NUZULUL ZULKARNAIN HAQ

Nuzulul Zulkarnain Haq

Statistik

My Project

    Download My Project

    Hook FolderLocker 1.0 adalah software security yang berguna untuk mengunci folder penting, folder rahasia, dsb. Pengguna dapat menambahkan password ke dalam folder agar tidak dapat dibuka oleh sembarang orang.Dengan software ini data data anda akan terlindungi dengan aman. Gunakanlah dengan bijak sesuai kebutuhan anda.

    Download : Hook FolderLocker


    Hook Anticopy 2.0 . Pernahkah data di komputer saudara di copy oleh orang lain tanpa seizin dari saudara? pastinya sebel banget dengan orang itu, apalagi kalau data yang dicuri adalah data penting yang gak ingin jatuh ketangan orang lain. nah sekarang saudara ndak perlu kuatir. dengan software ini data saudara ndak akan bisa lagi di copy ke flashdisk, hardisk external, cd dvd , disket , memory, dll.

    Download : Hook AntiCopy


    Onfreeze SMS Gateway 1.3 . Freeware. Size = 455 KB. Program yang berguna untuk mengirim sms masal dengan mudah seperti untuk pengumuman, promosi , dsb lewat komputer. Program ini bersifat freeware. Alat yang dibutuhkan hp GSM atau modem GSM yang terkoneksi ke komputer bisa lewat kabel atau bluetooth.

    Download : OnefreezeSMSgateway


    Portable Webcam 1.0 . Software alternatif untuk memakai webcam, tersedia gratis untuk di pakai simple dan mudah digunakan (286 KB) . Bisa di pakai untuk winXP, Vista, Seven.

    Download : Portable Webcam


Askep Osteoporosis

diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 08 June 2017
di Kep Muskuloskeletal - 0 komentar

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Masalah usia lanjut dan osteoporosis semakin menjadi perhatian dunia hal ini dilator belakangi oleh meningkatnya usia harapan hidup. Keadaan ini menyebabkan peningkatan penyakit menua yang menyertainya diantaranya osteoporosis. Masalah osteoporosis di Indonesia dihubungkan dengan masalah hormonal pada menopause. Menopause lebih cepat dicapai wanita Indonesia pada usia 48 tahun dibandingkan wanita barat usia 60 tahun. Mulai berkurangnya paparan terhadap sinar matahari, kurangnya asupan kalsium, perubahan gaya hidup seperti merokok, alcohol dan berkurangnya latihan fisik,penggunaan obat steroid jangka panjang serta risiko osteoporosis tanpa gejala klinis.

Menurut WHO (1994), angka kejadian patah tulang (fraktur) akibat osteoporosis di seluruh dunia mencapai angka 1,7 juta orang dan diperkirakan angka ini akan terus meningkat hingga mencapai 6,3 juta orang pada tahun 2050 dan 71% kejadian ini akan terdapat di negara –negara berkembang. Di Indonesia 19,7 % dari jumlah lansia atau sekitar 3,6 juta orang diantaranya menderita osteoporosis (klinik medis, 2008). Lima provisi dengan risiko osteoporosis lebih tinggia adalah Sumatra selatan (27,7%), jawa tengah (24,02%), Yogyakarta (23,5%), Sumatra utara (22,82%), jawa timur (21,42%), Kalimantan timur (10,5%) (depkes,2005). Patah tulang osteoporosis  telah hampir 24% dari ansia yang mengalami patah tulang pinggul meninggal dunia pada tahun pertama sedangkan 50% mempunyai risiko tidak bias melakukan aktivitas seumur hidup dan 25% memerlukan perawatan jangka panjang dan butuh dana yang besar serta tidak akan bias hidup tanpa bantuan orang lain (Lane, 2001 dan Yatim 2000).

Osteoporosis sebenarnya dapat dicegah sejak dini atau paling sedikit ditunda kejadiannya dengan membudayakan perilaku hidup sehat yang intinya mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisi dengan unsure kaya serat, rendah lemak dan kaya kalsium (1000-1200 mg kalsium per hari), berolahraga secara teratur, tidak merokok,dan tidak mengkonsumsi alkohol karena rokok dan alcohol meningkatkan risiko osteoporosis dua kali lipat, namun kurangnya pengetahuan masyarakat yang memadai tentang osteoporosis dan pencegahannya sejak dini cenderung meningkat angka kejadian osteoporosis (Depkes, 2004).

Meilani (2007) dan Ashar (2008) dalam penelitiannya mengenai pengaruh pengetahuan dan upaya lansia terhadap osteoporosis menyatakan bahwa terdapat hubungan substansial antara pengetahuan dan upaya pencegahan dini osteoporosis. Lansia yang kurang pengetahuannya mengenai osteoporosis dan upaya yang kurang tepat mempunyai resiko lebih tinggi untuk meningkatnya derajat osteoporosis, dengan meningkatkan pengetahuan lansia tentang osteoporosis dapat mencegah meningkatnya osteoporosis (Ashar, 2008).

 

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apa definisi dari Osteoporosis?
  2. Bagaimana proses pembentukan tulang?
  3. Bagaimana klasifikasi dari Osteoporosis?
  4. Bagaimana etiologi dari Osteoporosis?
  5. Bagaimana manifestasi klinis dari Osteoporosis?
  6. Bagaimana patofisiologi dari Osteoporosis?
  7. Apa saja pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan pada pasien dengan Osteoporosis?
  8. Bagaimana penatalaksanaan dari Osteoporosis?
  9. Apa saja komplikasi dari Osteoporosis?

10.  Bagaimana prognosis dari Osteoporosis?

11.  Bagaimana woc (web of caution) dari Osteoporosis?

12.  Bagaimana pelaksanaan senam Osteoporosis?

13.  Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan Osteoporosis?

 

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Menjelaskan pengertian dari Osteoporosis, senam osteoporosis dan asuhan keperawatan pada klien dengan Osteoporosis.

1.3.2 Tujuan Khusus

  1. Menjelaskan definisi dari Osteoporosis.
  2. Menjelaskan proses pembentukan tulang.
  3. Menjelaskan klasifikasi dari Osteoporosis.
  4. Menjelaskan etiologi dari Osteoporosis.
  5. Menjelaskan manifestasi klinis dari Osteoporosis.
  6. Menjelaskan patofisiologi dari Osteoporosis.
  7. Menjelaskan pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan pada pasien dengan Osteoporosis.
  8. Menjelaskan penatalaksanaan dari Osteoporosis.
  9. Menjelaskan komplikasi dari Osteoporosis.

10.  Menjelaskan prognosis dari Osteoporosis.

11.  Menjelaskan WOC (web of caution) dari Osteoporosis.

12.  Menjelaskan pelaksanaan senam Osteoporosis.

13.  Menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien dengan Osteoporosis.

 

1.4 Manfaat

Dengan adanya makalah ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami tentang osteoporosis, asuhan keperawatan pada klien dengan osteoporosis dan senam osteoporosis serta mampu mengimplementasikannya dalam proses keperawatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1.       Definisi Osteoporosis

Osteoporosis yang lebih dikenal dengan keropos tulang menurut WHO adalah penyakit skeletal sistemik dengan karakteristik massa tulang yang rendah dan perubahan mikroarsitektur dari jaringan tulang dengan akibat meningkatnya fragilitas tulang dan meningkatnya kerentanan terhadap patah tulang. Osteoporosis adalah kelainan dimana terjadi penurunan massa tulang total (Lukman dan Nurna Ningsih, 2012).

Osteoporosis  adalah suatu keadaan penyakit yang ditandai dngan rendahnya massa tulang dan memburuknya mikrostruktural jaringan tulang, menyebabkan kerapuhan tulang sehingga meningkatkan risiko terjadinya fraktur. Keadaan tersebut tidak memberikan keluhan klinis, kecuali apabila telah terjadi fraktur. Pada osteoporosis, terjadi penurunan kualitas tulang dan kuantitas kepadatan tulang, padahal keduanya sangat menentukan kekuatan tulang sehingga penderita Osteoporosis mudah mengalami patah tulang atau fraktur (Helmi, 2012).

Osteoporosis (pengeroposan tulang) merupakan gangguan metabolic tulang dengan meningkatkan kecepatan resorpsi tulang tetapi kecepatan pembentukannya berjalan lambat sehingga terjadi kehilangan massa tulang. Tulang yang terkena gangguan ini akan kehilangan garam-garan kalsium serta fosfat dan menjadi porous, rapuh serta secara abnormal rentan terhadap fraktur (Kowalak, 2011).

Osteoporosis adalah kelainan di mana terjadi penurunan massa tulang total. Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resorpsi tulang lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, pengakibatkan penurunan masa tulang total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh dan mudah patah; tulang menjadi mudah fraktur dengan stres yang tidak akan menimbulkan pengaruh pada tulang normal (Brunner & Suddarth, 2000).

 

2.2.       Proses Pembentukan Tulang

Modeling   tulang   adalah   suatu   kondisi   saat   proses   resorpsi   dan pembentukan tulang terjadi pada permukaan tulang yang berlainan (pembentukan dan resorpsi tidak berpasangan). Contohnya pada pertambahan panjang dan diameter tulang panjang. Modeling tulang terjadi sejak kelahiran hingga dewasa dan  proses  ini  berperan  dalam  penambahan  massa  dan  perubahan  bentuk kerangka. Pada kondisi ini proses pembentukan tulang lebih dominan terjadi daripada proses resorpsi tulang.

Remodeling tulang adalah pergantian jaringan tulang tua dengan jaringan
tulang muda. Kondisi ini sebagian besar terjadi pada kerangka hewan dewasa
untuk mempertahankan massa tulang. Proses ini mencakup pembentukan dan
resorpsi tulang secara bersamaan (berpasangan). Remodeling merupakan sebuah
proses yang dinamis termasuk penggantian dan pengisian kembali baik tulang
kompak   maupun   trabekular.   Proses   ini   terus-menerus   terjadi   untuk
mempertahankan massa tulang serta integritas dan fungsi kerangka. Proses ini
kompleks dan dikendalikan oleh susunan syaraf pusat melalui hormon dan oleh
tekanan mekanis. Proses ini bergantung pada keterpaduan aksi dari osteoblas,
osteosit, dan osteoklas. Secara bersamaan, ketiga sel ini membentuk BMU (Basic
Multicellular Unit) atau unit remodeling tulang yang berperan dalam proses
remodeling pada hewan dewasa (Mills 2007).

Proses remodeling tulang terjadi dalam beberapa fase (Gambar 1), yaitu:

 

  1. Aktivasi

     pre-osteoklas terstimulasi menjadi osteoklas dewasa yang aktif.

  1. Resorpsi

     osteoklas mencerna matriks tulang tua.

  1. Pembalikan

     akhir dari proses resorpsi, saat osteoklas digantikan oleh osteoblas.

  1. Pembentukan

     osteoblas menghasilkan matriks tulang yang baru.

  1. Fase pasif

osteoblas selesai menghasilkan matriks dan terbenam di dalamnya. Beberapa osteoblas membentuk sederet sel yang berjejer di permukaan tulang yang baru (IPB, tt).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1: Proses remodeling tulang (IOF 2009)

 

2.3.       Klasifikasi Osteoporosis

Menurut Farida Mulyaningsih (2008), osteoporosis diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Osteoporosis Postmenopausal

       Terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam.

  1. Osteoporosis Senilis

       Merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan  usia   dan   ketidakseimbangan   diantara   kecepatan   hancurnya   tulang   dan pembentukan tulang yang baru. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis senilis dan postmenopausal.

  1. Osteoporosis Sekunder

Dialami  kurang  dari 5%   penderita   osteoporosis,   yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan. Penyakit osteoporosis bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan  adrenal)  dan  obat-obatan (misalnya  kortikosteroid,  barbiturat,  anti-kejang  dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan osteoporosis.

  1. Osteoporosis Juvenil Idiopatik

Merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya belum diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang (Mulyaningsih, 2008).

 

 

 

2.4.       Etiologi Osteoporosis

Osteoporosis postmenopause terjadi karena kekurangan estrogen (hormone utama pada wanita), yang membantu mengatur pengankutan kalsium ke dalam tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia dintara 53 – 73 tahun, tetapi bisa muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopause, pada wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada kulit hitam.

Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis yaitu keadaan penurunan massa tulang yang hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasnya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan dua kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis postmenopause dan senilis.

Kurang dari lima persen penderita osteoporosis juga menngalami osteoporosis sekunder, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan. Penyakit ini bisa diakibatkan oleh gagal ginjal kronik dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid, dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturate, antikejang, dan hormone tiroid yang berlebihan). Pemakaian alcohol yang berlebihan dan kebiasaan merokok bisa memperburuk keadaan ini.

Osteoporosis juvenile idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormone yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang (Lukman dan Nurna Ningsih, 2012).

Faktor resiko terjadinya osteoporosis:

1.  Wanita

Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun. Selain itu, wanita pun mengalami menopause yang dapat terjadi pada usia 45 tahun.

2.  Usia

     Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh justru menurun. Pada usia 75-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam mengalami kehilangan tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan kalsium menurun dan fungsi hormon paratiroid meningkat.

3.  Ras/Suku

                        Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia rendah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa dan menghindari produk dari hewan.  Pria dan wanita kulit hitam dan hispanik memiliki risiko  yang signifikan meskipun rendah.

4. Keturunan Penderita Osteoporosis

                        Jika ada anggota keluarga yang menderita osteoporosis, maka berhati-hatilah. Osteoporosis menyerang penderita dengan karakteristik tulang tertentu. Seperti kesamaan perawakan dan bentuk tulang tubuh. Itu artinya dalam garis keluarga pasti punya struktur genetik tulang yang sama.

5.  Gaya Hidup Kurang Baik

  1. Konsumsi daging merah dan minuman bersoda, karena keduanya mengandung fosfor yang merangsang pembentukan horman parathyroid, penyebab pelepasan kalsium dari dalam darah.
  2. Minuman berkafein dan beralkohol.

     Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak. Hal ini dipertegas oleh Dr.Robert Heany dan Dr. Karen Rafferty dari creighton University Osteoporosis Research Centre di Nebraska yang menemukan hubungan antara minuman berkafein dengan keroposnya tulang. Hasilnya adalah bahwa air seni peminum kafein lebih banyak mengandung kalsium, dan kalsium itu berasal dari proses pembentukan tulang. Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin yang menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblas).

  1. Malas Olahraga

     Mereka yang malas bergerak atau olahraga akan terhambat proses osteoblasnya (proses pembentukan massa tulang). Selain itu kepadatan massa tulang akan berkurang. Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot akan memacu tulang untuk membentuk massa.

 

  1. Merokok

     Ternyata rokok dapat meningkatkan risiko penyakit osteoporosis. Perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan. Disamping itu, rokok juga membuat penghisapnya bisa mengalami hipertensi, penyakit jantung, dan tersumbatnya aliran darah ke seluruh tubuh. Kalau darah sudah tersumbat, maka proses pembentukan tulang sulit terjadi. Jadi, nikotin jelas menyebabkan osteoporosis baik secara langsung tidak langsung. Saat masih berusia muda, efek nikotin pada tulang memang tidak akan terasa karena proses pembentuk tulang masih terus terjadi. Namun, saat melewati umur 35, efek rokok pada tulang akan mulai terasa, karena proses pembentukan pada umur tersebut sudah berhenti. 

  1. Kurang Kalsium

     Jika kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang.

6.  Mengkonsumsi Obat

          Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada penyakit asma dan alergi ternyata menyebabkan risiko penyakit osteoporosis. Jika sering dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan mengurangi massa tulang. Sebab, kortikosteroid menghambat proses osteoblas. Selain itu, obat heparin dan anti kejang juga menyebabkan penyakit osteoporosis. Konsultasikan ke dokter sebelum mengkonsumsi obat jenis ini agar dosisnya tepat dan tidak merugikan tulang.

          Tulang adalah jaringan dinamis yang diatur oleh faktor endokrin, nutrisi, dan aktivitas fisik. Biasanya penanganan gangguan tulang terutama osteoporosis hanya fokus pada masalah hormon dan kalsium, jarang dikaitkan dengan olahraga. Padahal, Wolff sejak 1892 menyarankan bahwa olahraga sangatlah penting.

          Osteoporosis (kekeroposan tulang) adalah proses degenerasi pada tulang. Mereka yang sudah terkena perlu berolahraga atau beraktivitas fisik sebagai bagian dari pengobatan. Olahraga teratur dan cukup takarannya tidak hanya membentuk otot, melainkan juga memelihara dan meningkatkan kekuatan tulang. Dengan demikian, latihan olahraga dapat mengurangi risiko jatuh yang dapat memicu fraktur (patah tulang) (Mulyaningsih, 2008).

 

2.5.       Manifestasi Klinis Osteoporosis

  1. Patah tulang
  2. Punggung yang semakin membungkuk
  3. Penurunan tinggi badan
  4. Postur tubuh kelihatan memendek akibat dari Deformitas vertebra thorakalis
  5. Nyeri punggung
  6. Nyeri tulang akut. Nyeri terutama terasa pada tulang belakang, nyeri dapat dengan atau tanpa fraktur yang nyata dan nyeri timbul mendadak
  7. Nyeri berkurang pada saat beristirahat di tempat tidur
  8. Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah bila melakukan aktivitas
  9. Deformitas tulang. Dapat terjadi fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis angular yang menyebabkan medulla spinalis tertekan sehingga dapat terjadi paraparesis
  10. Gambaran klinis sebelum patah tulang, klien (terutama wanita tua) biasanya datang dengan nyeri tulang belakang, bungkuk dan sudah menopause sedangkan gambaran klinis setelah terjadi patah tulang, klien biasanya datang dengan keluhan punggung terasa sangat nyeri (nyeri punggung akut), sakit pada pangkal paha, atau bengkak pada pergelangan tangan setelah jatuh

Kepadatan tulang berkurang secara perlahan (terutama pada penderita osteoporosis senilis), sehingga pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala pada beberapa penderita. Jika kepadatan tulang sangat berkurang yang memnyebabkan tulang menjadi kolaps atau hancur, maka akan tibul nyeri tulang dan kelainan bentuk. Tulang-tulang yang terutama terpengaruh pada osteoporosis adalah radius distal, kaput vertebra terutama mengenai T8-L4, dan kollum femoris.

Kolaps tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang belakang yang rapuh bisa mengalami kolaps secara spontan atau karena cedera ringan. Biasanya nyeri timbul secara tiba-tiba dan dirasaklan di daerah tertentu dari punggung, yang akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan. Jika disentuh, daerah tersebut akan terasa sakit, tetapi biasanya rasa sakit ini akan menghilang secara bertahap setelah beberapa minggu atau beberapa bulan. Jika beberapa tulang belakang hancur, maka akan terbentuk kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang (punuk Dowager), yang menyebabkan terjadinya ketegangan otot dan rasa sakit.

Tulang lainnya bisa patah, yang sering kali disebabkan oleh tekanan yang ringan atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang panggul. Selain itu yang juga sering terjadi adalah patah tulang lengan (radius) di daerah persambungan dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles. Pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung mengalami penyembuhan secara perlahan (Lukman dan Nurna Ningsih, 2012).

Osteoporosis mengakibatkan patah tulang yang paling sering adalah pada punggung, paha, dan lengan bawah. Menurut Susan J. G dialihbahasakan oleh Anton C. W (2001: 205-206), tulang yang pertama kali terkena osteoporosis biasanya pada vertebra spinalis  dan  tipikalnya  mengenai vertebra torakalis bawah dan vertebra lumbalis  atas.  Vertebra  torakalis  menyokong  terjadinya fraktur berbentuk baji, sedangkan fraktur yang remuk sering mengenai vertebra lumbalis.  Fraktur baji vertebra torakalis  membentuk  punuk  wanita  tua  (dowager’s  hump).  Proporsi  lengan  dan tungkai terhadap kerangka aksial tubuh tidak normal dan tampak lebih panjang. Penurunan  tinggi badan karena osteoporosis bisa mencapai 5 sampai 8 inchi. Keadaan ini  dapat  berlangsung  terus, sehingga rongga rusuk bagian bawah menyentuh crista iliaca anterior.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2: Bagian osteoporosis pada punggung

Keterangan: Perubahan kerangka pada osteoporosis pasca-menopause.

Pada bagian  paha,  yang  biasanya  patah  adalah  bagian  leher  femur  dan  trochanterica, dimana  usia  penderita  pada  leher  femur  rata-rata  adalah  75   tahun.   Penderita   patah   tulang trochanterica umumnya berusia lima tahun lebih tua dari penderita pada  leher  femur.  Di  negara maju, masalah patah tulang pangkal paha  sudah  menjadi  masalah  kesehatan  masyarakat.  Patah tulang pangkal paha pada penderita osteoporosis merupakan  salah  satu  komplikasi  yang  serius. Penderita penyakit ini mempunyai risiko 50% tidak bisa melakukan aktivitas seumur  hidup,  25% memerlukan perawatan jangka panjang, dan kematian dalam tahun  pertama  setelah  patah  tulang sebesar 20% (Faisal Yatim, 2000: 3).

Patah tulang lengan bawah terjadi pada bagian distal radius (ujung  tulang,  tepat  sebelum sendi pergelangan  tangan)  yang  biasanya  disebut  Colles  fractures.  Resiko  wanita  mengalami Colles fractures adalah kira-kira 15%, biasanya terjadi  setelah  menopause  tetapi  ada  juga  yang terjadi pada pra-menopause (Prasetyo, tt).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 3: Bagian osteoporosis pada paha dan lengan bawah

          Keterangan: Pada paha yaitu di leher femur dan trochanterica, sedangkan bagian lengan bawah adalah di distal radius. (Prasetyo, tt)

 

 

 

2.6.       Patofisiologi Osteoporosis

Didalam kehidupan, tulang akan selalu mengalami proses perbaharuan. Tulang  memiliki2  sel,  yaitu  osteoklas (bekerja  untukmenyerap  danmenghancurkan/merusak  tulang)  dan  osteoblas (sel  yang  bekerja  untuk membentuk tulang). (Compston, 2002). Tulang  yang  sudah  tua  dan  pernah  mengalami  keretakan,  akan dibentuk kembali. Tulang yang sudah rusak tersebut akan diidentifikasi oleh sel osteosit (sel osteoblas menyatu dengan matriks tulang). (Cosman, 2009) Kemudian terjadi penyerapan kembali yang dilakukan oleh sel osteoklas dan nantinya akan menghancurkan kolagen dan mengeluarkan asam. (Tandra, 2009) Dengan demikian, tulang yang sudah diserap osteoklas akan dibentuk bagian tulang yang baru yang dilakukan oleh osteoblas yang berasal dari sel prekursor di sumsum tulang belakang setelah sel osteoklas hilang. (Cosman, 2009) Proses remodelling tulang tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 4: Siklus remodelling tulang, Cosman, 2009

Menurut Ganong, ternyata endokrin mengendalikan proses remodeling tersebut. Dan hormon yang mempengaruhi yaitu hormon paratiroid (resorpsi tulang menjadi lebih cepat) dan estrogen (resorpsi tulang akan menjadi lama). Sedangkan pada osteoporosis, terjadi gangguan pada osteoklas, sehingga timbul ketidakseimbangan antara kerja osteoklas dengan osteoblas. Aktivitas sel osteoclas lebih besar daripada osteoblas. Dan secara menyeluruh massa tulang pun akan menurun, yang akhirnya terjadilah pengeroposan tulang pada penderita osteoporosis. (Ganong, 2008) Gambar 2.2 menunjukan perbedaan tulang yang normal dan tulang yang sudah mengalami pengeroposan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 5: Tulang Normal dan Keropos

Tulang  terdiri  atas  sel  dan  matriks.  Terdapat  dua  sel  yang  penting  pada pembentukan  tulang   yaitu  osteoclas  dan   osteoblas.   Osteoblas   berperan  pada pembentukan tulang dan sebaliknya osteoklas pada proses resorpsi tulang. Matriks ekstra seluler terdiri atas dua komponen, yaitu anorganik sekitar 30-40% dan matrik inorganik yaitu garam mineral sekitar 60-70 %. Matrik inorganik yang terpenting adalah kolagen tipe 1 ( 90%), sedangakan komponen anorganik  terutama terdiri atas kalsium dan fosfat, disampinh magnesium, sitrat, khlorid  dan karbonat.

Dalam pembentukan massa tulang tersebut tulang akan mengalami perubahan selama kehidupan melalui tiga fase: Fase pertumbuhan, fase konsolodasi dan fase involusi. Pada fase pertumbuhan sebanyak 90% dari massa tulang dan akan berakhir pada saat epifisi tertutup. Sedangkan pada tahap konsolidasi yang terjadi usia 10-15 tahun. Pada saat ini massa tulang bertambah dan mencapai puncak ( peak bone mass ) pada pertengahan umur tiga puluhan. Serta terdapat dugaan bahwa pada fase involusi massa tulang berkrang ( bone Loss ) sebanyak 35-50 tahun

Secara  garis  besar  patofisiologi  osteoporosis  berawal  dari  Adanya  massa
puncak tulang yang rendah disertai adanya penurunan massa tulang. Massa puncak
tulang yang rendah ini diduga berkaitan dengan faktor genetic, sedangkan faktor yang
menyebabkan penurunan massa tulang adalah proses ketuaan, menopause, faktor lain
seperi obat obatan atau aktifitas fisik yang kurang serta faktor genetik. Akibat massa
puncak tulang yang rendah disertai adanya penurunan massa tulang menyebabkan
Densitas tulang menurun yang merupakan faktor resiko terjadinya fraktur.

 

Kejadian osteoporosis dapat terjadi pada setiap umur kehidupan. Penyebabnya
adalah akibat terjadinya penurunan bone turn over yang terjadi sepanjang kehidupan. Satu dari dua wanita akan mengalami osteoporosis, sedangkan pada laki-laki hanya 1
kasus osteoporsis dari lebih 50 orang laki-laki. Dengan demikian insidensi osteoporosis
pada wanita jauh lebih banyak daripada laki-laki. Hal ini di duga berhubungan dengan
adanya fase masa menopause dan proses kehilangan pada wanita jauh lebih banyak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 6: Percepatan Pertumbuhan Tulang

Gambar  diatas  menunjukan  bahwa  terjadi  percepatan  pertumbuhan  tulang,  yang mencapai massa puncak tulang pada usia berkisar 20 - 30 tahun, kemudian terjadi perlambatan formasi tulang dan dimulai resorpsi tulang yang lebih dominan. Keadan ini bertahan sampai seorang wanita apabila mengalami menopause akan terjadi percepatan resorpsi tulang, sehingga keadaan ini tulang menjadi sangat rapuh dan mudah terjadi fraktur.

Setelah usia 30 tahun, resorpsi tulang secara perlahan dimulai akhirnya akan lebih dominan dibandingkan dengan pembentukan tulang. Kehilanga massa tulang menjadi cepat pada beberapa tahun pertama setelah menopause dan akan menetap pada  beberapa tahun  kemudian  pada  masa  postmenopause.  Proses ini  terus berlangsung pada akhirnya secara perlahan tapi pasti terjadi osteoporosis. Percepat osteoporosis tergantung dari hsil pembentukan tulang sampai tercapainya massa tulang puncak.

Massa tulang  puncak ini terjadi sepanjang  awal kehidupan sampai dewasa muda. Selama ini, tulang tidak hanya tumbuh tetapi juga  menjdai solid. Pada usia rata-rata 25 tahun tulang mencapai pembentuk massa tulang puncak. Walaupun demikian massa puncak tulang ini secara individual sangat bervariasi dan pada umumnya pada laki-laki lebih tinggi dibanding pada wanita. Massa puncak tulang ini sangatlah penting, yang   akan   menjadi ukuran   seseorang   menjadi   risiko   terjadinya   fraktur   pada kehidupannya. Apabila massa puncak tulang ini rendah maka akan mudah terjadi fraktur kan saja, tetapi apabila tinggi makan akan terlindung dari ancaman fraktur. Faktor faktor yang menentukan tidak tercapainya massa tulang puncak sampai saai ini belum  dapat  dimengerti  sepenuhnya  tetapi  diduga  terdapat beberapa  faktor  yang berperan,  yaitu  genetik,  asupan  kalsium,  aktifitas  fisik,  dan hormon  seks. Untuk memelihara dan mempertahan massa puncak tulang adalah dengan diet, aktifitas fisik, status reproduktif, rokok, kelebiham konsumsi alkohol, dan beberapa obat (Permana, 2009).

 

2.7.       Pemeriksaan Diagnostic Pada Pasien dengan Osteoporosis

Seseorang yang ingin menentukan terjadinya osteoporosis atau tidak,  biasanya diagnosis  yang  digunakan  yaitu  dengan  pemeriksaan  densitas mineral tulang (DMT) agar mengetahui kepadatan tulang pada orang tersebut. (Hartono, 2004). Untuk menentukan kepadatan tulang tersebut, ada 3 teknik yang biasa digunakan di Indonesia, antara lain :

1.  Densitometri DXA (dual-energy x-ray absorptiometry)

Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang paling tepat dan mahal.
Orang yang melakukan  pemeriksaan ini tidak akan merasakan nyeri dan hanya dilakukan sekitar 5 - 15 menit. Menurut Putri, DXA dapat digunakan pada  wanita  yang  mempunyai  peluang  untuk  mengalami  osteoporosis, seseorang yang memiliki ketidakpastian dalam diagnosa, dan penderita yang memerlukan keakuratan dalam hasil pengobatan osteoporosis. (Putri, 2009).

Keuntungan yang didapatkan jika melakukan pemeriksaan ini yaitu dapat menentukan kepadatan tulang dengan baik (memprediksi resiko patah tulang pinggul) dan mempunyai paparan radiasi yang sangat rendah. Akan tetapi alat ini memiliki kelemahan yaitu membutuhkan koreksi berdasarkan volume tulang (secara bersamaan hanya menghitung 2 dimensi yaitu tinggi dan lebar) dan jika pada saat seseorang melakukan pengukuran dalam posisi yang tidak benar, maka akan mempengaruhi hasil pemeriksaan tersebut. (Cosman, 2009)

Hasil dari DXA dapat dinyatakan dengan T-score, yang dinilai dengan melihat perbedaan BMD dari hasil pengukuran dengan nilai rata-rata BMD puncak. (Tandra, 2009) Hasil dari pemeriksaan BMD dapat dilihat pada gambar 2.3.

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 7: Hasil Pemeriksaan Osteoporosis Berdasarkan BMD

Menurut WHO, kriteria T-score dibagi menjadi 3, yaitu T-score > -1 SD
yang menunjukkan bahwa seseorang masih dalam kategori normal. T-score <-1 sampai -2,5 dikategorikan osteopenia, dan < - 2,5 termasuk dalam kategori osteoporosis, apabila disertai fraktur, maka orang tersebut termasuk dalam osteoporosis berat. (WHO, 1994)

2.  Densitometri US (ultrasound)

Kerusakan yang terjadi pada tulang dapat didiagnosis dengan pengukuran ultrsound, yaitu dengan mengunakan alat quantitative ultrasound (QUS). Hasil pemeriksaan ini ditentukan dengan gelombang suara, karena cepat atau tidaknya gelombang suara yang bergerak pada tulang dapat terdeteksi dengan alat QUS. Jika suara terasa lambat, berarti tulang yang dimiliki padat. Akan tetapi, jika suara cepat, maka tulang kortikal luar dan trabekular interior tipis. Pada beberapa penelitian,menyatakan bahwa dengan QUS dapat mengetahui kualitas tulang, akan tetapi QUS dan DXA sama-sama dapat memperkirakan patah tulang . (Lane, 2003)

Dengan alat ini, seseorang tidak akan terpapar radiasi karena tidak menggunakan sinar X. Kelemahan alat ini, yaitu tidak memiliki ketelitian yang baik (saat dilakukan pengukuran ulang sering terjadi kesalahan), tidak baik dalam mengawasi pengobatan (perubahan massa tulang) (Cosman, 2009).

 

 

3.  Pemeriksaan CT (computed tomography)

Pemeriksaan CT merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium yang dilakukan   dengan   memeriksa   biokimia   CTx (C-Telopeptide).   Dengan pemeriksaan ini dapat menilai kecepatan pada proses pengeroposan tulang dan pengobatan antiesorpsi oral pun dapat dipantau. (Putri, 2009) Kelebihan yang didapatkan jika menggunakan alat ini yaitu kepadatan tulang belakang dan tempat biasanya terjadi patah tulang dapat diukur dengan akurat. Akan tetapi pada tulang yang lain sulit diukur kepadatannya dan ketelitian yang dimiliki tidak baik serta tingginya paparan radiasi. (Cosman, 2009) (Agustin, 2009).

Penilaian langsung densitas tulang untuk memngetahui ada tidaknya osteoporosis dapat dilakukan secara:

  1. Radiologic
  2. Radioisotope
  3. QCT (Quantitative Computerized Tomography)
  4. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
  5. Densitometer (X-ray absorpmetry)

Penilaian osteoporosis secara laboratorik dilakukan dengan melihat patanda biokomia untuk osteoblas, yaitu osteokalsin, prokolagen I peptide dan alkali fosfatase total serum. Petanda kimia untuk osteoklas; dioksipiridinolin (D-pyr), piridinolin (Pyr) Tartate Resistant Acid Phosfotase (TRAP), kalisium urin, hidroksisiprolin dan hidroksi glikosida. Secara bioseluler, penilaian biopsi tulang dilakukan secara histopometri dengan menilai aktivitas osteoblas dan osteoklas secara langsung. Namun pemeriksaan diatas biayanya masih mahal.

 

2.8.       Penatalaksanaan Osteoporosis

  1. PENGOBATAN

Pengobatan osteoporosis di fokus kan kepada memperlambat atau menghentikan kehilangan mineral, meningkatkan kepadatan tulang, dan mengontrol nyeri sesuai dengan penyakitnya. tujuan dari pengobatan ini adalah mencegah terjadinya fraktur (patah tulang).

Penanganan terkini

Secara teoritis osteoporosis dapat diobati dengan cara menghambat kerja osteoklas dan atau meningkatkan kerja osteoblas. Akan tetapi saat ini obat-obat yang beredar pada umumnya bersifat anti resorpsi. Yang termasuk obat antiresorpsi misalnya: estrogen, kalsitonin, bisfosfonat. Sedangkan Kalsium dan Vitamin D tidak mempunyai efek antiresorpsi maupun stimulator tulang, tetapi diperlukan untuk optimalisasi meneralisasi osteoid setelah proses pembentukan tulang oleh sel osteoblas.

  1. Estrogen

Mekanisme estrogen sebagai antiresorpsi, mempengaruhi aktivitas sel osteoblas maupun sel osteoklas, telah dibicarakan diatas. Pemberian terapi estrogen dalam pencegahan dan pengobatan osteoporosis dikenal sebagai Terapi Sulih Hormon (TSH). Estrogen sangat baik diabsorbsi melalui kulit, mukosa vagina, dan saluran cerna. Efek samping estrogen meliputi nyeri payudara (mastalgia), retensi cairan, peningkatan berat badan, tromboembolisme, dan pada pemakaian jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Kontraindikasi absolut penggunaan estrogen adalah: kanker payudara, kanker endometrium, hiperplasi endometrium, perdarahan uterus disfungsional, hipertensi, penyakit tromboembolik, karsinoma ovarium, dan penyakit hait yang berat Beberapa preparat estrogen yang dapat dipakai dengan dosis untuk anti resorpsi, adalah estrogen terkonyugasi 0,625 mg/hari, 17-estradiol oral 1 Ð 2mg/ hari, 17-estradiol perkutan 1,5 mg/hari, dan 17-estradiol subkutan 25 Ð 50 mg setiap 6 bulan.46 Kombinasi estrogen dengan progesteron akan menurunkan risiko kanker endometrium dan harus diberikan pada setiap wanita yang mendapatkan TSH, kecuali yang telah menjalani histerektomi.

Saat ini pemakaian fitoestrogen (isoflavon) sebagai suplemen mulai digalakkan pemakaiannya sebagai TSH. Beberapa penelitian menyatakan memberikan hasil yang baik untuk keluhan defisiensi estrogen, atau mencegah osteoporosis.34 Fitoestrogen terdapat banyak dalam kacang kedelai, daun semanggi.

Ada golongan preparat yang mempunyai efek seperti estrogen yaitu golongan Raloksifen yang disebut juga Selective Estrogen Receptor Modulators (SERM). Golongan ini bekerja pada reseptor estrogen-b sehingga tidak menyebabkan perdarahan dan kejadian keganasan payudara. Mekanisme kerja Raloksifen terhadap tulang diduga melibatkan TGF yang dihasilkan oleh osteoblas yang berfungsi menghambat diferensiasi sel osteoklas.

  1. Bisfosfonat

Bisfosfonat merupakan obat yang digunakan untuk pengobatan osteoporosis. Bifosfonat merupakan analog pirofosfat yang terdiri dari 2 asam fosfonat yang diikat satu sama lain oleh atom karbon. Bisfosfonat dapat mengurangi resorpsi tulang oleh sel osteoklas dengan cara berikatan dengan permukaan tulang dan menghambat kerja osteoklas dengan cara mengurangi produksi proton dan enzim lisosomal di bawah osteoklas. Pemberian bisfosfonat secara oral akan diabsorpsi di usus halus dan absorpsinya sangat buruk (kurang dari 55 dari dosis yang diminum). Absorpsi juga akan terhambat bila diberikan bersama-sama dengan kalsium, kation divalen lainnya, dan berbagai minuman lain kecuali air. Idealnya diminum pada pagi hari dalam keadaan perut kosong. Setelah itu penderita tidak diperkenankan makan apapun minimal selama 30 menit, dan selama itu penderita harus dalam posisi tegak, tidak boleh berbaring. Sekitar 20 Ð 50% bisfosfonat yang diabsorpsi, akan melekat pada permukaan tulang setelah 12 Ð 24 jam. Setelah berikatan dengan tulang dan beraksi terhadap osteoklas, bisfosfonat akan tetap berada di dalam tulang selama berbulan-bulan bahkan bertahuntahun, tetapi tidak aktif lagi. Bisfosfonat yang tidak melekat pada tulang, tidak akan mengalami metabolism di dalam tubuh dan akan diekresikan dalam bentuk utuh melalui ginjal, sehingga harus hati-hati pemberiannya pada penderita gagal ginjal..

Generasi Bisfosfonat adalah sebagai berikut:

1)        Generasi I :  Etidronat, Klodronat

2)        Generasi II:  Tiludronat, Pamidronat, Alendronat

3)        Generasi III: Risedronat, Ibandronat, Zoledronat

Hormon lain: hormon-hormon ini akan membatu meregulasi kalsium dan fosfat dalam tubuh dan mencegah kehilangan jarungan tulang.

1)         Kalsitonin

2)         Teriparatide

 

Kalsium: kalsium dan vtamin D diperlukan untuk meningkatkan kepadatan tulang.

1)         Konsumsi perhari sebanyak 1200-1500 mg (melalui makanan dan suplemen).

2)         Konsumsi vitamin D sebanyak 600-800 IU diperlukan untuk meningkatkan kepadatan tulang.

  1. Latihan pembebanan (olahraga)

Olahraga merupakan bagian yang sangat penting pada pencegahan maupun pengobatan osteoporosis. Program olahraga bagi penderita osteoporosis sangat berbeda dengan olahraga untuk pencegahan osteoporosis. Gerakan-gerakan tertentu yang dapat meningkatkan risiko patah tulang harus dihindari.48 Jenis olahraga yang baik adalah dengan pembebanan dan ditambah latihanlatihan kekuatan otot yang disesuaikan dengan usia dan keadaan individu masing-masing. Dosis olahraga harus tepat karena terlalu ringan kurang bermanfaat, sedangkan terlalu berat pada wanita dapat menimbulkan gangguan pola haid yang justru akan menurunkan densitas tulang. Jadi olahraga sebagai bagian dari pola hidup sehat dapat menghambat kehilangan mineral tulang, membantu mempertahankan postur tubuh dan meningkatkan kebugaran secara umum untuk mengurangi risiko jatuh. Monoklonal antibodi RANK-Ligand.

Seperti diketahu terjadinya osteoporosis akibat dari jumlah dan aktivitas sel osteoklas menyerap tulang. Dalam hal ini secara biomolekuler RANK-L sangat berperan. RANK-L akan bereaksi dengan reseptor RANK pada osteoklas dan membentuk RANK- RANKL kompleks, yang lebih lanjut akan mengakibatkan meningkatnya deferensiasi dan aktivitas osteoklas. Untuk mencegah terjadinya reaksi tersebut digunakanlah monoklonal antibodi (MAbs) dari RANK-L yang dikenal dengan: denosumab. Besarnya dosis yang digunakan adalah 60 mg dalam 3 atau 6 bulan (Kawiyana, 2009).

  1. PENCEGAHAN
    1. a.      Mengurangi asupan protein hewani: Protein hewani meningkatkan kehilangan kalsium.

Studi lintas budaya telah menemukan hubungan yang kuat antara asupan protein hewani dan risiko patah tulang pinggul. Tingginya asupan daging (lima atau lebih porsi per minggu) secara signifikan meningkatkan risiko retak tulang lengan bawah pada perempuan, dibandingkan dengan makan daging kurang dari sekali per minggu. Wanita lansia yang mengkonsumsi sejumlah besar daging kehilangan tulang lebih cepat dan risiko lebih besar terkena retak tulang pinggul.Risiko masalah tulang tampaknya berkurang ketika protein hewani diganti dengan protein dari sumber nabati, terutama kedelai. Dalam studi klinis dengan wanita menopause, makanan kedelai telah ditemukan mencegah keropos tulang. Penelitian telah menunjukkan hubungan positif antara protein kedelai dan kepadatan mineral tulang pada wanita menopause. Hal ini mungkin karena konsentrasi senyawa yang relatif tinggi yang disebut isoflavon dalam protein nabati.

  1. b.      Peningkatan konsumsi buah dan sayuran

Penelitian telah menunjukkan bahwa diet kaya buah-buahan dan sayur-sayuran berkaitan dengan kepadatan mineral tulang lebih tinggi pada pria dan wanita. Asosiasi ini mungkin karena kalium, magnesium, dan vitamin K dalam buah-buahan dan sayuran.

  1. c.       Mengurangi asupan natrium

Beberapa studi telah menemukan bahwa asupan tinggi natrium menyebabkan hilangnya kalsium dari tubuh. Namun, efek dari pembatasan natrium terhadap integritas tulang jangka panjang dan risiko patah tulang masih belum jelas dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

  1. d.      Pola makan rendah lemak

Studi telah menemukan bahwa asupan lemak yang lebih tinggi dikaitkan dengan kehilangan tulang yang lebih besar dan risiko patah tulang lebih besar. Mekanisme yang mungkin meliputi kecenderungan asupan lemak yang berlebihan mengurangi penyerapan kalsium dan mempengaruhi produksi hormon. Secara khusus, asam lemak omega-6 dapat menyebabkan hilangnya tulang dengan mengorbankan pembentukan tulang baru.

  1. e.      Moderasi dalam penggunaan kafein

Penelitian telah menemukan bahwa perempuan yang mengkonsumsi paling banyak kafein telah mempercepat kehilangan tulang belakang dan hampir tiga kali lipat risiko terkena patah tulang pinggul. Resiko kehilangan tulang tampak tertinggi pada wanita yang mengkonsumsi lebih dari 18 ons kopi per hari, atau 300 mg kafein dari sumber lain.

  1. f.       Membatasi suplemen vitamin A

Penelitian telah menunjukkan bahwa asupan vitamin A yang terlalu tinggi, baik dengan makanan atau suplemen, dapat menyebabkan penurunan kepadatan tulang dan peningkatan risiko fraktur pinggul. Asupan sehat dan cukup vitamin A dapat dipastikan dengan beta-karoten dari sumber tanaman, sayuran terutama oranye dan kuning.

  1. g.      Kombinasi suplemen vitamin D dan kalsium

Pada pasien dengan obat-yang menyebabkan osteoporosis, kombinasi dari kedua nutrisi tampaknya bermanfaat signifikan dalam mengurangi kehilangan tulang lebih lanjut. Suplemen vitamin D (500 sampai 800 IU/hari) dan kalsium (1200-1300 mg/hari) juga telah ditemukan meningkatkan kepadatan tulang dan penurunan kehilangan tulang dan risiko patah tulang pada wanita dewasa yang lebih tua. Pasien wanita dengan diagnosa osteoporosis harus mendapatkan asupan kalsium total dari pola makan dan suplemen sekitar 1500 mg/hari dalam dosis terbagi tiga atau lebih, ditambah sedikitnya 400 sampai 800 IU vitamin D setiap hari. Namun, pasien yang tidak berisiko tinggi untuk osteoporosis mungkin tidak memerlukan suplemen kalsium. Hal ini terutama berlaku untuk pria, yang mungkin memiliki peningkatan risiko terkena kanker prostat jika mereka mengkonsumsi terlalu banyak kalsium atau susu.

 

2.9.       Komplikasi Osteoporosi

Komplikasi osteoporosis yang mungkin meliputi:

  1. Fraktur spontan ketika tulang kehilangan densitasnya dan menjadi rapuh serta lemah
  2. Syok, perdarahan, atau emboli lemak (komplikasi fraktur yang fatal) (Kowalak, 2011).

Komplikasi osteoporosis merupakan kondisi sekunder, gejala maupun keadaan lain yang disebabkan oleh osteoporosis. Pada banyak kasus, cukup sulit umtuk membedakan gejala osteoporosis maupun komplikasi osteoporosis sehingga keduanya sering disamakan. Hal ini disebabkan karena osteoporosis disebut dengan silent disease, yang tidak menunjukkan manifestasi klinis berarti sampai munculnya fraktur. Gejala awal dari osteoporosis yang dapat dilihat antara lain rasa sakit punggung yang berat, tinggi badan berkurang dan terjadi kelainan bentuk tulang belakang seperti kifosis.

Berbagai fraktur yang terjadi akibat komplikasi dari osteoporosis antara lain :

  1. Fraktur-lebih dari 1,5 juta orang setiap tahun mengalami osteoporosis di USA
  2. Fraktur vertebrae, sekitar 700.000 orang setiap tahunnya mengalami fraktur ini di USA
  3. Fraktur pinggul, sekitar 300.000 orang terkena fraktur yang dikarenakan osteoporosis di USA
  4. Fraktur pergelangan tangan, sekitar 250.000 fraktur pergelangan tangan dilaporkan di USA.
  5. Fraktur lain, lebih dari 300.000 fraktur tulang lainnya di USA.
  6. Dowager’s hump, kondisi kifosis akibat osteoporosis tingkat lanjut. Spinal vertebrae menjadi keropos dan lemah sehingga menyebabkan fraktur spontan. Proses yang terjadi antara lain: wedge fracture: depan vertebra kolaps, biconcave fracture: bagian medial vertebra kolaps, dan crush fracture: seluruh vertebra kolaps (Wahyuningtyas, 2010).

 

2.10.   Prognosis Osteoporosis

Kondisi kronis merupakan salah satu penyebab utama kecacatan pada pria dan wanita. Kompresi fraktur pada tulang belakang menyebabkan rasa tidak nyaman dan mengganggu pernafasan (Wirasadi, 2010).

 

 

 

 

 

 

 

 

 


2.11.   WOC (web of caution) Osteoporosis

Keturunan Penderita Osteo-porosis

 

Wanita

 

Usia

 

Usia (+)

 

Konsumsi obat

 

Lifestyle

 

Malas Olahraga

 

Ras

 

Kulit putih

 

H. estrogen ↓

 

 

 


 

Daging merah dan minuman bersoda

 

Minuman berkafein dan beralkohol

 

Kurang Ca

 

Merokok

   

OSTEOPOROSIS

 

Penurunan massa tulang

 

Fraktur Femur

 

Tulang menjadi rapuh dan mudah patah

 

MK: Pola nafas tidak efektif

 

dipsnea

 

Insufisiensi paru

 

Relaksasi otot abdominal, perut menonjol

 

Perubahan postural

 

↓ tinggi badan

 

Kifosis progresif

 

Kolaps bertahap tulang vertebra

 

MK: Hambatan mobilitas fisik

 

MK: Ggn citra diri, Ansietas

 

Fraktur Colles

 

Ggn fungsi ekstremitas atas bawah; pergerakan fragmen tulang, spasme otot

 

MK: Nyeri

 

Fraktur kompresi lumbalis

 

Kompresi saraf pencernaan ileus paralitik

 

Konstipasi

 

MK: Ggn eliminasi alvi

 

↓ kemepuan pergerakan

 

MK: Risiko tinggi taruma

 

Deformitas skelet

 

Perubahan postural

 

Fraktur kompresi vertebra torakalis

 

dowager’s  hump

 

Malas Olahraga

 

Mengan-dung fosfor

 

a. Mengeluarkan urin yg mengandung Ca

b. Toksin, menghambat pembentukan massa tulang

 

Melepas Ca dari dalam darah

 

Merang-sang pemben-tukan PTH

 

Fungsi organ tubuh ↓

 

b. Susunan sel tidak kuat

c. darah tersumbat

 

a. Mempercepat penyerapan tulang

b. H. estrogen ↓

c. Ht, Peny. jantung, tersumbatnya aliran darah

 

 

nikotin

 

Struktur genetic tulang yg sama

 

Kesamaan perawakan dan bentuk tulang tubuh

 

Konsumsi Ca, terutama pd wanitanya rendah

 

Resiko besar

 

Penyerapan tulang lebih banyak daripada pembentukan baru

 

Kepadatan massa tulang ↓

 

Menghambat proses pembentukan tulang

 

c. Sulit terjadi proses pembentukan tulang

 

Ca tubuh (−)

 

Kortikosteroid

 

Dikonsumsi dlm jmlh tinggi

 

(-) massa tulang

 

 

Termsuk dari tulang

 

Mengambil Ca dr bag. tubuh lain

 

Tubuh mengeluarkan hormon

 

Massa tulang (-)

 

Menghambat proses osteoblas

 

Ca tubuh (−)

 

Askep Osteoporosis Part2

 

Download

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :