NUZULUL ZULKARNAIN HAQ

Nuzulul Zulkarnain Haq

Statistik

My Project

    Download My Project

    Hook FolderLocker 1.0 adalah software security yang berguna untuk mengunci folder penting, folder rahasia, dsb. Pengguna dapat menambahkan password ke dalam folder agar tidak dapat dibuka oleh sembarang orang.Dengan software ini data data anda akan terlindungi dengan aman. Gunakanlah dengan bijak sesuai kebutuhan anda.

    Download : Hook FolderLocker


    Hook Anticopy 2.0 . Pernahkah data di komputer saudara di copy oleh orang lain tanpa seizin dari saudara? pastinya sebel banget dengan orang itu, apalagi kalau data yang dicuri adalah data penting yang gak ingin jatuh ketangan orang lain. nah sekarang saudara ndak perlu kuatir. dengan software ini data saudara ndak akan bisa lagi di copy ke flashdisk, hardisk external, cd dvd , disket , memory, dll.

    Download : Hook AntiCopy


    Onfreeze SMS Gateway 1.3 . Freeware. Size = 455 KB. Program yang berguna untuk mengirim sms masal dengan mudah seperti untuk pengumuman, promosi , dsb lewat komputer. Program ini bersifat freeware. Alat yang dibutuhkan hp GSM atau modem GSM yang terkoneksi ke komputer bisa lewat kabel atau bluetooth.

    Download : OnefreezeSMSgateway


    Portable Webcam 1.0 . Software alternatif untuk memakai webcam, tersedia gratis untuk di pakai simple dan mudah digunakan (286 KB) . Bisa di pakai untuk winXP, Vista, Seven.

    Download : Portable Webcam


Askep Fraktur Pelvis dan Fraktur Artikulasi Cubitii

diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 08 June 2017
di Kep Muskuloskeletal - 0 komentar

KATA PENGANTAR

 

Segala puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Keperawatan Muskuloskeletal 2 dengan bahan kajian “Askep pada klien dengan Fraktur Pelvis dan Askep pada Fraktur Artikulasi cubitii dengan trauma pada Arteri brachialis”.

Dalam penyusunan makalah ini, kami banyak mendapatkan bantuan baik moral maupun material, langsung maupun tidak langsung. kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung penyusunan ini, antara lain kepada:

  1. Bu Herdina  M. S.Kp Ners, sebagai fasilitator kelompok kami.
  2. Semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kami menyusun makalah ini dengan sistematis agar dapat dimengerti oleh pembaca dan bermanfaat bagi semua pihak khususnya bagi mahasiswa keperawatan. Namun kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami mohon saran dan kritik dari pembaca. Semoga makalah ini bermanfaat dan berguna. Amien.

 

 

 

Surabaya, 9 Desember 2012

 

 

 

Tim Penulis

 

 

 

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Saat ini trauma pad muskuloskeletal telah menjadi masalah yang banyak dijumpai di pusat-pusat pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Bahkan WHO menetapkan dekade ini (2000-2010) menjadi dekade tulang dan persendian. 

Dengan bertambahnya jumlah kendaraan kemungkinan terjadinya kecelakaan juga akan meningkat drastis. Trauma yang paling sering terjadi adalah fraktur, yang nantinya akan menyebabkan kejadian yang mengancam jiwa jika tidak segera ditangani. Salah satu yang termasuk kegawatdaruratan sistem muskuloskeletal adalah fraktur pelvis dan fraktur artikulasi cubitii yang akan dibahas di makalah ini.

Pelvis adalah daerah batang tubuh yang letaknya dibawah cavum abdomen dan merupakan daerah peralihan dari batang tubuh ke ekstremitas inferior. Pelvis dibatasi oleh dinding yang dibentuk oleh tulang,ligamentum dan otot. Pelvis berfungsi untuk mentransmisi berat badan melalui sendi sakro iliaka ke ilium ,asetabulum dan dilanjutkan ke femur .selain itu pelvis berfungsi melindungi struktur-struktur yang berada didalam rongga panggul.

Fraktur pelvis menyebabkan kurang dari 5% pada semua cedera rangka, tetapi cedera ini sangat penting karena tingginya insidensi cedera jaringan lunak yang menyertainya dan resiko kehilangan darah yang hebat, syok, sepsis, serta sindroma gangguan pernapasan padaorang dewasa (ARDS).

 Sekitar 2/3 fraktur pelvis terjadi dalam kecelakaan lalu lintas termasuk pejalan kaki ; lebih dari 10% pasien akan mengalami cedra viseral, dan dalam berkelompok ini angka kematian mungkin lebih dari 10%.

Diagnosa fraktur pelvis memerlukan pemeriksaan klinis dan radiologis yang teliti, terutama pada penderita yang tidak sadar agar diperiksa secara menyeluruh.

Dalam penanganan fraktur pelvis, selain penanganan fraktur, juga diperlukan penanganan untuk komplikasi yang menyertainya yang dapat berupa perdarahan besar, ruptur kandung kemih, atau cedera uretra.

Melihat hal tersebut, maka kita sebagai perawat harus mengerti pentingnya pemahaman anatomi dan fisiologis tulang panggul (pelvis), etiologi, diagnosa, tatalaksana, dan komplikasi fraktur pelvis dalam melakukan diagnosa dan penanganannya.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apakah anatomi dan fisiologi Pelvis (Tulang Panggul)?
  2. Apakah definisi dari Fraktur Pelvis?
  3. Apa sajakah klasifikasi dari Fraktur Pelvis?
  4. Apa sajakah faktor resiko dari Fraktur Pelvis?
  5. Apa sajakah etiologi dari Fraktur Pelvis?
  6. Apakah manifestasi klinis dari Fraktur Pelvis?
  7. Bagaimana penatalaksaan pada Fraktur Pelvis?
  8. Apa sajakah komplikasi dari Fraktur Pelvis?
  9. Bagaimana WOC dari Fraktur Pelvis?
  10. Bagaimana pengkajian pada klien dengan Fraktur Pelvis?
  11. Bagaimana diagnosa pada klien dengan Fraktur Pelvis?
  12. Bagaimana intervensi pada klien dengan Fraktur Pelvis?
  13. Apakah anatomi dan fisiologi tlang siku?
  14. Apakah definisi dari Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis?
  15. Apa sajakah klasifikasi dari Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis?
  16. Apa sajakah faktor resiko dari Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis?
  17. Apa sajakah etiologi dari Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis?
  18. Apakah manifestasi klinis dari Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis?
  19. Bagaimana penatalaksaan pada Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis?
  20. Apa sajakah komplikasi dari Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis?
  21. Bagaimana WOC dari Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis?
  22. Bagaimana pengkajian pada klien dengan Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis?
  23. Bagaimana diagnosa pada klien dengan Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis?
  24. Bagaimana intervensi pada klien dengan Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis?
  25. 1.      Tujuan Umum

1.3 Tujuan

Menjelaskan tentang konsep penyakit Fraktur Pelvis dan Fraktur Artikulasi Cubitii serta pendekatan asuhan keperawatannya.

  1. 2.      Tujuan Khusus
  2. Mengidentifikasi anatomi dan fisiologi Pelvis (Tulang Panggul)
  3. Mengidentifikasi definisi dari Fraktur Pelvis
  4. Mengidentifikasi klasifikasi dari Fraktur Pelvis
  5. Mengidentifikasi faktor resiko dari Fraktur Pelvis
  6. Mengidentifikasi etilogi Fraktur Pelvis
  7. Mengidentifikasi manifestasi klinis Fraktur Pelvis
  8. Mengidentifikasi  penatalaksaan pada Fraktur Pelvis
  9. Mengidentifikasi komplikasi pada Fraktur Pelvis
  10.  Mengidentifikasi  WOC pada Fraktur Pelvis
  11. Mengidentifikasi pengkajian pada klien dengan Fraktur Pelvis
  12. Mengidentifikasi diagnosa pada klien dengan Fraktur Pelvis
  13. Mengidentifikasi intervensi pada klien dengan Fraktur Pelvis
  14. anatomi dan fisiologi tulang siku
  15. Mengidentifikasi definisi dari Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis
  16. Mengidentifikasi klasifikasi dari Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis
  17. Mengidentifikasi faktor resiko dari Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis
  18. Mengidentifikasi etilogi Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis
  19. Mengidentifikasi manifestasi klinis Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis
  20. Mengidentifikasi  penatalaksaan pada Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis
  21. Mengidentifikasi komplikasi pada Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis
  22.  Mengidentifikasi  WOC pada Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis
  23. Mengidentifikasi pengkajian pada klien dengan Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis
  24. Mengidentifikasi diagnosa pada klien dengan Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis
  25. Mengidentifikasi intervensi pada klien dengan Fraktur siku dengan trauma arteri brachialis

1.4 Manfaat

Mahasiswa mampu memahami tentang trauma yang berhubungan dengan sistem muskuloskeletal (Fraktur Pelvis dan Fraktur Artikulasi Cubitii) serta mampu menerapkan asuhan keperawatan pada klien tersebut dengan pendekatan Student Center Learning.

 


BAB 2

KAJIAN PUSTAKA

 

2.1 Fraktur  Pelvis

2.1.1 Anatomy dan Fungsi Pelvis

Pelvis merupakan struktur mirip-cincin yang terdiri dari dua tulang coxae, sacrum dan coccygeus. Berartikulasi di anterior yaitu pada simphisis pubis, di posterior pada artikulasio sacroiliaca. Struktur mirip cekungan ini memindahkan berat dari badan ke tungkai bawah dan memberikan perlindungan pada viscera, pembuluh darah , dan saraf di pelvis (Apley, 1995)

 

Keterangan :

(1) sacrum, (2) ilium, (3) ischium, (4) pubis, (5) pubic symphisis, (6) acetabulum, (7)obturator foramen, (8) coccygeus, (red dotted line) linea terminali

Tulang coxae atau disebut juga dengan innominate bone bentuknya datar dan lebar, merupakan os ireguler yang membentuk bagian terbesar pelvis. Tulang ini tersusun atas tiga buah tulang yaitu tulang ilium, tulang ischium dan tulang pelvis yang corpusnya bersatu di acetabulum, yang terletak di facies eksterna tulang ini. (Hadiwidjaja, 2004)

Rangka pelvis pada posisi anatomis miring ke depan sehingga didapatkan posisi berikut:

  1. Spina iliaca anterior superior (SIAS) dan tuberculum pubicum berada pada bidang coronalis yang sama
  2. Posisi os. Coccygis sama tinggi dengan symphyis pubica
  3. Bidang pelvic inlet dan outlet membentuk sudut 50-60° (inclinatio pelvis) dan sudut 15° terhadap bidang horizontalis

 

Gelang panggul (Pelvic girdle) terdiri dari dua ossa coxae kanan dan kiri. Kedua ossa coxae ke depan berhubungan sendi melalui symphysis pubica, ke belakang dengan os sacrum melalui articulatio sacroiliaca.

Pintu atas panggul (pelvic inlet) dibentuk oleh promontorium dan linea terminalis termasuk linea arcuatailei dan ileopectinealis. Pintu bawah panggul (pelvic outlet) dibentuk oleh os coccygis di belakang, symphisis pubica di depan dan pada kedua sisi dibentuk oleh ligamentum sacrotuberosum dan persatuan ramus, sehingga bentuknya mirip dua buah segitiga yang bertemu pada alasnya di tengah-tengah panggul. (Halls and Craggs, 1986).

Rangka pelvis dapat dibedakan dalam :

  1. pelvis major (false/greater pelvis)

Pelvis major dibentuk oleh fossa iliaca kanan dan kiri, yang sebagian diisi oleh m. Iliopsoas. Rongga pelvis major adalah bagian dari rongga abdomen yang dibawah dibatasi oleh peritoneum parietale dai cavum abdominalis yang menjorok ke bawah sampai pelvis minor dan menutupi sebagian dari rectum, vesica urinaria dan alat reproduksi interna dari wanita.

  1.  

 

  1. pelvis minor (true/lesser pelvis) 

Pelvis minor merupakan rongga di bawah belakang dari pintu atas panggul. Rongga pelvis (pelvis minor) dibatasi dibelakang atas oleh os sacrum dan os coccygis, disebelah lateralis oleh otot, membrana obturatoria, permukaan dari ilium, ischium dan pubis yang terletak di bawah linea terminalis dan celah antara os coxae dan os sacrum dan coccygis yang sebagian diisi oleh ligamenta sacrotuberosum dan sacro spinosum, yang melengkapi pembentukan foramina ischiadicum majus dan minus.

Foramen ischiadicum majus sebagian diisi oleh otot yaitu m. piriformis, sedang foramen ischiadicum minus oleh m. obturator internus yang juga menutupi membrana obturatoria. Batas bawahnya dibentuk oleh otot-otot dasar panggul yang ditembus oleh tractus urinarius, alat reproduksi dan rectum

Fungsi Pelvis (Panggul) berfungsi untuk mentransmisi berat badan melalui sendi sakro-iliaka ke ilium, asetabulum dan dilanjutkan ke femur. Selain itu panggul berfungsi melindungi struktur-struktur yang berada di dalam rongga panggul.

2.1.2  Definisi Fraktur Pelvis

Fraktur adalah Putusnya kontinuitas tulang, tulang rawan epifisis atau tulang rawan sendi. Fraktur tidak selalu disebabkan oleh trauma yang berat, kadang2 trauma ringan saja dapat menimbulkan fraktur bila tulangnya sendiri terkena penyakit tertentu. Juga trauma ringan terus menerus dapat menimbulkan fraktur.

Fraktur pelvis termasuk fraktur tulang proksimal femur dan acetabulum. Fraktur  pelvis dapat mengenai orang muda dan tua. Biasanya, pasien yang lebih muda dapat mengalami fraktur pelvis sebagai akibat dari trauma yang signifikan, sedangkan pasien lansia dapat mengalami fraktur pelvis akibat trauma ringan.

 

 

 

1. 

2. 

2.1.3 Klasifikasi Fraktur Pelvis

  1. I.       
  2. II.       

2.1       

2.2       

2.3       

2.1.3.1      Klasifikasi menurut Marvin Tile (1988)

           
   

TIPE B

 
 

TIPE C

 
 

TIPE A

 
 

 


 

  1. Tipe A (stabil) :termasuk fraktur avulsi atau fraktur yang mengenai cincin panggul tetapi tanpa atau sedikit sekali pergeseran cincin

-      A1 : fraktur panggul tidak mengenai cincin (avulsi atau fraktur spina iliaka)

-      A2 : stabil, terdapat pergeseran cincin yang minimal dari fraktur

-      A3 : Fraktur melintang sacrum coccyx

  1. Tipe B : tidak stabil secara rotasional, stabil secara vertikal

-                  B1 ; open book (rotasi external)

-  B2 ; kompresi cedera lateral (rotasi internal)

B2-1: cincin anterior rotasi / perpindahan melalui rami ipsilateral

B2-2 : anterior cincin rotasi / perpindahan melalui kontralateral rami

-      B3 ; kompresi cedera bilateral

  1. Tipe C : rotationally dan vertikal tidak stabil

-  C1 : unilateral

C1-1: fraktur iliaka

C1-2: sacroiliac fraktur-dislokasi

C1-3: fraktur sacral

-  C2 :  bilateral dengan satu sisi tipe B dan tipe C satu sisi

-  C3 : bilateral dengan kedua belah pihak tipe C

2.1.3.2  Klasifikasi menurut Young-Burgess  (1990) 

Young-Burgess membagi disrupsi pelvis kedalam cedera-cedera kompresi anterior-posterior (APC), kompresi lateral (LC), shear vertikal (VS), dan mekanisme kombinasi (CM).

VS (Shear Vertikal)

 

 

LC Tipe I

 

 

LC Tipe II

 

 

LC Tipe III

 

 

APC Tipe III

 

 

APC Tipe II

 

 

APC Tipe I

 

 

keterangan:

Tanda panah pada masing-masing panel mengindikasikan arah tekanan yang menghasilkan pola fraktur.

 

 

 

2.1.4 Etiologi

  1. Kompresi Anteroposterior (APC)

Hal ini biasanya terjadi akibat tabrakan antara seorang pejalan kaki dengan kendaraan.Ramus pubis mengalami fraktur, tulang inominata terbelah, dan mengalami  rotasi eksterna disertai robekan simfisis. Keadaan ini disebut sebagai open book injury. Bagian posterior ligamen sakro-iliaka  mengalami  robekan  parsial  atau dapat disertai fraktur  bagian belakang ilium.

  1. Kompresi Lateral (LC)

Kompresi dari samping akan menyebabkan cincin mengalami keretakan. Hal ini terjadiapabila ada trauma samping karena kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian. Pada keadaan ini ramus pubis bagian depan pada kedua sisinya mengalami fraktur dan bagian belakang terdapat strain dari sendi sakri-iliaka atau fraktur ilium atau dapat pula fraktur ramus pubis pada sisi yang sama.

  1. Shear Vertikal (VC)

Tulang inominata pada satu sisi mengalami pergerakan secara vertikal disertai fraktur ramus pubis dan disrupsi sendi sakro-iliaka pada sisi yang sama. Hal ini terjadi apabila seseorang jatuh dari ketinggian pada satu tungkai.

  1. Kombinasi

Pada trauma yang lebih hebat dapat terjadi kombinasi kelainan di atas

2.1.5 Manifestasi Klinis

Fraktur panggul sering merupakan bagian dari salah satu trauma multipel yang dapat mengenai organ-organ lain dalam panggul.  Keluhan berupa gejala pembengkakan, deformitas serta pendarahan subkutan di sekitar panggul. Penderita biasanya datang dalam keadaan anemi dan syok karena pendarahan hebat sehingga sering juga terjadi gangguan fungsi anggota gerak bawah.

 Pada cidera tipe A pasien tidak mengalami syok berat tetapi merasa nyeri bila berusaha berjalan. Terdapat nyeri tekan local tetapi jarang terdapat kerusakan pada viscera pelvis. Foto polos pelvis dapat mempelihatkan fraktur.

Pada cidera tipe B dan C pasien mengalami syok berat, sangat nyeri dan tidak dapat berdiri,  tidak dapat kencing.  Mungkin terdapat darah di meatus eksternus. Nyeri tekan dapt bersifat local tapi sering meluas, dan usaha menggerakkan satu atau kedua ossis ilii akan sangat nyeri. Salah satu kaki mungkin mengalamai anastetik sebagian karena mengalami cidera saraf skiatika. Cidera ini sangat hebat sehingga membawa resiko tinggi terjadinya kerusakan visceral, perdarahan di dalam perut dan retroperitoneal, syok, sepsis dan ARDS. Angka kematian juga cukup tinggi.(Apley, 1995)

2.1.6    Pemeriksaan Klinik

Fraktur pelvis harus dicurigai pada setiap pasien dengan cedera perut atau tungkai bawah yang berbahaya. Mungkin terdapat riwayat kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian atau cedera benturan. Pasien sering mengeluh nyeri hebat dan merasa seolah-olah dia telah terpisah-pisah, dan mungkin terdapat pembengkakan atau memar pada perut bawah, paha, perineum, skrotum atau vulva.  Semua daerah ini harus diperiksa dengan cepat, untuk mencari bukti ekstravasasi urine.

Tetapi prioritas utama adalah selalu menilai keadaan umum pasien dan mencari tanda-tanda kehilangan darah. Resusitasi dapat dimulai sebelum pemeriksaan selesai.

Perut harus dipalpasi dengan hati-hati. Tanda-tanda iritasi menunjukkan kemungkinan perdarahan intraperitoneal. Cincin pelvis dapat ditekan dengan pelan-pelan dari sisi ke sisi dan kembali ke depan. 

Nyeri tekan pada daerah sakroiliaka sangat penting dan dapat menandakan adanya gangguan pada jembatan posterior. Pemeriksaan rektum kemudian dilakukan pada semua kasus. Koksigis dan sakrum dapat diraba dan diuji untuk mencari ada tidaknya nyeri tekan. Kalau prostat dapat diraba, yang sering sukar dilakukan akibat nyeri dan pembengkakan, posisinya yang abnormal dapat menunjukkan cedera uretra. Tanyakan kapan pasien membuang urine terakhir kali dan cari perdarahan di meatus eksterna. Ketidakmampuan untuk kencing dan adanya darah di meatus eksterna adalah tanda klasik ruptur uretra. Tetapi, tiadanya darah di meatus tidak menyingkirkan cedera uretra, karena sfingter luar mungkin mengalami spasme, sehingga menghentikan aliran darah dari tempat cedera. Karena itu setiap pasien yang mengalami fraktur pelvis harus dianggap menghadapi risiko cedera uretra.

Pasien dapat dianjurkan untuk kencing; kalau dia dapat melakukannya, uretra itu utuh atau hanya terdapat sedikit kerusakan yang tidak akan diperburuk oleh aliran urine.

 Jangan mencoba untuk memasukkan kateter, karena ini dapat mengubah robekan uretra sebagian menjadi robekan uretra lengkap.

Kalau cedera uretra dicurigai, ini dapat didiagnosis dengan lebih tepat dan lebih aman dengan uretrografi retrograd. Ruptur kandung kemih harus dicurigai pada pasien yang tidak dapat kencing atau pada pasien yang kandung kemihnya tidak teraba setelah diberi penggantian cairan yang memadai. Palpasi sering sukar dilakukan karena terdapat hematoma dinding perut. Gambaran fisik pada awalnya dapat sedikit sekali, dengan bising usus yang normal, karena ekstravasasi urine yang steril tak banyak menimbulkan iritasi peritoneum. Hanya sebagian kecil pasien dengan ruptur kandung kemih yang mengalami hipotensi; jadi kalau pasien itu hipotensif,harus dicari penyebab lainnya. Pemeriksaan neurologik sangat diperlukan; mungkin terdapat kerusakan pada pleksus lumbalis atau sakralis. Kalau pasien tak sadar, prosedur rutin yang sama diikuti. Tetapi, pemeriksaan sinar-X dini penting pada kasus ini.

2.1.7 Pemeriksaan Diagnostik

  1. Radiografi

Setiap penderita trauma panggul harus dilakukan pemeriksaan radiologis dengan prioritas pemeriksaan rontgen posisi AP. Pemeriksaan rontgen posisi lain yaitu oblik, rotasi interna, dan eksterna apabila keadaan umum memungkinkan.

  1. Pemeriksaan Foto polos panggul  AP Pelvis 

-  bagian dari evaluasi awal untuk mencari asimetris, rotasi atau perpindahan hemi pelvis

-  setiap bukti cedera cincin anterior membutuhkan pencitraan lanjut

Segera setelah keadaan pasien memungkinkan, foto polos AP pelvis harus diambil. Pada umumnya foto ini akan memberi  informasi  yang  cukup  untuk  membuat  diagnosis pendahuluan pada fraktur pelvis. Sifat cedera yang tepat dapat diperjelas dengan radiografi secara lebih rinci bila telah dipastikan bahwa pasien dapat tahan terhadap lamanya waktu yang diperlukan untuk penentuan posisi dan reposisi di meja sinar-X. 

  1. inlet view

 

  • Inlet view (kamera sefalad terhadap pelvis dan dimiringkan 30 derajat ke bawah)
  • ideal untuk memvisualisasikan: anterior atau posterior hemipelvis , internal atau eksternal rotasi hemipelvis, pelebaran sendi SI, impaksi sacral
  1. Outlet view  

 

  • Outlet view (kamera kaudal terhadap pelvis dan dimiringkan 40 derajat ke atas)
  • ideal untuk memvisualisasikan: vertikal terjemahan hemipelvis, fleksi / perpanjangan hemipelvis, gangguan foramina sakral dan lokasi patah tulang sacral
  1. CT Scan

bagian dari pemeriksaan evaluasi rutin cedera cincin panggul , baik karakterisasi cedera cincin posterior untuk membantu menentukan kominusi dan rotasi fragmen dan memvisualisasikan posisi garis fraktur relatif terhadap foramen sakral

Kalau dicurigai adanya cedera apa saja yang berbahaya, CT Scan pada tingkat yang tepat sangat bermanfaat ( beberapa ahli mengatakan harus dilakukan). Ini terutama berlaku untuk kerusakan cincin pelvis posterior dan untuk fraktur asetabulum yang kompleks, yang tidak dapat dievaluasi secara tepat dengan sinar-X biasa.

  1. Pemeriksaan urologis:
  2. Ureterogram
  3. Sistogram retrograd dan postvoiding 
  4. Pielogram intravena
  5. Aspirasi diagnostik dengan lavase peritoneal
    1. Military Antishock Trousers

2.1.8 Penatalaksanaan

Military antishock trousers (MAST) atau celana anti syok militer dapat memberikan kompresi dan imobilisasi sementara terhadap cincin pelvis dan ekstremitas bawah melalui tekanan berisi udara. Pada tahun 1970an dan 1980an, penggunaan MAST dianjurkan untuk menyebabkan tamponade pelvis dan meningkatkan aliran balik vena untuk membantu resusitasi. Namun, penggunaan MAST membatasi pemeriksaan abdomen dan mungkin menyebabkan sindroma kompartemen ekstermitas bawah atau bertambah satu dari yang ada. Meskipun masih berguna untuk stabilisasi pasien dengan fraktur pelvis, MAST secara luas telah digantikan oleh penggunaan pengikat pelvis yang tersedia secara komersil.

  1. Pengikat dan Sheet Pelvis

Kompresi melingkar mungkin siap dicapai pada keadaan pra rumah-sakit dan pada awalnya memberikan keuntungan stabilisasi selama pengangkutan dan resusitasi. Lembaran terlipat yang dibalutkan secara melingkar di sekeliling pelvis efektif secara biaya, non-invasif, dan mudah untuk diterapkan. Pengikat pelvis komersial beragam telah ditemukan. Tekanan sebesar 180 N tampaknya memberikan efektivitas maksimal. Sebuah studi melaporkan pengikat pelvis mengurangi kebutuhan transfusi, lamanya rawatan rumah sakit, dan mortalitas pada pasien dengan cedera APC

 

Gambar 4. Ilustrasi yang mendemonstrasikan aplikasi alat kompresi melingkar pelvis (pengikat pelvis) yang tepat, dengan gesper tambahan (tanda panah) untuk mengontrol tekanan.

Rotasi eksterna ekstremitas inferior umumnya terlihat pada orang dengan fraktur pelvis disposisi, dan gaya yang beraksi melalui sendi panggul mungkin berkontribusi pada deformitas pelvis. Koreksi rotasi eksternal ekstremitas bawah dapat dicapai dengan membalut lutut atau kaki bersama-sama, dan hal ini dapat memperbaiki reduksi pelvis yang dapat dicapai dengan kompresi melingkar.

  1. Fiksasi Eksternal
  • Fiksasi Eksternal Anterior Standar

Beberapa studi telah melaporkan keuntungan fiksasi eksternal pelvis emergensi pada resusitasi pasien yang tidak stabil secara hemodinamik dengan fraktur pelvis tidak stabil. Efek menguntungkan fiksasi eksternal pada fraktur pelvis bisa muncul dari beberapa faktor. Imobilisasi dapat membatasi pergeseran pelvis selama pergerakan dan perpindahan pasien, menurunkan kemungkinan disrupsi bekuan darah. Pada beberapa pola (misal, APC II), reduksi volume pelvis mungkin dicapai dengan aplikasi fiksator eksternal. Studi eksperimental telah menunjukkan bahwa reduksi cedera pelvis “open book” mengarah pada peningkatan tekanan retroperitoneal, yang bisa membantu tamponade perdarahan vena. Penambahan fraktur disposisi dapat meringankan jalur hemostasis untuk mengontrol perdarahan dari permukaan tulang kasar.

  • C-Clamp

Fiksasi pelvis eksternal standar tidak menyediakan stabilisasi pelvis posterior yang adekuat. Hal ini membatasi efektivitas pada pola fraktur yang melibatkan disrupsi posterior signifikan atau dalam kasus-kasus dimana ala ossis ilium mengalami fraktur. C-clamp yang diaplikasikan secara posterior telah dikembangkan untuk menutupi kekurangan ini. Clamp memberikan aplikasi gaya tekan posterior tepat melewati persendian sacroiliaca. Kehati-hatian yang besar harus dilatih untuk mencegah cedera iatrogenik selama aplikasi; prosedur umumnya harus dilakukan dibawah tuntunan fluoroskopi. Penerapan C-clamp pada regio trochanter femur menawarkan sebuah alternatif bagi fiksasi eksternal anterior standar untuk fiksasi sementara cedera APC.

  1. Angiografi

Eksplorasi angiografi harus dipertimbangkan pada pasien dengan kehilangan darah berkelanjutan yang tak dapat dijelaskan setelah stabilisasi fraktur pelvis dan infus cairan agresif. Keseluruhan prevalensi pasien dengan fraktur pelvis yang membutuhkan embolisasi dilaporkan<10%. Pasien yang lebih tua dan yang memiliki Revised Trauma Score lebih tinggi paling sering mengalami angiografi. Pada studi lain, 8% dari 162 pasien yang ditinjau ulang oleh penulis membutuhkan angiografi. Embolisasi dibutuhkan pada 20% pola cedera APC, cedera VS, dan fraktur pelvis kompleks, namun hanya 1,7% pada cedera LC. Eastridge dkk melaporkan bahwa 27 dari 46 pasien dengan hipotensi persisten dan fraktur pelvis yang sama sekali tak stabil, termasuk cedera APC II, APC III, LC II, LC III dan VS, memiliki perdarahan arteri aktif (58,7%). Miller dkk menemukan bahwa 19 dari 28 pasien dengan instabilitas hemodinamik  persisten diakibatkan oleh pada fraktur pelvis menunjukkan perdarahan arteri (67,9%). Pada studi lain, ketika angiografi dilakukan, hal tersebut sukses menghentikan perdarahan arteri pelvis pada 86-100% kasus. Ben-Menachem dkk menganjurkan “embolisasi bersifat lebih-dulu” ,menekankan bahwa jika sebuah arteri yang ditemukan pada angiografi transected, maka arteri tersebut harus diembolisasi untuk mencegah resiko perdarahan tertunda yang dapat terjadi bersama dengan lisis bekuan darah. Penulis lain menjelaskan embolisasi non-selektif pada arteri iliaca interna bilateral untuk mengontrol lokasi perdarahan multipel dan menyembunyikan cederaarteri yang disebabkan oleh vasospasme.

  1. Balutan Pelvis

Balutan pelvis dikembangkan sebagai sebuah metode untuk mencapai hemostasis langsung dan untuk mengontrol perdarahan vena yang disebabkan fraktur pelvis. Selama lebih dari satu dekade, ahli bedah trauma di Eropa telah menganjurkan laparotomi eksplorasi yang diikuti dengan balutan pelvis. Teknik ini diyakini terutama berguna pada pasien yang parah. Ertel dkk menunjukkan bahwa pasien cedera multipel dengan fraktur pelvis dapat dengan aman ditangani menggunakan C-clamp dan balutan pelvis tanpa embolisasi arteri. Balutan lokal juga efektif dalam mengontrol perdarahan arteri.

Teknik ini memfasilitasi kontrol perdarahan retroperitoneal melalui sebuah insisi kecil

Gambar 5. Ilustrasi yang mendemonstrasikan teknis pembalutan retroperitoneal. A, dibuat sebuah insisi vertikal midline 8-cm. Kandung kemih ditarik ke satu sisi, dan tiga bagian spons tak terlipat dibungkus kedalam pelvis (dibawah pinggir pelvis) dengan sebuah forceps. Yang pertama diletakkan secara posterior, berbatasan dengan persendian sacroiliaca. Yang kedua ditempatkan di anterior dari spons pertama pada titik yang sesuai dengan pertengahan pinggiran pelvis. Spons ketiga ditempatkan pada ruang retropubis kedalam dan lateral kandung kemih. Kandung kemih kemudian ditarik kesisi lainnya, dan proses tersebut diulangi. B, Ilustrasi yang mendemonstrasikan lokasi umum enam bagian spons yang mengikuti balutan pelvis. 

 

Rongga intraperitoneal tidak dimasuki, meninggalkan peritoneum tetap utuh untuk membantu mengembangkan efek tamponade. Prosedurnya cepat dan mudah untuk dilakukan, dengan kehilangan darah minimal. Balutan retroperitoneal tepat untuk pasien dengan beragam berat ketidakstabilan hemodinamik, dan hal ini dapat mengurangi angiografi yang kurang penting. Cothren dkk melaporkan tidak adanya kematian sebagai akibat dari kehilangan darah akut pada pasien yang tidak stabil secara hemodinamik persisten ketika balutan langsung digunakan.

  1. Resusitasi Cairan

Resusitasi cairan dianggap cukup penting sebagai usaha yang dilakukan untuk menilai dan mengontrol lokasi perdarahan. Dua bor besar (≥16-gauge) kanula intravena harus dibangun secara sentral atau di ekstremitas atas sepanjang penilaian awal. Larutan kristaloid ≥ 2 L harus diberikan dalam 20 menit, atau lebih cepat pada pasien yang berada dalam kondisi syok. Jika respon tekanan darah yang cukup dapat diperoleh, infus kristaloid dapat dilanjutkan sampai darah tipe-khusus atau keseluruhan cocok bisa tersedia. Darah tipe-khusus, yang di crossmatch untuk tipe ABO dan Rh, biasanya dapat disediakan dalam 10 menit  namun, darah seperti itu dapat berisi inkompatibilitas dengan antibodi minor lainnya. Darah yang secara keseluruhan memiliki tipe dan crossmatch membawa resiko lebih sedikit bagi reaksi transfusi, namun juga butuh waktu paling banyak untuk bisa didapatkan (rata-rata 60 menit). Ketika respon infus kristaloid hanya sementara ataupun tekanan darah gagal merespon, 2 liter tambahan cairan kristaloid dapat diberikan, dan darah tipe-khusus atau darah donor-universal non crossmatch (yaitu, kelompok O negatif) diberikan dengan segera. Kurangnya respon mengindikasikan bahwa kemungkinan terjadi kehilangan darah yang sedang berlangsung, dan angiografi dan/atau kontrol perdarahan dengan pembedahan mungkin dibutuhkan.

 

 

  1. Produk-produk Darah dan Rekombinan Faktor VIIa

     Pasien hipotensif yang tidak merespon resusitasi cairan awal membutuhkan sejumlah besar cairan sesudah itu, mengarah pada defisiensi jalur hemostasis. Karenanya, semua pasien yang seperti itu harus diasumsikan membutuhkan trombosit dan fresh frozen plasma (FFP). Umumnya, 2 atau 3 unit FFP dan 7-8 unit trombosit dibutuhkan untuk setiap 5 L penggantian volume.

          Transfusi darah masif memiliki resiko potensial imunosupresi, efek-efek inflamasi, dan koagulopati dilusi. Sepertinya, volume optimal dan kebutuhan relatif produk-produk darah untuk resusitasi masih kontoversial. Sebagai tambahan, jumlah transfusi PRC merupakan faktor resiko independen untuk kegagalan multi-organ paska cedera. Beberapa penulis telah mengusulkan bahwa pasien trauma koagulopati terutama harus diresusitasi dengan penggunaan FFP yang lebih agresif, dengan transfusi yang terdiri atas PRC, FFP dan trombosit dalam rasio 1:1:1 untuk mencegah kemajuan koagulopati dini.

          Rekombinan faktor VIIa (rFVIIa) mungkin dipertimbangkan sebagai intervensi akhir jika koagulopati dan perdarahan yang mengancam-jiwa menetap disamping pengobatan lainnya. Ini merupakan penggunaan rFVIIa off-label. Boffard dkk melakukan sebuah studi multicenter dimana pasien trauma berat yang menerima 6 unit PRC dalam 4 jam setelah masuk diacak pada baik pengobatan rFVIIa atau plasebo. Pada kelompok rFVIIa, jumlah transfusi sel darah secara signifikan berkurang (kira-kira 2,6 unit sel darah merah; P = 0,02), dan terdapat kecenderungan ke arah reduksi mortalitas dan komplikasi.

2.1.9       Komplikasi

2.1.9.1 Komplikasi Segera

  1. Trombosis vena ilio-femoral

Komplikasi ini sering ditemukan dan sangat berbahaya. Apabila ada keraguan sebaiknya diberikan antikoagulan secara rutin untuk profilaktik.

  1. Robekan kandung kemih

Robekan dapat terjadi apabila ada disrupsi simfisis pubis atau tusukan dari bagian tulang panggul yang tajam. Tandanya dan gejalanya jika pasien mengalami robekan kandung kemih adalah keadaan pasien yang hipotensi, pasien yang tidak dapat kencing, dan kandung kemih yang tidak teraba setelah dilakukan resusitasi cairan.

  1. Robekan uretra

Robekan uretra terjadi karena adanya disrupsi simfisis pubis pada daerah uretra pars membranosa. Ruptur uretra posterior paling sering disebabkan oleh fraktur tulang pelvis. Fraktur yang mengenai ramus atau simfisis pubis dan menimbulkan kerusakan pada cincin pelvis dapat menyebabkan robekan uretra pars prostate-membranacea. Fraktur  pelvis dan robekan pembuluh darah yang berada di kavum pelvis menyebabkan hematom yang luas di kavum retzius sehingga jika ligamentum pubo-prostatikum ikut robek, prostat beserta buli-buli akan terangkat ke cranial.

Ruptur uretra anterior , cidera dari luar yang sering menyebabkan kerusakan uretra anterior adalah straddle injury (cidera selangkangan) yaitu uretra terjepit diantara tulang pelvis dan benda tumpul. Jenis kerusakan uretra yang terjadi berupa kontusio dinding uretra, rupture parsial, atau rupture total dinding uretra. Pada kontusio uretra pasien mengeluh adanya perdarahan per-uretram atau hematuria. Jika terdapat robekan pada korpus spongiosum, terlihat adanya hematom pada penis atau butterfly hematom. Pada keadaan ini seringkali pasien tidak dapat miksi.

Tanda dan gejala jika pasien juga mengalami rupture uretra adalah adanya perdarahan pada meatus eksterna, yang merupakan tanda klasik rupture uretra. Dan pasien mengeluh tidak bisa kencing akibat tersumbat aliran darah.

  1. Trauma rektum dan vaginae.

Pembekakan pada vulva atau skrotum sebagai tanda ekstravasasi urine. Dan terjadi pembekakan pada rectum.

  1. Trauma pembuluh darah besar yang akan menyebabkan perdarahan masif sampai syok 

Hal ini dikarenakan adanya robekan pembuluh darah pada fraktur pelvis. Pembuluh darah ini diantaranya Common iliac artery, Eksternal iliac artery, Eksternal iliac vein dan internal iliac artery (hypogastric artery)

 

 

  1. Trauma pada saraf 

-     Lesi saraf skiatik dapat terjadi pada saat trauma atau pada saat operasi. Apabila dalam jangka waktu 6 minggu tidak ada perbaikan, maka sebaiknya dilakukan eksplorasi.

-     Lesi pleksus lumbosakralis, biasanya terjadi pada fraktur sakrum yang bersifat vertikal disertai pergeseran.Dapat pula terjadi gangguan fungsi seksual apabila mengenai pusat saraf.

2.1.9.2   Komplikasi Lanjut

  1. Pembentukan tulang heterotrofik 

Pembentukan tulang heterotrofik biasanya terjadi setelah suatu trauma jaringan lunak yang hebat atau setelah suatu diseksi operasi. Dapat diberikan indometasin untuk  profilaktik.

  1. Nekrosis avaskuler

 Nekrosis avaskuler dapat terjadi pada kaput femur beberapa waktu setelah trauma.

  1. Gangguan pergerakan sendi serta osteoartritis sekunder

Apabila terjadi fraktur pada daerah asetabulum dan tidak dilakukan reduksi yang akurat, sedangkan sendi ini menopang berat badan, maka akan terjadi ketidaksesuaian sendi yang akan memberikan gangguan pergerakkan serta osteoartritis di kemudian hari.

d.Skoliosis kompensatoar

2.1.10 Prognosis

Melihat aktivitas pelvis yang begitu tinggi, sedang fleksibitas terbatas, maka dapat kita pahami bila pelvis mengalami fraktur dapat berakibat terganggunya kemampuan fisiologis dari pelvis. Fraktur pelvis akibat trauma tumpul mempunyai angka mortalitas antara 6% sampai50%. Walaupun hanya terjadi pada 5 % dari pasien dengan trauma, cedera yang terjadi biasanya berat dan mengenai organ lain karena kekuatan yang dibutuhkan untuk mematahkan tulang pelvis sangat besar.

Burgess dkk menemukan bahwa kebutuhan transfusi bagi pasien dengan cedera LC rata-rata 3,6 unit PRC, dibandingkan dengan rata-rata 14,8 unit bagi pasien dengan cedera APC. Pada seri yang sama, pasien dengan cedera VS rata-rata 9,2 unit, dan pasien dengan cedera CM memiliki kebutuhan transfusi rata-rata sebesar 8,5 unit. Angka mortalitas keseluruhan pada seri ini adalah 8,6%. Angka mortalitas lebih tinggi terlihat pada pola APC (20%) dan pola CM (18%) dibandingkan pada pola LC (7%) dan pola VS (0%). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.1.11 WOC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.2 Fraktur Artikulasi Cubitii dengan Trauma pada Arteri Brachialis

2.2.1 Anatomy siku

Sendi  siku tersusun atas tiga tulang  yaitu:  humerus  (tulang lengan atas),  radius  (tulang pengupil  lengan  bawah)  dan   ulna   (tulang  hasta).  Ujung  bawah   humerus   membentuk  dua articulatio  kondilus (tonjolan pada tulang) yang tersambung dengan baik. Kondilus lateral adalah kapitulum (ujung yang membesar seperti kepala tongkat) dan kondilus medial disebut  trochlea . Kapitulum yang membulat berhubungan dengan kepala konkaf radius.  Trochlea,  yang berbentuk gelondong,  berada  di  dalam  suatu  alur  yang  ber hubungan,  takik  semilunar  (berbentuk  bulan sabit), yang disediakan oleh ulna antara  proses-proses  olecranon   (ujung atas tulang  hasta  yang berupa  taju)  dan   coronoid.   Di  atas  tiap-tiap  kondilus  adalah  suatu  proyeksi  yang  disebut epikondilus.  Rancangan  struktur  persendian  siku  memungkinkan  fleksi  dan  ekstensi  oleh hubungan  trochlea dengan takik semilunar ulna. Pronasi lengan bawah (pemutaran lengan bawah ke  dalam)  dan supinasi  lengan  bawah ( pemutaran  lengan  bawah  ke  luar)  dapat terjadi  karena kepala radius bersandar pada kapitulum dengan bebas tanpa batasan-batasan tulang apapun.

 

         Gambar a                                                                     Gambar b           

2.2.2  Definisi Fraktur Siku

Trauma pada siku bisa terjadi pada tulang suprakondiler humeri, epikondilus humeri, kaput radius, leher radius, olekranon, serta proksimal radius dan ulna oleh berbagai keadaan yang meliputi cidera akibat trauma.

 

 

2.2.3 Etiologi

Etiologi dapat terjadi biasanya  karena  adanya  riwayat  terjatuh  saat  berolahraga    ataupun  jatuh  dari  ketinggian yang melibatkan  radius,  humerus  dan  ulna

 

2.2.4 Klasifikasi

2.2.4.1  Fraktur Suorakondiler Humeri (SPCH)

Fraktur suprakondiler humerus adalah terputusnya hubungan tulang sepertiga distal humerus tepat proksimal troklea dan capitulum humeri yang disebabkan oleh trauma langsung atau tidak langsung. Garis fraktur berjalan melalui apeks koronoid dan fossa olekranon, biasanya fraktur transversal. Fraktur jenis ini merupakan fraktur jenis yang sering terjadi pada anak-anak. Pada orang dewasa, garis fraktur terlihat sedikit lebih proksimal daripada fraktur suprakondiler pada anak dengan garis fraktur kominutif, spiral disertai angulasi.

  1. a.                  Mekanisme Trauma

Ada dua mekanisme terjadinya fraktur yang menyebabkan dua macam jenis fraktur suprakondiler, yaitu sebagai berikut :

  1. Tipe ekstensi (sering terjadi pada 99% kasus)

Fraktur terjadi akibat  dyperextension injury (outstreschedhand). Gaya diteruskan melalui sendi siku sehingga terjadi fraktur proksimal terhadap sendi siku. Mekanisme trauma tipe ekstensi memberikan pergeseran fragmen ke posterior. Pergeseran posterior menunjukkan cedera yang luas, biasanya akibat jatuh pada tangan yang terentang. Humerus tepat patah di atas kondilus. Fragmen distal terdesak ke belakang dan (karena lengan bawah biasanya dalam pronasi)terpuntir ke dalam. Ujung fragmen proksimal yang tajam kemungkinan akan merusak jaringan lunak ke bagian anterior dan mempunyai resiko mencederai arteri brakialis atau saraf medianus.

  1. Tipe fleksi (jarang terjadi)

Trauma terjadi akibat trauma langsung pada aspek posterior siku dengan posisi fleksi. Hal ini menyebabkan pergeseran fragmen ke anterior.

 

 

 

  1. b.        Manifestasi klinis

Pada anamnesis didapatkan riwayat trauma jatuh dengan posisi tangan terentang atau jatuh dengan posisi siku lebih dalulu dalam kondisi fleksi. Keluhan utama biasanya nyeri pada siku dan ketidakmampuan dalam menggerakkan siku.

  • Look :

Pada tipe ekstensi sendi siku dalam posisi ektensi daerah siku tampak bengkak, kadang bengkak hebat sekali akibat perdarahan yang luas. Bila pembengkakan tidak hebat dapat teraba tonjolan fragmen dibawah subkutis. Pada tipe fleksi posisi siku fleksi (semi fleksi), dengan siku yang bengkak dengan sudut jinjing yang berubah. Pemeriksaan regional jaringan lunak sangat penting untuk diperiksa adanya tanda dan gejala sindrom kompartemen. Adanya gangguan sirkulasi perifer memerlukan tindakan reduksi fraktur segera.jika penderita mengeluh gejala setempat yaitu nyeri (pain) dan baal (parasthesia), disertai dengan adanya tanda passive strech pain, pucat (pale) dan paralisis (kelumpuhan)harus dicurigai adanya sindrom kompartemen. Pada pergeseran posisi terlihat deformitas yang jelas.

  • Feel : nyeri tekan pada siku.
  • Move :

Pada lesi nervus radialis didapati ketidakmampuan untuk ekstensi ibu jari dan ekstensi jari lainnya pada sensi metakarpofalangel. Selain itu, juga didapati gangguan sensorik pada bagian dorsal sela metakarpal I-II. Pada lesi nervus ulnaris didapati gangguan ketidakmampuan untuk melakukan gerakan abduksi dan aduksi jari-jari. Gangguan sensorik didapati pada bagian volar satu setengah jari sisi ulna. Pada lesi nervus medianus didapati ketidakmampuan melakukan oposisi ibu jari dengan jari lain. Gangguan motorik didapati pada volar tiga setengah sisi radial. Sering didapati lesi [ada sebagian nervus medianus, yaitu lesi pada cabangnya yang disebut nervus interosseus anterior, di sini didapati ketidakmampuan jari I dan II untuk melakukan fleksi (painting sign).

 

  1. c.         Pemeriksaan Diagnostik

Fraktur terlihat paling jelas dalam foto lateral. Pada fraktur yang bergeser ke posterior yang sering ditemukan, garis fraktur berjalan secara oblik ke bawah dan ke depan, dan fragmen distal bergeser ke belakang lalu miring ke belakang. Pada fraktur ke anterior garis fraktur bersifat oblik dan lebih rendah di posterior; fragmen miring ke depan.

 

  1. d.        Penatalaksanaan
    1. Jika tidak ada fragmen, tidak perlu dilakukan reduksi. Penanggulangan konservatif fraktur suprakondiler humerus diindikasikan pada anak  undisplaced/minimally displaced  fractures atau pada fraktur sangat komunitif pada pasien dengan lebih tua dengan kapasitas fungsi yang terbatas. Pada prinsipnya adalah reposisi dan imobilisasi. Pada undisplaced fractures hanya dilakukan imobilisasi dengan elbow fleksi selama tiga minggu.
    2. Fraktur yang disertai pergeseran harus direduksi secepat mungkin, di bawah anestesi umum. Hal ini dilakukan dengan manuver secara metodik dan hati-hati:
      1. Traksi selama 2-3 menit disepanjang lengan tersebut dengan traksi –lawan di atas siku
      2. Koreksi terhadap kemiringan, pergeseran, atau pemuntiran ke samping (dibandingkan dengan lengan di sebelahnya)
      3. Siku difleksikan perlahan-lahan sementara traksi dipertahankan.
      4. Tekanan jari di belakang fragmen distal untuk mengoreksi kemiringan posterior.
      5. Kemudian nadi diraba; jika nadi tidak ada, kendurkan fleksi siku hingga nadi muncul lagi.rontgen dilakukan untuk memastikan reduksi, sambil memeriksa dengan cermat bahwa tidak terjadi angulasi varus atau valgus dan tidak ada deformitas rotasional (tanda-tanda ini dapat terlihat dengan memperhatikan sudut Baumann).
      6. Setelah reduksi, lengan dipertahankan dalam suatu collar dan manset, terus-menerus selama 3 minggu. Setelah itu, diperbolehkan melakukan fleksi siku aktif, tetapi lengan disangga dalam kain gendongan dan ekstensi dihindari selama 3 minggu lagi,.
      7. Traksi kerangka melalui olekranon, dengan lengan yang ditahan di atas, dapat digunakan dalam situasi khusus :
        1. Bila fraktur tidak dapat direduksi dengan manipulasi;
        2. Bila siku berfleksi 90 derajat, nadi hilang; atau
        3. Untuk cidera gabungan yang berat atau cedera ganda pada tungkai. Setelah pembengkakan mereda, usaha selanjutnya dapat dilakukan dengan reduksi tertutup.
        4. Reduksi terbuka kadang-kadang dipilih untuk mengatasi fraktur yang tidak dapat direduksi. Fraktur dibuka (terutama melalui dua insisis, pada kedua sisi siku), hematoma dievakuasi dan fraktur direduksi dan dipertahankan dengan dua kawat kirschner.

 

e. Penatalaksanaan Fraktur dengan Pergeseran Anterior

Fraktur direduksi dengan menarik lengah bawah dengan siku pada posisi semi-fleksi, mwlakukan tekanan jempol pada bagian depan fragmen distal kemudian mengekstensikan siku sepenuhnya. Suatu slab posterior dipasang dan dipertahankan selama 3 minggu. Sesudah itu, dibiarkan untuk memperoleh kembali fleksinya secara berangsur-angsur.

2.2.4.2 Fraktur olekranon

Fraktur memasuki sendi siku, karena itu juga merusak kartilago artikular. Pada fraktur melintang, aponeurosis triseps dapat tetap utuh, dalam hal inifragmen-fragmen fraktur tetap bersama-sama.

  1. a.         Manifestasi klinis

Keluhan nyeri pada siku dengan adanya riwayat trauma akibat pukulan langsung atau jatuh pada siku dan akibat traksi ketika pasien jatuh pada tangan saat otot triseps berkontraksi.

  • Look : pada fase awal cedera pasien terlihat lecet-lecet atau memar pada siku menunjukkan fraktur kominutif ; triseps utuh dan siku dapat diekstensikan melawan gravitasi. Pada fraktur melintang mungkin terdapat celah yang dapat diraba dan siku pasien tak dapat berekstensi melawan tahanan.
  • Feel    : didapatkan adanya nyeri tekan pada siku dan didapatkan celah pada siku
  • Move : ketidakmampuan siku karena adanya nyeri.
  1. b.        Pemeriksaan diagnostik

Pada pemeriksaan rontgen terlihat terputusnya hubungan tulang ulna dan kadang disertai adanya dislokasi siku.

  1. c.         Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada fraktur olekranon kominutif dengan triseps yang tidak cedera dilakukan imobilisasi siku. Lengan diistirahatkan menggunakan mitela selama seminggu, kemudian dilakukan pemeriksaan rontgen  lagi untuk memastikan bahwa tidak terjadi pergeseran kemudian pasien dianjurkan untuk memulai gerakan aktif.

Fraktur melintang yang tak bergeser yang tidak terpisah ketika siku difoto dengan sinar X dalam posisi fleksi dapat diterapi secara tertutup. Siku diimobilisasikan dengan gips pada posisi fleksi sekitar 60 derajat selama 2-3 minggu , kemudian latihan dimulai.

Fraktur yang bergeser  hanya dapat dipertahankan dengan membebat lengan pada posisi yang benar-benar lurus dan kekakuan pada posisi ini akan memberikan komplikasi. Mekanisme ekstensor harus disepakati dengan operasi. Fraktur direduksi dan ditahan dengan sekrup panjang atau dengan pemasangan nail dan K-wire. Mitela dipakai selama 3 minggu dan pasien diajarkan teknik ROM.

2.2.4.3 Trauma areteri brakhialis

Pembuluh darah kecil dapat robek pada saat terjadi fraktur, tetapi hal ini jarang terjadi pada pembuluh darah besar. Walaupun begitu komplikasi akibat trauma dapat menyebabkan sekuele berupa oklusi arteri yang persisten. Arteri besar mudah rusak oleh trauma yang disertai fraktur dan dislokasi. Trauma arteri brakhialis biasanya terjadi pada fraktur humerus dan fraktur suprakondiler humerus tipe ekstensi.

  1. a.    Macam-macam trauma Arteri Brakhialis
  • Terputusnya arteri

Suatu arteri besar dapat terputus secara total atau tidak total oleh fragmen fraktur yang tajam dari dalam, terjadi secara tiba-tiba atau oleh benda yang  menyebabkan penetrasi di dalam jaringan yang berasal dari luar. Robekan areteri yang total biasanya bereteraksi dan menghentikan perdarahan secara spontan, sedangkan robekan yang tidak total cenderung menyebebkan perdarahan sehingga ditemukan hematoma lokal dan sistemik. Robekan areteri tidak total dapat mengakibatkan hematoma pulsasi

  • Spasme arteri

Spasme menetap pada arteri yang disertai oklusi dapat terjadi akibat traksi berat dan tiba-tiba pada arteri besar, pada saat fraktur atau pada waktu pengobatan fraktur. Walaupun arteri tidak terputus, biasanya ditemukan robekan pada intima yang menyebabkan trombosis. Spasme arteri sekunder dapat memisahkan bagian proksimal dan distal arteri kolateral yang mengakibatkan iskemik yang luas pada bagian distal.

  • Penekanan arteri

Penekanan arteri dapat disebabkan secara iatrogenik akibat lilitan gips atau pembalut eksterna yang terlalu kuat dan pembengkakan progresif pada permukaan dalam yang tertutup. Kadang-kadang suatu arteri besar dapat terjerat dan tertekan diantara dua frakmen fraktur. Tanda dan gejala penekanan arteri sama dengan tanda dan gejala kompartemen sindrom yaitu pain, parestesia, pallor, pulselessness, paralisis.

  • Trombosis arteri

Selain trauma arteri yang menyebabkan oklusi persisten, dapat terjadi sekuele berupa trombosis. Arterio sklerosis terjadi karena kerusakan akibat trombosis arteri pasca trauma

  1. b.   Tanda dan gejala trauma arteri

Perdarahan eksterna suatu robekan arteri dapat terlihat secara jelas, sedangkan perdarahan interna hanya berupa pembengkakan lokal yang progresif. Gejala oklusi arteri yang total pada anggota gerak berupa kulit yang pucat pada bagian distal, dingin, hilangnya denyu arteri dan bintik-bintik serta warna hitam pada kulit yang menunjukkan adanya gangren.

Okluasi arteri dapat dideteksi dengan bantuan arteriografi. Okluasi arteri yang tidak total misalnya pada penjepitan vena kompartemen dalam fasia, menjepit arteri yang dalam tapi arteri superfisial tidak terjepit dan menyebabkan iskemia saraf dan otot (iskemik volkman). Oleh karena itu, iskemik volkman diserati nyeri dan iskemia otot, hilangnya sirkulasi perifer, kulit dingin dan pucat, pembengkakan yang luas serta gangguan fungsi saraf perifer berupa parastesia, hipestesia dan paralisis.

Gambaran klinis iskemik volkman berupa nyeri, hilangnya denyutan, pucat, parastesia dan paralisis. Ketegangan pasif otot iskemik misalnya ekstensi pasif jari-jari yang terlihat pada iskemia otot fleksor jari-jari yang akan memperberat nyeri. Analgetik sebaiknya tidak diberikan pada nyeri setelah reduksi fraktur karena dapat mengaburkan adanya iskemik volkman.

  1. c.    Penatalaksanaan trauma arteri

Oklusi pada arteri besar membutuhkan suatu operasi darurat dalam beberapa jam sejak terjadinya trauma bersama-sama dengan iskemik yang bersifat irreversibel. Komplikasi pada pembuluh darah membutuhkan pengobatan yang segera. Urutan pengobatan diatur sebagai berikut :

  1. Setiap penjepitan arteri akibat lilitan pembalut yang terlalu ketat harus dibuka (pembalut jangan hanya dipotong)
  2. Setiap distorsi pada fraktur anggota gerak atau posisi ekstrim dekat persendiaan harus dikurangi
  3. Bila fraktur diobati dengan traksi kontinu, seluruh traksi harus dikurangi
  4. Jika gagal untuk memulihkan sirkulasi perifer yang adekuat dapat dilakukan arteriografi darurat dan bila tidak ada kemajuan dalam 30 menit, maka harus dilakukan eksplorasio arteri.

Pada operasi, jika arteri telah dibuka harus diperbaiki dengan melakukan teknik jahitan langsung. Jika memungkinkan dapat dilakukan vena graft autogenous dan protesis arteri. Jika arteri tertekan dan menyebabkan spasme arteri, alirannya dapat diperbaiki. Trombus pada arteri harus dihilangkan dan jika arteri mengalami memar atau robekan pada intima harus dilakukan pemotongan pada pembuluh darah yang rusak dan dipulihkan dengan gtekhnik jahitan langsung, graft vena atau protesis.

Spasme arteri yang persisten lebih sulit dihilangkan; jika aplikasi lokal dengan papaverin hangat tidak mengurangi spasme, maka bagian yang mengalami kontriksi dapat didilatasi dengan injeksi intra-arterial Nacl fisiologis dari proksimal. Sebagian patogen, pemotongan dan pengikatan ujung arteri serta kolarateralnya akan memulihkan sirkulasi distal terutama pada anak-anak.

Setelah pengobatan komplikasi vaskuler, maka perlu dilakukan fiksasi interna pada fraktur untuk mencegah pergerakan pada daerah arteri yang mengalami trauma.

 

Askep Fraktur Pelvis dan Fraktur Artikulasi Cubitii Part2

Download

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :