NUZULUL ZULKARNAIN HAQ

Nuzulul Zulkarnain Haq

Statistik

My Project

    Download My Project

    Hook FolderLocker 1.0 adalah software security yang berguna untuk mengunci folder penting, folder rahasia, dsb. Pengguna dapat menambahkan password ke dalam folder agar tidak dapat dibuka oleh sembarang orang.Dengan software ini data data anda akan terlindungi dengan aman. Gunakanlah dengan bijak sesuai kebutuhan anda.

    Download : Hook FolderLocker


    Hook Anticopy 2.0 . Pernahkah data di komputer saudara di copy oleh orang lain tanpa seizin dari saudara? pastinya sebel banget dengan orang itu, apalagi kalau data yang dicuri adalah data penting yang gak ingin jatuh ketangan orang lain. nah sekarang saudara ndak perlu kuatir. dengan software ini data saudara ndak akan bisa lagi di copy ke flashdisk, hardisk external, cd dvd , disket , memory, dll.

    Download : Hook AntiCopy


    Onfreeze SMS Gateway 1.3 . Freeware. Size = 455 KB. Program yang berguna untuk mengirim sms masal dengan mudah seperti untuk pengumuman, promosi , dsb lewat komputer. Program ini bersifat freeware. Alat yang dibutuhkan hp GSM atau modem GSM yang terkoneksi ke komputer bisa lewat kabel atau bluetooth.

    Download : OnefreezeSMSgateway


    Portable Webcam 1.0 . Software alternatif untuk memakai webcam, tersedia gratis untuk di pakai simple dan mudah digunakan (286 KB) . Bisa di pakai untuk winXP, Vista, Seven.

    Download : Portable Webcam


Askep Syok Hipovolemik dan Neurogenik

diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 08 June 2017
di Kep Muskuloskeletal - 0 komentar

ASUHAN KEPERAWATAN MULTIPLE VEHICLE TRAUMA

(SYOK HIPOVOLEMIK DAN SYOK NEUROGENIK)

 

 

Disusun oleh :

KELOMPOK 5

Angkatan A 2009 / Kelas B

 

  1. Kinta Astriyati            (130915120)
  2. Opi Diya N.                (130915121)
  3. M. Irdlo Billah            (130915122)
  4. Acintya C. C.              (130915123)
  5. Ikhwan Supyanto        (130915124)
  6. Abd. Holiq                  (130915125)
  7. Yuki Fujiami Y. I.       (130915126)

 

 

 

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

2012

 

 

KATA PENGANTAR

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas Rahmat dan Nikmat-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan lancar dan tepat pada waktunya.

Makalah ini membahas tentang Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik. Jadi asuhan keperawatan merupakan salah satu metode untuk membantu pasien dalam menyelesaiakan masalah yang sedang dihadapi.

            Dalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan beberapa pihak,diantaranya : 

  1. Bu Laily Hidayati S., Kep., Ns., M.Kep., selaku Fasilitator Kelompok 5 Keperawatan Muskuloskeletal 2.
  2. Pihak-pihak yang ikut serta dalam proses pembuatan makalah ini

Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya dalam menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari sebagai manusia kami banyak kekurangan. Oleh karena itu dengan kerendahan hati, kami mohon pembaca berkenan memberikan kritik dan saran demi penyempurnaan pembuatan makalah berikutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi kelompok kami.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

 

                                                                                    Surabaya, November 2012

 

 

Penyusun


 

DAFTAR ISI

 

Halaman judul .............................................................................................          i

Kata Pengantar ............................................................................................         ii

Daftar Isi .....................................................................................................         iii

 

BAB 1 : PENDAHULUAN

1.1          Latar Belakang..............................................................................         1

1.2          Rumusan Masalah ........................................................................         2

1.3         Tujuan ...........................................................................................         3

1.4         Manfaat .........................................................................................         3

 

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA

2.1         KONSEP MULTIPLE VEHICLE TRAUMA 

2.1.1        Definisi ..............................................................................         5 

2.1.2        Faktor yang Mempengaruhi ..............................................         5 

2.1.3        Perlukaan dan Kematian dalam Kecelakaan Lalu Lintas ..         7 

2.2         SYOK HIPOVOLEMIK

2.2.1.      Definisi Syok Hipovolemik ...............................................        10

2.2.2.      Etiologi Syok Hipovolemik  ..............................................        10

2.2.3.      Manifestasi Klinis Syok Hipovolemik  .............................        11

2.2.4.      Tahapan Syok Hipovolemik ..............................................        12

2.2.5.      Patofisiologi Syok Hipovolemik .......................................        13

2.2.6.      WOC Syok Hipovolemik ..................................................        15

2.2.7.      Pemeriksaan Penunjang Syok Hipovolemik ......................        17

2.2.8.      Penatalaksanaan Syok Hipovolemik .................................        18

2.2.9.      Komplikasi Syok Hipovolemik .........................................        28

2.2.10.  Prognosis Syok Hipovolemik ............................................        28

2.3         SYOK NEUROGENIK

2.3.1        Definisi Syok Neurogenik .................................................        29

2.3.2        Etiologi Syok Neurogenik .................................................        30

2.3.3        Manifestasi Syok Neurogenik ...........................................        30

2.3.4        Patofisiologi Syok Neurogenik .........................................        31

2.3.5        WOC Syok Neurogenik ....................................................        36

2.3.6        Pemeriksaan Diagnostik Syok Neurogenik .......................        38

2.3.7        Penatalaksanaan Syok Neurogenik ...................................        38

2.3.8        Komplikasi Syok Neurogenik ...........................................        41

2.3.9        Prognosis Syok Neurogenik ..............................................        41

 

BAB 3 : ASUHAN KEPERAWATAN

3.1         SYOK HIPOVOLEMIK 

3.1.1   Pengkajian ...........................................................................        42

3.1.2   Analisa Data ........................................................................        45

3.1.3   Diagnosa Keperawatan .......................................................        47

3.1.4   Rencana Keperawatan .........................................................        47

3.1.5   Evaluasi ...............................................................................        51

3.2         SYOK NEUROGENIK 

3.2.1   Pengkajian ...........................................................................        51

3.2.2   Diagnosa Keperawatan .......................................................        52

3.2.3   Rencana Keperawatan .........................................................        53

3.2.4   Evaluasi ...............................................................................        57

 

BAB 4 : PENUTUP

4.1         Kesimpulan ...................................................................................        58

4.2         Saran .............................................................................................        58

 

Daftar Pustaka ............................................................................................        59

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Kemajuan di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat yang diikuti dengan peningkatan kebutuhan hidup manusia sehingga menuntut seseorang untuk beraktivitas dengan cepat guna memenuhi kebutuhannya tanpa memikirkan resiko-resiko yang akan dihadapinya. Penyebab trauma pada tulang belakang yang banyak terjadi salah satunya pada pekerja yaitu di kalangan pekerja kasar yang tidak memperhatikan keselamatan kerja, prosedur atau cara kerja yang salah, serta kelalaian dan kurangnya kewaspadaan terhadap pekerjaan cedera sehingga menyebabkan jatuh dari ketinggian atau tertimpa benda-benda keras pada tulang yang mengakibatkan susunan tulang belakang mengalami kompresi dan menyebabkan fraktur.

Diseluruh dunia terdapat 6-20 juta kematian tiap tahun, meskipun penyebab nya berbeda-beda tiap negara.  Jumlah insiden syok semakin semakin meningkat di Indonesia. Tidak jarang kita temui insiden seperti ini. Dinegara maju penyebab terbanyak hipovolemik adalah perdarahan akibat trauma. Sebuah studi menyebutkan bahwa prevalensi insiden trauma di Amerika diperkirakan mencapai 700 hingga 900 kasus tiap satu juta penduduk (200.000 hingga 250.000 orang). Enam puluh persen yang cedera berusia antara 16 sampai 30 tahun dan 80% berusia antara 16 sampai 45 tahun. Laki-laki mengalami cedera empat kali lebih banyak daripada perempuan. Faktor etiologi yang paling sering adalah kecelakaan kendaraan bermotor (45%), terjatuh (21,5%), luka tembak atau kekerasan (15,4%), dan kecelakaan olah raga, biasanya menyelam (13,4%). Lebih kurang 53% dari cedera itu adalah kuadriplegi.

Syok didefinisikan sebagai suatu keadaan tidak adekuatnya perfusi jaringan, Keadaan akut yang menyebar secara luas dimana terjadi penurunan perfusi jaringan dan tidak adekuatnya sirkulasi volume darah intravaskuler yang efektif. Syok merujuk kepada suatu keadaan di mana terjadi kehilangan cairan tubuh dengan cepat sehingga terjadinya multiple organ failure akibat perfusi yang tidak adekuat. Syok paling sering timbul setelah terjadi perdarahan hebat (syok hemoragik). Perdarahan eksternal akut akibat trauma tembus dan perdarahan hebat akibat kelianan gastrointestinal merupakan 2 penyebab syok hemoragik yang paling sering ditemukan. Syok hemoragik juga bisa terjadi akibat perdarahan internal akut ke dalam rongga toraks dan rongga abdomen. Penyebab utama perdarahan internal adalah terjadinya trauma pada organ dan ruptur pada aneurysme aortic abdomen. Syok bisa merupakan akibat dari kehilangan cairan tubuh lain selain dari darah dalam jumlah yang banyak. Contoh syok hipovolemik yang terjadi akibat kehilangan cairan lain ini adalah gastroenteritis refraktrer dan luka bakar hebat. Objektif dari keseluruhan jurnal ini adalah terfokus kepada syok hipovolemik yang terjadi akibat perdarahan dan pelbagai kontroversi yang timbul seputar cara penanganannya.

Resusitasi cairan dan intervensi pembedahan awal merupakan langkah terpenting untuk menyelamatkan pasien dengan trauma yang menimbulkan syok hemoragik. Ini dan beberapa prinsip lain membantu dalam perkembangan garis panduan untuk penanganan syok hemoragik akibat trauma. Akan tetapi, peneliti-peneliti terbaru telah mempersoalkan garis panduan ini, dan hari ini telah timbul pelbagai kontroversi tentang cara penanganan syok hemoragik yang paling optimal. Kita sebagai mahasiswa keperawatan harus mampu mengenal tanda dan gejala syok dan melaksanakan penatalaksanaan pada pasien syok. Sehingga ketika menemukan kasus syok mahasiswa mampu memberikan pertolongan pertama pada klien. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mempelajari tentang syok dan penatalaksaannya.

 

1.2  Rumusan Masalah

Bagaimanakah konsep dan Asuhan Keperawatan pada klien dengan Multiple Vehicle Trauma (Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik) ?.

 

 

1.3  Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum 

Menjelaskan konsep dari Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik dan asuhan keperawatan pada klien dengan Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik

1.3.2 Tujuan Khusus 

  1. Menjelaskan konsep Multiple Vehicle Trauma
  2. Menjelaskan definisi Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik
  3. Menjelaskan etiologi Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik
  4. Menjelaskan manifestasi klinis Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik
  5. Menjelaskan patofisiologi Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik
  6. Menjelaskan WOC Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik
  7. Menjelaskan pemeriksaan penunjang pada Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik
  8. Menjelaskan penatalaksanaan pasien dengan Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik
  9. Menjelaskan komplikasi Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik
  10. Menjelaskan prognosis dari Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik
  11. Menjelaskan asuhan keperawatan pasien dengan Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik

 

1.4  Manfaat

  1. Mengetahui dan memahami konsep Multiple Vehicle Trauma 
  2. Mengetahui dan memahami definisi Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik 
  3. Mengetahui dan memahami etiologi Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik 
  4. Mengetahui dan memahami manifestasi klinis dari Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik 
  5. Mengetahui dan memahami patofisiologi Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik 
  6. Mengetahui dan memahami WOC Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik 
  7. Mengetahui dan memahami pemeriksaan penunjang pada Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik 
  8. Mengetahui dan memahami penatalaksanaan klien dengan Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik 
  9. Mengetahui dan memahami komplikasi dari Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik 

10.  Mengetahui dan memahami prognosis dari Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik 

11.  Mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pasien dengan Syok Hipovolemik dan Syok Neurogenik 

 

 


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 

 

2.1  KONSEP MULTIPLE VEHICLE TRAUMA

2.1.1   Definisi

Kecelakaan adalah serangkaian peristiwa dari kejadian-kejadian yang tidak terduga sebelumnya, dan selalu mengakibatkan kerusakan pada benda, luka atau kematian. Kecelakaan lalu lintas dibagi atas a motor-vehicle traffic accident dan non motor-vehicle traffic accident. A motor-vehicle traffic accident adalah setiap kecelakaan kendaraan bermotor di jalan raya. Non motor-vehicle traffic accident, adalah setiap kecelakaan yang terjadi di jalan raya, yang melibatkan pemakai jalan untuk transportasi atau untuk mengadakan perjalanan, dengan kendaraan yang bukan kendaraan bermotor (Idries AM, 1997).

Berdasarkan Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Tahun 1993 Bab XI :

  1. Pasal 93 Ayat (1): kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak di sangka-sangka dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau pemakai jalan lainnya yang mengakibatkan korban manusia atau kerugian harta benda.
  2. Pasal 93 ayat (2): korban kecelakaan lalu lintas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapat berupa korban mati, koban luka berat dan korban luka ringan (Idries AM, 1997).

 

2.1.2   Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Kecelakaan Lalu Lintas

Ada empat faktor utama yang menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas, antara lain:

  1. Faktor manusia

Faktor manusia merupakan faktor yang paling dominan dalam kecelakaan. Hampir semua kejadian kecelakaan didahului dengan pelanggaran rambu-rambu lalu lintas. Pelanggaran dapat terjadi karena sengaja melanggar, ketidaktahuan terhadap arti aturan yang berlaku ataupun tidak melihat ketentuan yang diberlakukan atau pura-pura tidak tahu.

  1. Faktor kendaraan

Faktor kendaraan yang paling sering terjadi adalah ban pecah, rem tidak berfungsi sebagaimana seharusnya, kelelahan logam yang mengakibatkan bagian kendaraan patah, peralatan yang sudah aus tidak diganti dan berbagai penyebab lainnya. Keseluruhan faktor kendaraan sangat terkait dengan teknologi yang digunakan, perawatan yang dilakukan terhadap kendaraan. Untuk mengurangi faktor kendaraan perawatan dan perbaikan kendaraan diperlukan, di samping itu adanya kewajiban untuk melakukan pengujian kendaraan bermotor secara teratur.

  1. Faktor jalan

Faktor jalan terkait dengan perencanaan jalan, geometrik jalan, pagar pengaman di daerah pegunungan, ada tidaknya median jalan, jarak pandang dan kondisi permukaan jalan. Jalan yang bagus, rata lebih sering terjadi kecelakaan lalu lintas dibandingkan jalan yang rusak/berlubang.

  1. Faktor cuaca

Hari hujan juga mempengaruhi unjuk kerja kendaraan seperti jarak pengereman menjadi lebih jauh, jalan menjadi lebih licin, jarak pandang juga terpengaruh karena penghapus kaca tidak bisa bekerja secara sempurna atau lebatnya hujan mengakibatkan jarak pandang menjadi lebih pendek. Asap dan kabut juga bisa mengganggu jarak pandang, terutama di daerah pegunungan (WHO, 2007).

Trauma pada pengendara sepeda motor atau sepeda juga khas. Sekitar 60-70% korban menderita cedera pada daerah tibia karena bemper mobil tingginya sama dengan tungkai bawah. Selain itu, korban akan terlempar ke jalan atau ke atas dan kepala membentur bingkai atas kaca mobil sehingga terjadi hiperekstensi kepala dengan cedera otak dan cedera tulang leher. Harus juga diingat kemungkinan terjadinya cedera perut pada pengemudi motor; dalam hal ini usus terjepit di antara setang setir dan tulang belakang, namun pada pemeriksaan fisik hanya ada jejas pada baju atau kulit perut. Pembonceng akan mengalami hal yang sama kecuali cedera kemudi sepeda motor (Wim de Jong, 2005).

 

2.1.3   Perlukaan dan Kematian dalam Kecelakaan Lalu Lintas

Kematian dalam kecelakaan lalu lintas dapat terjadi sebagai akibat dari tabrakan atau benturan dari kendaraan. Secara imajinatif semua model dari sarana transportasi mempunyai kemampuan untuk menyebabkan kematian atau kecacatan. Kematian karena kecelakaan lalu lintas dapat dibagi menjadi empat kategori tergantung dari arah terjadinya benturan pada kendaraan, antara lain :

  1. Arah depan 

Ini adalah paling umum, yang kejadiannya kira-kira mencapai 80% dari semua kecelakaan lalu lintas. Tabrakan dari arah depan terjadi bila dua kendaraan/orang bertabrakan yang mana keduanya arah kepala, atau bagian depan dari kendaraan menabrak benda yang tidak bergerak, seperti tembok, ataupun tiang listrik. Sebagai akibat dari energi gerak, penumpang dari kendaraan bermotor akan terus melaju (bila tidak memakai sabuk pengaman pada pengguna mobil). Pola dan lokasi luka akan tergantung dari posisi saat kecelakaan 

  1. Arah samping (lateral) 

Biasanya terjadi di persimpangan ketika kendaraan lain menabrak dari arah samping, ataupun mobil yang terpelintir dan sisinya menghantam benda tidak bergerak. Dapat terlihat perlukaan yang sama dengan tabrakan dari arah depan, bila benturan terjadi pada sisi kiri dari kendaraan, pengemudi akan cenderung mengalami perlukaan pada sisi kiri, dan penumpang depan akan mengalami perukaan yang lebih sedikit karena pengemudi bersifat sebagai bantalan. Bila benturan terjadi pada sisi kanan, maka yang terjadi adalah sebaliknya, demikian juga bila tidak ada penumpang. 

  1. Terguling 

Keadaan ini lebih mematikan (lethal) dibandingkan tabrakan dari samping, terutama bila tidak memakai pelindung kepala (helm), terguling di jalan, sabuk pengaman dan penumpang terlempar keluar mobil. Beberapa perlukaan dapat terbentuk pada saat korban mendarat pada permukaan yang keras. Pada beberapa kasus, korban yang terlempar bisa ditemukan hancur atau terperangkap di bawah kendaraan. Pada kasus seperti ini penyebab kematian mungkin adalah traumatic asphyxia. 

  1. Arah belakang 

Pada benturan dari arah belakang, benturan dikurangi atau terserap oleh bagian bagasi dan kompartemen penumpang belakang (pada pengguna mobil), yang dengan demikian memproteksi penumpang bagian depan dari perlukaan yang parah dan mengancam jiwa (Fintan, 2006).

 

Lima jenis tabrakan yang mungkin terjadi 

  1. Benturan frontal

Merupakan benturan dengan benda didepan kendaraan, yang secara tiba-tiba mengurangi kecepatannya. Benturan kedepan dari tubuh terhadap tungkai dapat mengakibatkan fraktur dislokasi sendi ankle, dislokasi lutut karena femur override terhadap tibia dan fibula, fraktur femur, dislokasi posterior dari femoral head dari asetabulum karena pelvis override femur. Bila roda depan sepeda motor bertabrakan dengan suatu objek dan berhenti maka kendaraan akan berputar ke depan dengan momentum mengarah ke sumbu depan. Pada saat gerakan ke depan ini kepala, dada atau perut pengendara mungkin membentur stang kemudi. Bila pengendara terlempar ke atas melewati stang kemudi, maka tungkainya dapat terbentur dengan stang kemudi, dan dapat terjadi fraktur femur bilateral.

 

 

  1. Benturan lateral

Merupakan benturan pada bagian samping kendaraan yang mengakselerasi penumpang menjauhi titik benturan. Pengemudi yang ditabrak pada sisi pengemudi, mempunyai kemungkinan lebih besar untuk trauma pada sisi kanan tubuhnya, termasuk fraktur iga kanan, trauma paru kanan, trauma hati, dan fraktur skeletal sebelah kanan, termasuk fraktur kompresi pelvis. Pada sepeda motor, benturan dari samping dapat terjadi fraktur terbuka atau tertutup tungkai bawah.

  1. Benturan dari belakang

Pada benturan ini, fraktur dari elemen posterior vertebra sevikalis dapat terjadi, seperti fraktur laminar, fraktur pedikel, fraktur spinous process, dan hal ini disebar ke seluruh vertebra servikal.

  1. Benturan quater panel

Benturan quarter panel, dari depan maupun dari belakang, menyebabkan terjadinya beberapa jenis trauma tabrakan, benturan lateral maupun frontal atau benturan lateral dan benturan dari belakang.

  1. Terbalik

Pada kendaraan yang terbalik, penumpangnya dapat mengenai/terbentur pada semua bagian dari kompartemen penumpang.

  1. Ejeksi

Trauma yang diderita penumpang dapat lebih berat waktu terjadi ejeksi daripada waktu penderita membentur tanah. Kemungkinan trauma meningkat 300% kalau penumpang diejeksi keluar dari kendaraan.

 

Laying the bike down merupakan usaha yang dilakukan untuk menghindari terjepit antara kendaraan dan objek yang akan ditabraknya, pengendara mungkin akan menjatuhkan kendaraanya ke samping, membiarkan kendaraan bergeser dan ia sendiri bergeser dibelakangnya. Bila jatuh dengan cara ini akan dapat terjadi trauma jaringan lunak yang parah (ATLS, 2004).

 

2.2  SYOK HIPOVOLEMIK

2.2.1   Definisi

Syok hipovolemik merujuk keada suatu keadaan di mana terjadi kehilangan cairan tubuh dengan cepat sehingga terjadinya multiple organ failure akibat perfusi yang tidak adekuat (Smeltzer, 2001)

Syok hipovolemik merupakan kondisi medis atau bedah dimana terjadi kehilangan cairan dengan cepat yang berakhir pada kegagalan beberapa organ, disebabkan oleh volume sirkulasi yang tidak adekuat dan berakibat pada perfusi yang tidak adekuat.

 

2.2.2   Etiologi

  • Penyebab trauma dapat terjadi oleh karena trauma tembus atau trauma benda tumpul. Trauma yang sering menyebabkan syok hemoragik adalah sebagai berikut: laserasi dan ruptur miokard, laserasi pembuluh darah besar, dan perlukaan organ padat abdomen, fraktur pelvis dan femur, dan laserasi pada tengkorak.
  • Kelainan pada pembuluh darah yang mengakibatkan banyak kehilangan darah antara lain aneurisma, diseksi, dan malformasi arteri-vena.
  • Kelainan pada gastrointestinal yang dapat menyebabkan syok hemoragik antara lain: perdarahan varises oesofagus, perdarahan ulkus peptikum, Mallory-Weiss tears, dan fistula aortointestinal.
  • Kelainan yang berhubungan dengan kehamilan, yaitu kehamilan ektopik terganggu, plasenta previa, dan solutio plasenta. Syok hipovolemik akibat kehamilan ektopik umum terjadi. Syok hipovolemik akibat kehamilan ektopik pada pasien dengan tes kehamilan negatif jarang terjadi, tetapi pernah dilaporkan.

 

 

Tabel 1. Kondisi Pasien Syok Hipovolemik

Kondisi-kondisi yang Menempatkan Pasien pada Risiko Syok Hipovolemik

kehilangan cairan eksternal

 

 

 

 

 

Perpindahan cairan internal 

Trauma

Pembedahan

Muntah-muntah

Diare

Diuresis

Diabetes Insipidus

Hemoragi internal

Luka bakar

Asites

Peritonitis

Sumber : Smeltzer, 2001

 

2.2.3   Manifestasi Klinis

  1. Agitasi
  2. Akral dingin
  3. Penurunan konsentrasi
  4. Penurunan kesadaran
  5. Penurunan atau tidak ada keluaran urine
  6. Lemah
  7. Warna kulit pucat
  8. Napas cepat
  9. Berkeringat

 

 

2.2.4   Tahapan Syok Hipovolemik

Perbeadaan antara kelas-kelas syok hemoragik mungkin tidak terlihat jelas pada seorang penderita, dan penggantian volume harus diarahkan pada respon terhadap terapi semula dan bukan dengan hanya mengandalkan klasifikasi awal saja. System klasifikasi ini berguna untuk memastikan tanda-tanda dini dan patofisiologi keadaan syok. (ATLS, 2001)

Klasifikasi

Penemuan Klinis

Pengelolaan

Kelas I : kehilangan volume darah < 15 % EBV

Hanya takikardi minimal, nadi < 100 kali/menit

Tidak perlu penggantian volume cairan secara IVFD

Kelas II : kehilangan volume darah 15 – 30 % EBV

Takikardi (>120 kali/menit), takipnea (30-40 kali/menit), penurunan pulse pressure, penurunan produksi urin (20-30 cc/jam)

Pergantian volume darah yang hilang dengan cairan kristaloid (RL atau NaCl 0,9%) sejumlah 3 kali volume darah yang hilang

Kelas III : kehilangan volume darah 30 - 40 % EBV

Takikardi (>120 kali/menit), takipnea (30-40 kali/menit), perubahan status mental (confused), penurunan produksi urin (5-15 cc/jam)

Pergantian volume darah yang hilang dengan cairan kristaloid (NaCl 0,9% atau RL) dan darah

Kelas IV : kehilangan volume darah > 40 % EBV

Takikardi (>140 kali/menit), takipnea (35 kali/menit), perubahan status mental (confused dan lethargic),

Bila kehilangan volume darah > 50 % : pasien tidak sadar, tekanan sistolik sama dengan diastolik, produksi urin minimal atau tidak keluar

Pergantian volume darah yang hilang dengan cairan kristaloid (NaCl 0,9% atau RL) dan darah

Beberapa faktor akan sangat mengganggu penilaian respon hemodinamis terhadap perdarahan, antara lain ;

  1. Usia penderita
  2. Parahnya cedera, dengan perhatian khusus bagi jenis dan lokasi anatomis cederanya
  3. Rentang waktu antar cedera dan permulaan terapi
  4. Terapi cairan pra-rumah sakit dan penerapan pakaian anti syok pneumatic (PSAG)
  5. Obat-obat yang sebelumnya sudah diberikan karena ada penyakit kronis

 

2.2.5   Patofisiologi Syok Hipovolemik

Saat sel-sel tubuh kekurangan pasokan darah dan oksigen, maka kemampuan metabolisme enrgi pada sel-sel tersebut akan terganggu. Metabolisme energi terjadi di dalam sel tempat nutrien secara kimiawi dipecah dan disimpan dalam bentuk ATP (adenosin tripospat). Sel-sel menggunakan simpanan energi ini untuk melakukan berbagai fungsi penting seperti traspor aktif, kontraksi otot, sintesa biokimia, dan melaukan fungsi selular khusus seperti konduksi impuls listrik. ATP dapat disintesa secara aerob (pada adanya oksigen)atau secara anaerob (tanpa adanya oksigen). Meskipun begitu, metabolisme aerob akan menghasilkan jumlah ATP yang jauh lebih besar per mol glukosa dibanding metabolisme anaerob, dan karenanya adalah cara yang lebih efisien dan lebih efektif dalam penghasil energi. Selain itu, metabolisme anaerob mengakibatkan akumulasi produk akhir yang toksik, asam laktat, yang harus dibuang dari sel dan ditranspor ke hepar untuk pengubahan menjadi glukosa dan glikogen.

Pada keadaan syok, sel-sel tidak mendapat pasokan darah yang adekuat dan kekurangan oksigen dan nutrien; karenanya, sel-sel harus menghasilkan energi melalui metabolisme anaerob. Metabolisme ini menghasilkan tingkat energi yang rendah dari sumber nutrien, dan lingkungan intraseluler, yang bersifat asam. Karena perubahan ini, fungsi normal sel menurun. Sel membengkak dan membrannya menjadi lebih permeabel, sehingga memungkinkan elektrolit dan cairan untuk merembes dari dan ke dalam sel. Pompa kalium-natrium menjadi terganggu. Struktur sel (mitokondria dan lisosom) menjadi rusak dan terjadi kematian sel (Hardaway, 1988).

 


2.2.6   WOC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 


2.2.7   Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium awal yang sebaiknya dilakukan antara lain: analisis Complete Blood Count (CBC), kadar elektrolit (Na, K, Cl, HCO3, BUN, kreatinin, kadar glukosa), PT, APTT, AGD, urinalisis (pada pasien yang mengalami trauma), dan tes kehamilan. Darah sebaiknya ditentukan tipenya dan dilakukan pencocokan.

Pemeriksaan Penunjang lainnya:

  • Langkah diagnosis pasien dengan trauma, dan tanda serta gejala hipovolemia langsung dapat ditemukan kehilangan darah pada sumber perdarahan. 
  • Pasien trauma dengan syok hipovolemik membutuhkan pemeriksaan ultrasonografi di unit gawat darurat jika dicurigai terjadi aneurisma aorta abdominalis. Jika dicurigai terjadi perdarahan gastrointestinal, sebaiknya dipasang selang nasogastrik, dan gastric lavage harus dilakukan. Foto polos dada posisi tegak dilakukan jika dicurigai ulkus perforasi atau Sindrom Boerhaave. Endoskopi dapat dilakukan (biasanya setelah pasien tertangani) untuk selanjutnya mencari sumber perdarahan. 
  • Tes kehamilan sebaiknya dilakukan pada semua pasien perempuan usia subur. Jika pasien hamil dan sementara mengalami syok, konsultasi bedah dan ultrasonografi pelvis harus segera dilakukan pada pelayanan kesehatan yang memiliki fasilitas tersebut. Syok hipovolemik akibat kehamilan ektopik sering terjadi. Syok hipovolemik akibat kehamilan ektopik pada pasien dengan hasil tes kehamilan negatif jarang, namun pernah dilaporkan. 
  • Jika dicurigai terjadi diseksi dada karena mekanisme dan penemuan dari foto polos dada awal, dapat dilakukan transesofageal echocardiography, aortografi, atau CT-scan dada. 
  • Jika dicurigai terjadi cedera abdomen, dapat dilakukan pemeriksaan FAST (Focused Abdominal Sonography for Trauma) yang bisa dilakukan pada pasien yang stabil atau tidak stabil. CT-Scan umumnya dilakukan pada pasien yang stabil. 

 

2.2.8   Penatalaksanaan


Diagnosis dan terapi syok harusilakukan secara simultan. Untuk hampir semua penderita trauma, penanganan dilakukan seolah-olah penderita menderita syok hipovolemi, kecuali bila ada bukti jelas bahwa keadaan syok disebabkan oleh suatu etiologi yang bukan hipovolemia. Prinsip pengelolaan dasar yang harus dipegang ialah menghentikan perdarahan dan mengganti kehilangan volume.

Primary Survey

Pemeriksaan jasmani diarahkan kepada diagnosis cedera yang mengancam nyawa dan meliputi penilaian dari ABCDE. Mencatat tanda vital awal (baseline recording) penting untuk memantau respon penderita terhadap terapi. Yang harus diperiksa adalah tanda-tanda vital, produksi urin, dan tingkat kesadaran. Pemeriksaan penderita yang lebih rinci akan menyusul bila keadaan penderita mengijinkan.

A.  Airway (+ lindungi tulang servikal)

B.  Breathing (+ oksigen jika ada)

C.  Circulation + kendalikan perdarahan

  1. Posisi syok 

Angkat kedua tungkai dengan menggunakan papan setinggi ± 45o. 300 – 500 cc darah dari kaki pindah ke sirkulasi sentral. 

Gambar 2. Posisi syok  

  1. Cari dan hentikan perdarahan 
  2. Ganti volume kehilangan darah 

Menghentikan perdarahan (prioritas utama)

  • Tekan sumber perdarahan
  • Tekankan jari pada arteri proksimal dari luka
  • Bebat tekan pada seluruh ekstremitas yang luka
  • Pasang tampon sub fasia (gauza pack)
  • Hindari tourniquet (torniquet = usaha terakhir)

Perdarahan permukaan tubuh ekstremitas lakukan penekanan, gunakan sarung tangan atau plastik sebagai pelindung !

Gambar 3. Perdarahan dan cara menekan perdarahan

 
   

 

   

 

Perdarahan 20 cc/menit = 1200 cc / jam

  1. Pemasangan infus dan pergantian volume darah dengan cairan/darah.
  2. Cari sumber perdarahan yang tersembunyi

Rongga perut (hati, limpa, arteri), rongga pleura, panggul atau pelvis, tulang paha (femur), kulit kepala (anak)

  1. Lokasi dan Estimasi perdarahan
  • Fraktur femur tertutup : 1,5-2 liter
  • Fraktur tibia tertutup : 0,5 liter
  • Fraktur pelvis : 3 liter
  • Hemothorak : 2 liter
  • Fraktur iga (tiap satu) : 150 cc
  • Luka sekepal tangan : 500 cc
  • Bekuan darah sekepal : 500 cc

 

 

Catatan :

  1. Menilai respon pada penggantian volume adalah penting, bila respon mnmal kemungkinan adanya sumber perdarahan aktif yang harus dihentikan, segera lakukan pemeriksaan golongan darah dan cross matched, konsultasi dengan ahli bedah, hentikan perdarahan luar yang tampak (misalnya pada ekstremitas)
  2.  Penggantian darah dapat digunakan darah lengkap (WBC) atau komponen darah merah (PRC). Usahakan jangan memberikan tranfusi yang dingin karena dapat menyebabkan hipotermi.

D. Disability – Pemeriksaan neurologi

Dilakukan pemeriksaan neurologi singkat untuk menentukan tingkat kesadaran, pergerakan mata dan respon pupil, fungsi motorik dan sensorik. Informasi ini bermanfaat dalam menilai perfusi otak, mengikuti perkembangan kelainan neurologi dan meramalkan pemulihan. Perubahan fungsi system syaraf sentral tidak selalu disebabkan cedera intracranial tetapi mungkin mencerminkan perfusi dan oksigenasi otak harus dicapai sebelum penemuan tersebut dapat dianggap berasal dari cedera intracranial.

E.  Exposure – Pemeriksaan lengkap

Setelah mengurus prioritas-prioritas untuk menyelamatkan jiwanya, penderita harus ditelanjangi dan diperiksa dari ubun-ubun sampai ke jari kaki sebagai bagian dari mencari cedera. Bila menelanjangi penderita, sangat penting mencegah hypothermia.

F.  Folley Catheter

Kateterisasi kandung kencing memudahkan penilaian urin akan adanya hematuria dan evaluasi dari perfusi ginjal dengan memantau produksi urin. Darah pada urethra atau prostat dengan letaktinggi, mudah bergerak, atau tidak tersentuh pada laki-laki merupakan kontraindikasi mutlak bagi pemasangan kateter urethra sebelum ada konfirmasi radiografis tentang urethra yang utuh.

G. Gastric Cholic – Dekompresi

Dilatasi lambung seringkali terjadi pada penderita trauma, khususnya pada anak-anak, dan dapat mengakibatkan hipotensi atau disritmia jantung yang tak dapat diterangkan, biasanya berupa bradikardi dari stimulasi syaraf vagus yang berlebihan. Distensi lambung membuat terapi syok menjadi sulit. Pada penderita yang tidak sadar, distensi lambung membesarkan resiko aspirasi isi lambung, ini merupakan suatu komplikasi yang bias menjadi fatal. Dekompresi lambung dilakukan dengan memasukkan selang/pipa kadalam perut melalui hidung atau mulut dan memasangnya pada penyedot untuk mengeluarkan isi lambung. Namun walau penempatan pipa sudah baik, masih memungkinkan terjadi aspirasi.

 

Bidang Kegawatdaruratan

Tiga tujuan penanganan kegawatdaruratan pasien dengan syok hipovolemik antara lain:

  1. Memaksimalkan pengantaran oksigen-dilengkapi dengan ventilasi yang adekuat, peningkatan saturasi oksigen darah, dan memperbaiki aliran darah,
  2. Mengontrol kehilangan darah lebih lanjut, dan
  3. Resusitasi cairan.

 

  1. 1.    Memaksimalkan penghantaran oksigen
  • Jalan napas pasien sebaiknya dibebaskan segera dan stabilisasi jika perlu. Kedalaman dan frekuensi pernapasan, dan juga suara napas, harus diperhatikan. Jika terjadi keadaan patologi (seperti pneumothoraks, hemothoraks, dan flail chest) yang mengganggu pernapasan, harus segera ditangani. Tambahan oksigen dalam jumlah besar dan bantuan ventilator harus diberikan pada semua pasien. Ventilasi tekanan positif yang berlebihan dapat berbahaya pada pasien yang mengalami syok hipovolemik dan sebaiknya dihindari.
  • Sebaiknya dibuat dua jalur intravena berdiameter besar. Hukum Poeseuille mengatakan bahwa aliran berbanding terbalik dengan panjang kateter infus dan berhubungan langsung dengan diameter. Sehingga kateter infus intravena yang ideal adalah pendek dan diameternya lebar; diameter lebih penting daripada panjangnya. Jalur intravena dapat ditempatkan pada vena antecubiti, vena sphena, atau vena tangan, atau pada vena sentralis dengan menggunakan teknik Seldinger. Jika digunakan jalur utama vena sentralis maka digunakan kateter infus berdiameter lebar. Pada anak kurang dari 6 tahun dapat digunakan jalur intraosseus. Faktor yang paling penting dalam melakukannya adalah skill dan pengalaman
  • Pengadaan infus arteri perlu dipertimbangkan pada pasien dengan perdarahan hebat. Untuk pasien ini, infus arteri akan memonitoring tekanan darah secara berkala dan juga analisa gas darah.
  • Pada jalur intravena, cairan yang pertama digunakan untuk resusitasi adalah kristaloid isotonik, seperti Ringer Laktat atau Saline Normal. Bolus awal 1-2 liter pada orang dewasa (20 ml/kgBB pada pasien anak), dan respon pasien dinilai.
  • Jika tanda vital sudah kembali normal, pasien diawasi agar tetap stabil dan darah pasien perlu dikirim untuk dicocokkan. Jika tanda vital membaik sementara, infus kristaloid dilanjutkan dan dipersiapkan darah yang cocok. Jika perbaikan yang terjadi tidak bermakna atau tidak ada, infus kristaloid harus dilanjutkan, dan darah O diberikan (darah tipe O rhesus (-) harus diberikan kepada pasien wanita usia subur untuk mencegah sensitasi dan komplikasi lanjut).
  • Jika pasien kritis dan hipotensi berat (syok derajat IV), diberikan cairan kristaloid dan darah tipe O. Pedoman pemberian kristaloid dan darah tidak diatur, terapi yang diberikan harus berdasarkan kondisi pasien.
  • Posisi pasien dapat digunakan untuk memperbaiki sirkulasi; salah satu contohnya menaikkan kedua kaki pasien sementara cairan diberikan. Contoh lain dari posisi yang bermanfaat adalah memiringkan pasien yang sementara hamil dengan trauma kearah kirinya, dengan tujuan memposisikan janin menjauhi vena cava inferior dan meningkatkan sirkulasi. Posisi Trendelenburg tidak dianjurkan untuk pasien dengan hipotensi karena dikhawatirkan terjadi aspirasi. Posisi Trendelenburg juga tidak memperbaiki keadaan kardiopulmonal dan dapat mengganggu pertukaran udara.
  • Autortransfusi mungkin dilakukan pada beberapa pasien trauma. Beberapa alat diizinkan untuk koleksi steril, antikoagulasi, filtrasi, dan retransfusi darah disediakan. Pada penanganan trauma. Darah yang berasal dari hemothoraks dialirkan melalui selang thorakostomi.

 

  1. 2.    Kontol perdarahan lanjut
  • Kontrol perdarahan tergantung sumber perdarahan dan sering memerlukan intervensi bedah. Pada pasien dengan trauma, perdarahan luar harus diatasi dengan menekan sumber perdarahan secara langsung, perdarahan dalam membutuhkan intervensi bedah. Fraktur tulang panjang ditangani dengan traksi untuk mengurangi kehilangan darah.
  • Pada pasien dengan nadi yang tidak teraba di unit gawat darurat atau awal tibanya, dapat diindikasikan torakotomi emergensi dengan klem menyilang pada aorta diindikasikan untuk menjaga suplai darah ke otak. Tindakan ini hanya bersifat paliatif dan butuh segera dibawa di ruang operasi.
  • Pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal, vasopressin intravena dan H2 bloker telah digunakan. Vasopressin umumnya dihubungkan dengan reaksi negatif, seperti hipertensi, aritmia, gangren, dan iskemia miokard atau splanikus. Oleh karena itu, harus dipertimbangkan untuk penggunaanya secara tetap. H2 Bloker relatif aman, tetapi tidak terlalu menguntungkan
  • Infus somatostatin dan ocreotide telah menunjukkan adanya pengurangan perdarahan gastrointestinal yang bersumber dari varises dan ulkus peptikum. Obat ini membantu kerja vasopressin tanpa efek samping yang signifikan.
  • Pada pasien dengan perdarahan varises, penggunaan Sengstaken-Blakemore tube dapat dipertimbangkan. Alat ini memiliki balon gaster dan balon esofagus. Balon gaster pertama dikembangkan dan dilanjutkan balon esofagus bila perdarahan berlanjut. Penggunaan selang ini dikaitkan dengan akibat yang buruk, seperti ruptur esofagus, asfiksi, aspirasi, dan ulserasi mukosa. Oleh karena alasan tersebut, penggunaan ini dipertimbangkan hanya sebagai alat sementara pada keadaan yang ekstrim.
  • Pada dasarnya penyebab perdarahan akut pada sistem reproduksi (contohnya kehamilan ektopik, plasenta previa, solusio plasenta, ruptur kista, keguguran) memerlukan intervensi bedah.
  • PASG dapat digunakan untuk mengendalikan perdarahan dari patah tulang pelvis atau ekstremitas bagian bawah, namun tidak boleh mengganggu resusitasi cairan cepat. Cukupnya perfusi jaringan menentukan jumlah cairan resusitasi yang diperlukan. Mungkin diperlukan operasi untuk dapat mengendalikan perdarahan internal

 

  1. 3.    Resusitasi Cairan

Apakah kristaloid dan koloid merupakan resusitasi terbaik yang dianjurkan masih menjadi masalah dalam diskusi dan penelitian. Banyak cairan telah diteliti untuk digunakan pada resusitasi, yaitu: larutan natrium klorida isotonis, larutan ringer laktat, saline hipertonis, albumin, fraksi protein murni, fresh frozen plasma, hetastarch, pentastarch, dan dextran 70.

  • Pendukung resusitasi koloid membantah bahwa peningkatan tekanan onkotik dengan menggunakan substansi ini akan menurunkan edema pulmonal. Namun, pembuluh darah pulmonal memungkinkan aliran zat seperti protein antara ruang intertisiel dan ruang intravaskuler. Mempertahankan tekanan hidrostatik pulmoner (< 15 mmHg tampaknya menjadi faktor yang lebih penting dalam mencegah edama paru)
  • Pendapat lain adalah koloid dalam jumlah sedikit dibutuhkan untuk meningkatkan volume intravaskuler. Penelitian telah menunjukkan akan kebenaran hal ini. Namun, mereka belum menunjukkan perbedaan hasil antara koloid dibandingkan dengan kristaloid.
  • Larutan koloid sintetik, seperti hetastarch, pentastarch, dan dextran 70 mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan koloid alami seperti fraksi protein murni, fresh frozen plasma, dan albumin. Larutan ini mempunyai zat dengan volume yang sama, tetapi karena strukturnya dan berat molekul yang tinggi, maka kebanyakan tetap berada pada intravaskuler, mengurangi edema intertisiel. Meskipum secara teoritis menguntungkan, penelitian gagal menunjukkan perbedaan pada parameter ventilasi, hasil tes fungsi paru, lama penggunaan ventilator, lama perawatan, atau kelangsungan hidup.
  • Kombinasi salin hipertonis dan dextran juga telah dipelajari sebelumnya karena fakta-fakta menunjukkan bahwa hal ini dapat meningkatkan kontraktilitas dan sirkulasi jantung. Penelitian di Amerika Serikat dan Jepang gagal menunjukkan perbedaan kombinasi ini jika dibandingkan dengan larutan natrium klorida isotonik atau ringer laktat. Selanjutnya, meski ada banyak cairan resusitasi yang dapat digunakan, tetap dianjurkan untuk menggunakan Ringer Laktat terlebihdahulu,dan pilihan keduayaitu Normal Saline 0,9%.

Area yang lain yang menarik tentang resusitasi adalah tujuan untuk mengembalikan volume sirkulasi dan tekanan darah kepada keadaan normal sebelum control perdarahan.

 

  1. 4.    Medikasi Obat

Tujuan farmakoterapi adalah untuk mengurangi morbiditas dan mencegah komplikasi

Obat Anti Sekretorik : Obat ini memiliki efek vasokonstriksi dan dapat mengurangi aliran darah ke sistem porta.

  1. Somatostatin (Zecnil)

Secara alami menyebabkan tetrapeptida diisolasi dari hipotalamus dan pankreas dan sel epitel usus. Berkurangnya aliran darah ke sistem portal akibat vasokonstriksi. Memiliki efek yang sama dengan vasopressin, tetapi tidak menyebabkan vasokonstriksi arteri koroner. Cepat hilang dalam sirkulasi, dengan waktu paruh 1-3 menit.

  • Dosis

Dewasa : bolus intravena 250 mcg, dilanjutkan dengan 250-500 mcg/jam, infus selanjutnya; maintenance 2-5 hari jika berhasil
Anak-anak Tidak dianjurkan

  • Interaksi

Epinefrin, demeclocycline, dan tambahan hormon tiroid dapat mengurangi efek obat ini.

  • Kontraindikasi

-       Hipersensitifitas

-       Kehamilan

-       Risiko yang fatal ditunjukkan pada binatang percobaan, tetapi tidak diteliti pada manusia, dapat digunakan jika keuntungannya lebih besar daripada risiko terhadap janin.

  • Perhatian

Dapat menyebabkan eksaserbasi atau penyakit kandung kemih; mengubah keseimbangan pusat pengaturan hormon dan dapat menyebabkan hipotiroidisme dan defek konduksi jantung.

  1. Ocreotide (Sandostatin)

Oktapeptida sintetik, dibandingkan dengan somatostatin memiliki efek farmakologi yang sama dengan potensi kuat dan masa kerja yang lama.

Digunakan sebagai tambahan penanganan non operatif pada sekresi fistula kutaneus dari abdomen, duodenum, usus halus (jejunum dan ileum), atau pankreas.

  • Dosis

Dewasa: 25-50 mcg/jam intravena, kontinyu; dapat dilanjutkan dengan bolus intravena 50 mcg; penanganan hingga 5 hari.
Anak-anak : 1-10 mcg/kgBB intravena q 12 jam; dilarutkan dalam 50-100 ml Saline Normal atau D5W.

  • Kontraindikasi

-       Hipersensitivitas

-       Kehamilan

-       Risiko terhadap janin tidak diteliti pada manusia, tetapi telah ditunjukkan pada beberapa penelitian pada binatang.

  • Perhatian

Efek samping yang utama berhubungan dengan perubahan motilitas gastrointestinal, termasuk mual, nyeri abdomen, diare, dan peningkatan batu empedu dan batu kandung kemih; hal ini karena perubahan pada pusat pengaturan hormon (insulin, glukagon, dan hormon pertumbuhan), dapat timbul hipoglikemia, bradikardi, kelainan konduksi jantung, dan pernah dilaporkan terjadi aritmia, karena penghambatan sekresi TSH dapat terjadi hipotiroidisme, hati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal, kolelithiasis dapat terjadi.

Algoritme penatalaksanaan Syok Hipovolemik

Penderita perdarahan

 

Pasang IV line jarum besar +                             catat tekanan darah, nadi,perfusi,

Ambil sample darah                                           produksi urin,

                                                                           Siap transfusi darah 500-1000 ml

Ringer Laktat atau NaCl 0,9%

1000-2000 ml dalam 30-60 menit,

Ulangi sampai 2-4 x lost volume

 (kalau perlu 2  IV line)

 

Hemodinamik naik                                                        Hemodinamik buruk

 

Tekanan darah >100, nadi <100                                  teruskan cairan

Perfusihangat, kering                                              2-4 x lost volume

Urin >1/2 ml/kg/jam             

                                            Hemodinamik baik       Hemodinamik buruk

 

       Evaluasi                                            Evaluasi                    Emergency medikasi

 

2.2.9   Komplikasi Syok Hipovolemik 

  1. Kerusakan ginjal
  2. Kerusakan otak
  3. Gangren dari lengan atau kakièkadang-kadang mengarah ke amputasi
  4. Serangan jantung

2.2.10    Prognosis 

Syok Hipovolemik selalu merupakan darurat medis. Namun, gejala-gejala dan hasil dapat bervariasi tergantung pada:

  1. Jumlah volume darah yang hilang 
  2. Tingkat kehilangan darah 
  3. Cedera yang menyebabkan kehilangan 
  4. Mendasari pengobatan kondisi kronis, seperti diabetes dan jantung, paru-paru, dan penyakit ginjal 

 

2.3  SYOK NEUROGENIK

2.3.1   Definisi 

Hasil dari perubahan resistensi pembuluh darah sistemik ini diakibatkan oleh cidera pada sistem saraf (seperti: trauma kepala, cidera spinal, atau anestesi umum yang dalam). Syok neurogenik, merupakan tipe lain dari syok distributif, yaitu akibat hilangnya tonus simpatik. Kekurangan hantaran toinus simpatik menyebabkan penurunan perfusi jaringan dan inisiasi dari responsyok umum (Linda D. Urden, 2008).

Syok neurogenik disebabkan oleh kerusakan alur simpatik di spinal cord. Alur system saraf simpatik keluar dari torakal vertebrae pada daerah T6. Kondisi pasien dengan syok neurogenik : Nadi normal, tekanan darah rendah ,keadaan kulit hangat, normal, lembab Kerusakan alur simpatik dapat menyebabkan perubahan fungsi autonom normal (Elaine cole, 2009)

Syok neurogenik merupakan kegagalan pusat vasomotor sehingga terjadi hipotensi dan penimbunan darah pada pembuluh tampung (capacitance vessels). Syok neurogenik terjadi karena hilangnya tonus pembuluh darah secara mendadak di seluruh tubuh (Corwin, 2000).

Syok neurogenik juga disebut sinkope. Syok neurogenik terjadi karena reaksi vasovagal berlebihan yang mengakibatkan vasodilatasi menyeluruh di regio splanknikus sehingga perdarahan otak berkurang. Reaksi vasovagal umumnya terjadi pada suhu lingkungan yang panas, terkejut, takut atau nyeri (Jong, 2004). 

 

 

2.3.2   Etiologi 

Neurogenik syok disebabkan oleh beberapa faktor yang menganggu SNS. Masalah ini terjadi akibat transmisi impuls yang terhambat dan hambatan hantaran simpatik dari pusat vasomotor pada otak. Dan penyebab utamanya adalah SCI . Syok neurogenik keliru disebut juga dengan syok tulang belakang. Kondisi berikutnya mengacu pada hilangnya aktivitas neurologis dibawah tingkat cedera tulang belakang, tetapi tidak melibatkan perfusi jaringan tidak efektif  (Linda D. Urden, 2008).

Syok neurogenik merupakan kondisi syok yang terjadi karena hilangnya kontrol saraf simpatis terhadap tahanan vaskular sehingga sebagai akibatnya, muncul dilatasi arteriol dan vena di seluruh tubuh (Duane, 2008).

Penyebab lain antara lain : 

  1. Trauma medula spinalis dengan quadriplegia atau paraplegia (syok spinal).
  2. Rangsangan hebat yang kurang menyenangkan seperti rasa nyeri hebat pada fraktur tulang.
  3. Rangsangan pada medula spinalis seperti penggunaan obat anestesi spinal/lumbal.
  4. Trauma kepala (terdapat gangguan pada pusat otonom).
  5. Suhu lingkungan yang panas, terkejut, takut.
  6. Syok neurogenik bisa juga akibat letupan rangsangan parasimpatis ke jantung yang memperlambat kecepatan denyut jantung dan menurunkan rangsangan simpatis ke pembuluh darah. Misalnya pingsan mendadak akibat gangguan emosional

 

2.3.3   Manifestasi Klinis

Syok distributif yang terjadi dalam bentuk syok neurogenik memiliki manifestasi yang hampir sama dengan syok pada umumnya. Pada syok neurogenik juga ditemukan hipotensi, hanya saja akibat dari berbagai disfungsi saraf otonom (khususnya saraf simpatis) nadi tidaklah bertambah cepat (takikardi), bahkan dapat lebih lambat (bradikardi). Kadang gejala ini disertai dengan adanya defisit neurologis dalam bentuk quadriplegia atau paraplegia. Sedangkan pada keadaan lanjut, sesudah pasien menjadi tidak sadar, barulah nadi bertambah cepat. Karena terjadinya pengumpulan darah di dalam arteriol, kapiler dan vena, maka kulit terasa agak hangat dan cepat berwarna kemerahan (Duane, 2008).

Hampir sama dengan syok pada umumnya tetapi pada syok neurogenik terdapat tanda tekanan darah turun, nadi tidak bertambah cepat, bahkan dapat lebih lambat (bradikardi) kadang disertai dengan adanya defisit neurologis berupa quadriplegia atau paraplegia . Sedangkan pada keadaan lanjut, sesudah pasien menjadi tidak sadar, barulah nadi bertambah cepat. Karena terjadinya pengumpulan darah di dalam arteriol, kapiler dan vena, maka kulit terasa agak hangat dan cepat berwarna kemerahan. (Smeltzer, 2001)

 

Askep Syok Hipovolemik dan Neurogenik Part2

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :