria N.2003.”Nursing Intervention classification (NIC) 4thEdition”.Missouri : Mosby.

 

Download

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :